KHUTBAH JUMAT EDISI, 7 AGUSTUS 2020 TIPS MENJADI PRIBADI YANG ISTIQOMAH

KHUTBAH JUMAT EDISI, 7 AGUSTUS 2020 TIPS MENJADI PRIBADI YANG ISTIQOMAH

 

بِسْمِ اللهِ وَبـِحَمْدِهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى ، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَاَيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نـَهْضَةَ الْوَطَنِ فِى الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kaum muslimin sidang jamaah jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Puji dan syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah Robbul’izzati, Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita yaitu baginda nabi besar Muhammad SAW. Juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri saya dan kepada seluruh jamaah, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa yaitu melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kaum muslimin sidang jamaah jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Kata istiqomah kerapkali kita dengar secara replek dari orang-orang yang ada disekitar kita dan sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari terutama bagi umat Islam yang ingin selalu istiqamah dalam segala hal yang baik, positif dan bermanfaat.

Setelah kita lacak dalam berbagai literatur yang ada ternyata kata istiqomah ini berasal dari bahasa arab yang artinya tegak dan lurus. Dari makna ini dapat kita maknai istiqomah itu adalah sikap tegak dalam pendirian dan lurus dalam tindakan. Lalu pendirian apa yang kita tegakkan dan tindakan lurus apa yang kita lakukan? Tentu pendirian yang bernilai kebenaran dan lurus dalam setiap tindakan baik berupa hati, pikiran, lisan maupun sikap yang dilakukan secara sungguh-sungguh, konsekwen, tidak angin-anginan dan berlaku sepanjang masa hingga ajal menjemput. Untuk lebih memantapkan makna istiqamah ini, perhatikanlah firman Allah dalam surat Hud 112 dan Fushshilat 30 :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya : “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Hud 11:112)

Kaum muslimin sidang jamaah jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Memang untuk dapat mencapai tingkat istiqomah dan menjadi karakter dalam hidup, sangatah berat, tidak semua orang dapat mencapainya. Ada orang yang awalnya istiqomah namun ditengah perjalanan istiqomahnya hilang. Ada orang awalnya tidak istiqomah kemudian ditengah perjalanan istiqomah lalu mendekati kamatian ternyata hilang istiqomahnya. Ada orang tidak pernah istiqomah tapi menjelang ajal bisa istiqomah. Ada orang mulai aqil balig sampai akhir hidup tetap istiqomah.

Diantara ke empat tingkat istiqomah tersebut ada dua yang lulus yaitu nomor tiga dan empat. Dan tingkat istiqomah yang paling tinggi adalah nomor empat, ini adalah tingkat istiqomah para nabi dan para wali. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti keistiqomahan mereka walaupun sangat berat.

Kaum muslimin sidang jamaah jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Pada khutbah jumat edisi kali ini, khatib akan menyampaikan 5 tips yang bisa kita ikhtiarkan untuk menjadi pribadi yang selalu istiqomah hingga akhir kematian nanti yaitu;

Pertama niat. Niat itu keinginan yang sangat kuat dari dalam hati untuk selalu istiqomah dalam menjalankan syari’at Islam.

Segala apapun di dunia ini berawal mula dari niat, kalau niat kita salah maka salah pula akibatnya dan berakhir pada kerugian yang nyata. Tetapi sebaliknya jika niat kita benar, maka akan berdampak positif bagi kebaikan hidup kita dari dunia sampai akhirat nanti. Sama halnya dengan sikap istiqamah ini, bila benar-benar berniat untuk selalu istiqamah, maka keistiqamahan itu akan terwujud secara nyata dan berdampak positif bagi keteguhan dalam memegang prinsip dan nilai-nilai ajaran Islam yang berlandaskan Al Quran dan Hadits Nabi.

Kedua riyadhah. Riyadhah adalah berlatih secara terus menerus sampai istiqomah ini menjadi karakter yang melekat dalam diri pribadi kita.Tidak mungkin pribadi istiqomah ini akan menjadi karakter yang permanen, tanpa melalui latihan yang panjang dan melelahkan.

Contoh untuk dapat beribadah shalat tepat waktu dan berjamaah butuh latihan yang tidak ringan. Demikian juga puasa, membaca Al Quran, sedekah dan lain-lain, semua ajaran Islam itu dapat terlaksana secara baik dan maksimal melalui proses latihan secara terus menerus, karena akan banyak mendapatkan tantangan, ujian dan godaan baik dari setan maupun hawa nafsu.

Ketiga perdalam ilmu kita tentang keutamaan istiqomah. Ini penting diperhatikan, makin paham tentang keutamaan istiqomah, maka makin termotivasi untuk mencapainya. Bila kita melihat keutamaan istiqomah itu, tidak kurang dari 15 keutamaan yang akan kita dapatkan diantaranya dapat menenangkan batin, amalan yang dicintai Allah, merupakan ciri dasar orang mukmin, mendapat jalan yang lurus, dilapangkan rizki, wujud bersyukur atas nikmat Allah dan lain-lain.

Saking tingginya kutamaan istiqomah ini sampai-sampai ada pepatah arab yang sangat terkenal dan ini sering disampaikan oleh para ulama dan guru-guru kita :

اَلْإِسْـتِقَـامَةِ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ # ثُبُــوْتُ الْكـَـرَامَةِ بـِدَوَامِ

Artinya : “Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga Istiqamah”.

Keempat banyak bergaul dengan orang shalih, sehingga terbimbing keistiqomahan kita. Biasanya manusia itu sangat mudah terpengaruh oleh pergaulan dan ini sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat. Apabila kita bergaul dengan orang-orang shalih yang senantiasa istiqomah dalam kebaikan, maka nilai keistiqomahan akan menular kepada kita. Tetapi sebaliknya bila kita bergaul dengan orang-orang yang salah dan malas-malasan dalam beribadah dan berbuat kebaikan, maka cepat atau lambat kitapun akan terpengaruh oleh perilaku mereka yang negative itu. Na’udzubillahi mindzalik.

Kelima banyak berdoa kepada Allah agar selalu istiqomah sampai akhir hayat. Ini adalah cara yang paling menentukan untuk dapat menggapai pribadi yang istiqomah dalam melaksanakan nilai-nilai kebaikan dari ajaran Islam. Karena ternyata istiqomah ini sangat berat untuk dilakukan, sampai-sampai dalam satu riwayat Nabi sendiri mengalami uban pada rambutnya, saking beratnya yang namanya istiqomah terutama istiqomah dalam beriman kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Ada satu doa yang pernah diajarkan oleh seorang tokoh pahlawan nasional dan ulama besar yaitu Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasi Nahdlatul Wathan di Lombok NTB. Diantara isi doa ini adalah memohon kepada Allah agar menjadi hamba yang senantiasa istiqomah hingga akhir kematin nanti :

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْاَلُكَ اْلاِسْتِقَامَةَ وَاْلاِخْلاَصَ وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَسَلاَمَة َالدَّارَيْنِ وَاحْفَظْنَا مِنَ اْلاٰفَاتِ الدُّنْيَا وَاْلاٰخِرَةِ.

“Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar selalu istiqomah, ikhlas, husnul khotimah, selamat dan terpelihara dari siksa dunia dan siksa akhirat”

Semoga khutbah singkat yang khotib sampaikan ini dapat menjadi bekal terbaik untuk dapat meraih pribadi yang istiqomah dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Bekasi, 16 Dzulhijjah 1441 H/6 Agustus 2020 M

Penulis : Marolah Abu Akrom

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA