Kita Pernah Lebih Maju Oleh Zulkarnaen

Kita Pernah Lebih Maju Oleh Zulkarnaen

Kekalahan dari tentara Mongol menjadi tanda besar turunnya kedigdayaan peradaban masyarakat Islam. Disebut akhir dari masa keemasan. Kemajuan sains, teknologi, politik, ekonomi, ilmuan, masyarakat madani ada pada masa ini. Ilmuan seperti Ibnu Sina, Alkindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, At-Tusi, Alkhayyam, Alkhawarizmi menjadi bagian dari anak zaman ini.

Keterbukaan masyarakat Islam terhadap peradaban lain adalah salah satu kunci atas terjadinya masa keemasan tersebut. Contohnya adalah bagaimana dinasti Umaiyah mengambil ilmu pengetahuan dari peradaban Yunani, tepatnya ketika invasi ke daerah Transjordania dan Syiria. Mereka menemukan banyak sekali manuskrip-manuskrip kuno yang merupakan hasil kebudayaan para tokoh Yunani seperti Aristoteles, Plato, Gelen dan lain-lain. Secara sederhana mereka melakukan pembacaan. Disinilah Muawiyah terinspirasi untuk membagun peradaban berasaskan ilmu pengetahuan.
Selain dinasti Umaiyah, dinasti Abbasiyah juga tercatat mengambil ilmu pengetahun dari peradaban lain. Dalam hal ini adalah peradaban Persia dan India. Di masa inilah masyarakat Islam mengalami puncak dari masa keemasan, tepatnya pada masa kepemimpinan Harun Al Rasyid dan Al Makmun. Dua pemimpin tersebut dikenal sangat menjunjung tinggi buku, ilmu pengetahuan, sains, logika. Tokoh semacam Al Kindi ada pada masa ini. Hingga mampu mengarang karya sampai 260 karya saking kayanya akses ilmu pengetahuan saat itu.

Namun hari ini berbanding terbalik dimana masyarakat Islam menjadi masyarakat yang tertinggal dengan masyarakat-masyarakat lain. Kondisi masyarakat Islam pasca kalah dari tentara Mongol semakin parah. Kolonialisasi yang dilakukan masyarakat Barat telah menjadikan masyarakat Islam menjadi masyarakat yang terbelakang, bodoh, miskin, tereksploitasi. Hingga kemajuan Islam di masa dianggap hal baru ketika disuarakan oleh cendikiawan muslim beberapa abad terakhir.

Dalam waktu terkahirpun, masyarakat Islam tercatat ada sekitaran 0,005% dari masyarakat Islam yang menyumbang pengembangan ilmu pengetahuan dari jumlah seperempat populasi di dunia. Sedang Inggris yang hanya 1% dari populasi dunia mampu menyumbang 16% pada pengembangan ilmu pengetahuan. Fakta ini kemudian yang menjadi pertanyaan besar ketika Islam sebagai satu-satunya agama yang mewajibkan penganutnya menuntut ilmu. Sekaligus agama yang perintah pertamanya adalah membaca ayat tuhan baik qouliah maupun kauniyah. Islam sedari awal memerintahkan untuk melakukan aktivitas ilmiah. Tak hanya itu, ayat kedua dari wahyu pertama berisikan perintah untuk menulis atau publikasi hasil aktivitas ilmiah tersebut. Tak berlebihan kemudian Abduh menyebut tak menemukan Islam di masyarakat Islam hingga menyebut Islam tertutupi oleh masyarakat Islam sendiri.
Tak hanya itu, Palestina masih begitu nyata menjadi bagian kondisi masyarakat Islam hari ini. Perang saudara antar sesama masyarakat muslim menjadi berita akrab dalam beberapa waktu terahir. Kondisi tersebut sekali lagi menjelaskan kelemahan masyarakat Islam.

Para pemudanya di negara mayoritas Islampun tengah tunduk oleh kebudayaan masyarakat lain hingga terkesan tak beridentitas budaya Islam sendiri.
Menjadi peradaban yang maju sekali lagi membutuhkan waktu yang lebih lama jika diukur dengan kondisi masyarakat Islam terkini. Sebenarnya suara kebangkitan Islam sudah ditabuh sudah cukup lama. Hingga abad 20, suara kebangkitan tersebut masih disuarakan sebagaimana yang dilakukan Abduh. Masyarakat Islam secara umum seperti benar-benar mengalami kemunduran yang kronis hingga cendikiawan muslim masih meyuarakan kebangkitan Islam sampai beberapa abad.
Jika melihat gerakan tokoh Islam di Indonesia pun menunjukkan hal yang sefrekuensi dengan apa yang dilakukan Abduh dan tokoh-tokoh sebelumnya. Muhammadiyah misalnya, gerakan yang dikenal dengan Islam berkemajuannya. Dalam pendidikannya disampaikan betul soal integrasi dunia dan akhirat.

Muhammadiyah dalam intitusi pendidikanya, kurikulumnya, meletakkan keterpaduan antara ilmu yang dapat membantu masyrakat islam sendiri dan tentunya ilmu akhirat. Ilmu dunia diposisikan sebagai alat untuk dapat memakmurkan bumi, sedang ilmu akhirat untuk memastikan arah hidup.
Nahdlatul Wathan, organisasi masyarakat paling berpengaruh di NTB juga melakukan gerakan yang tak jauh beda dengan yang dilakukan Muhammadiyah dan ormas lain. Organisasi NW ini semacam respon terhadap kondisi masyarakat Islam yang tertindas, tertinggal, bodoh, tidak percaya diri. Tidak tanggung-tanggung, pendiri organisasi ini bercita-cita untuk memuliakan Islam dan masyarakat Islam.
Kedua pendiri organisasi tersebut tercatat sebagai tokoh yang ingin membangun peradaban Islam berasaskan Ilmu pengetahuan. Muhammdiyah tercatat memiliki pengelolaan pendidikan yang bagus. Nahdlatul Wathan dalam berbagai karya pendirinya terdapat dorongan untuk berilmu dunia dan akhirat. Dalam sebuah lagu, pendiri NW bahkan menyebut diri sebagai ikhwanusssofa yang merupakan sebuah gerakan keilmuan dari Syi’ah Ismailiyah.

Fenomena-fenomena tersebut merupakan fenomena orang yang mengambil peran dalam memajukan Islam serta masyarakatnya. Fitnah yang dilontarkan kepada Islam sebagai agama teroris, ekslusif, tidak toleran, perang, mereka tak biarkan. Mereka memilih untuk ikut serta dalam memperbaiki citra Islam. Mereka memulainya dari aktivitas ilmu pengetahuan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA