Suatu ketika, Sayyidina Umar, saat jadi khalifah tiba-tiba ndodok-ndeprok (duduk) begitu saja di bawah sebuah pohon. Ditanya sama abdi ndalemnya “Pak Presiden, Njenengan kok di situ ngapain?”
“Nabi dulu pernah di sini, duduk begini. Ya, saya ngikutin Nabi aja,” tegas Umar.
Riwayat yang lain, ketika Umar sedang tawaf dan hendak mencium hajar aswad, ia sempet bilang sama batu hitam itu “Hei Batu Hitam, kamu ini cuma batu, jika Nabi ndak pernah mencium kamu, saya tak sudi melakukannya.” Dan ia luluh mencium batu tersebut.
Anaknya Sayyidina Umar, namanya Abdullah bin Umar. Ya, sahabat yang kalau buka puasa bukan dengan es dawet atau kurma, melainkan dengan bersenggama sama istrinya itu, lho. Pun demikian.
Tiba-tiba, tidak ada angin, tidak ada ingin, ia menuangkan air ke sebuah tempat. Ditanya sama temannya. “Heh, Kang, sampean ngapain kok menuangkan air di situ?.”
“Dulu, pas nabi di sini, beliau menuangkan air di sini. Saya ikut saja.”
Sahabat yang lain, sekaliber Sayyidina Ali juga demikian. Tiba-tiba ia tertawa sampai kelihatan gigi gerahamnya. Ditanya sama sahabat yang lain kenapa ia tertawa, jawabannya “Nabi pernah begini begini begini dan tertawa. Saya sih ikut aja.”
Ada lagi, Anas bin Malik. Santri ndalemnya Nabi yang sukanya ngurusi sandalnya nabi, hingga ia dijuluki sebagai shahibu na’laik/penjaga sandal. Anas bin Malik ini orang miskin, jarang makan daging, sekali makan daging, senengnya ngalah-ngalahi sembarang.
Suatu ketika ia bersama Nabi memakan suguhan, ia melihat Nabi menyingkirkan daging-daging dan memilih memakan waluh, tahu waluh kan? Sejenis labu gitu deh. Melihat hal demikian, Anas bin Malik mengatakan “Sejak saat kejadian itu, saya suka waluh.” Dari sini, ada riwayat yang menyatakan bahwa buah kesukaan nabi itu bukan kurma, tapi Waluh, Semangka, dan Krai atau mentimun.
Hayo? Mau cari-cari alasan kenapa ketiga buah itu? Sahih atau tidak, cari moral ethicnya, asbabul wurudnya, kontekstualisasinya? Hihihihi…
Satu, dua, tiga, empat… cukup ya contohnya, empat sahabat.
Walhasil, kalau kita mau buka-buka kitab hadis yang seabreg dan gedene sak boto-boto itu, buuuanyak sekali riwayat-riwayat yang menceritakan hal-hal “konyol” yang dilakukan para sahabat Nabi. Demi apa? Ya jelas demi mengikuti seseorang yang mereka cintai; Kanjeng Rasul Muhamamad.
Ada tiga hal yang harus dijelaskan di sini; simak baik-baik, jangan simak yang buruk-buruk.
Pertama, kita tahu sayyidina Umar bin Khatab itu sahabat yang paling banyak membuat bid’ah dalam Islam. Misalnya, ia ndak mau dipanggil khalifatu Rasulillah (penggantinya rasul), ia maunya dipanggil Amirul Mukminin (Panglimanya para Mukmin) saja, salat Tarawih 20 raka’at, Kuda wajib dizakati, ghanimah seperlima, jilid 80 kali bagi peminum khamr. Dalam wilayah hukum, itu semua bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar.
Oleh karenanya tak ayal, jika Umar ini didapuk sebagai bapak penggagas maqashid syariah. Siapapun dan buku apapun kalau mau bahas tentang maqashid syariah ini kok tidak ngutip Sayyidina Umar, wah, diragukan argumennya secara historis.
Sekarang sederhananya begini, jika persoalan ijtihad saja, Umar berani melakukan hal sedemikian luar biasa, kenapa persoalan ndodok-ndeprok di bawah pohon yang terkesan konyol dan mencium batu yang hanya begitu itu dilakukan sama Umar?. Apa nilai-nilai moral ethic di dalam kendondokan dan kendeprokan Umar di bawah pohon? Tidak ada. Sekali lagi tidak ada moral itik-itikan, semua itu adalah wujud cintanya kepada Kanjeng Rasul.



