Sinar5news.com – Dalam catatan sejarah Islam, Isra dan Mi’raj adalah peristiwa yang sangat agung. Kita mengenalnya sebagai perjalanan luar biasa Baginda Nabi Muhammad saw yang menembus batas ruang dan waktu. Namun, pernahkah timbul sebuah pertanyaan dalam pikiran kita: Apakah peristiwa ini benar-benar hanya terjadi sekali dalam sejarah dan hanya untuk Nabi saja? Mungkinkah orang biasa seperti kita, yang bukan Nabi, juga bisa merasakan atau mengalaminya?
Sebelum menjawab rasa penasaran itu, coba kita bahas dulu apa yang dimaksud dengan Isra dan Mi’raj. Jadi, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad saw pada suatu malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Sementara Mi’raj adalah perjalanan Nabi naik dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah SWT. Tentu saja, perjalanan ini melibatkan jasad dan ruh sebagai bentuk mukjizat serta keistimewaan luar biasa yang Allah SWT berikan khusus kepada Nabi Muhammad saw.
Jika peristiwa ini adalah mukjizat, bukankah mukjizat hanya milik para Nabi? Di sinilah letak misterinya.
Dalam sebuah kajian atau artikel yang ditulis oleh Ustadz Darmawan Rosyidi, M.Ag, seorang peneliti kajian Islam, dijelaskan bahwa secara makna ruhani, Isra Mi’raj sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja yang telah mencapai derajat “penghambaan sejati”.
Rahasia ini tersembunyi dalam diksi Al-Qur’an. Saat menceritakan Isra (QS. Al-Isra: 1) dan Mi’raj (QS. An-Najm: 5-18), Allah tidak menyebut nama “Muhammad”, melainkan menggunakan sebutan “Hamba-Nya” (asra bi ‘abdihi). Kalau kita merujuk pada sebuah kaidah tafsir terbaru dari Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi, ada sebuah rumus menarik:
“Jika sebuah kisah menyebut identitas tokoh secara spesifik, maka kejadian itu tidak akan terulang. Namun, jika kisah itu tidak menyebut tokoh secara spesifik (menggunakan gelar umum), maka kejadiannya bisa terulang sepanjang zaman.”
Dari sini kita bisa memahami bahwa pengalaman spiritual seperti Isra Mi’raj sangat mungkin dirasakan atau dialami kembali oleh siapa pun yang berhasil mencapai predikat “Hamba Allah”.
Lalu, bagaimana caranya agar kita layak disebut sebagai hamba Allah yang bisa “Mi’raj” secara spiritual? Al-Qur’an dalam Surat Al-Furqan ayat 63-73 memberikan 10 kriteria yang sangat membumi:
1. Punya sifat rendah hati dan membuat orang merasa tenang
2. Selalu membalas keburukan dengan kebaikan
3. Menghidupkan waktu-waktu malamnya dengan beribadah
4. Takut akan azab Allah SWT
5. Mempunyai kepedulian sosial yang tinggi dan selalu berbagi tanpa berlebihan
6. Mempunyai tauhid yang murni dan jauh dari segala bentuk syirik
7. Tidak membunuh dan tidak melakukan perbuatan zina
8. Tidak memberikan kesaksian palsu dan teguh pendirian
9. Cepat dalam merespon perintah Allah ( tidak mageran)
10. Mempersiapkan generasi emas sebagai pelanjut kebaikan.
Ketika kriteria di atas mulai tumbuh di dalam diri kita, maka kita telah layak disebut sebagai hamba Allah yang sejati. Di titik itulah, kita berpotensi mengalami “Isra Mi’raj” dalam bentuk kedamaian batin dan kedekatan ruhani yang luar biasa dengan Sang Pencipta, yakni Allah SWT.
Penulis: Istariadi


