Jalinan Persahabatan Bagian dari Sunnah Nabi SAW

Jalinan Persahabatan Bagian dari Sunnah Nabi SAW

Sinar5news.com – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata sahabat mengandung arti kawan, teman, handai. Sedangkan persahabatan adalah perihal bersahabat, perhubungan selaku sahabat.
Sementara itu dalam Bahasa Arab kata sahabat diambil dari akar kata Sahiba yang memiliki arti menyertai.

Berangkat dari arti kata sahabat dalam KBBI dan Bahasa Arab tersebut, setidaknya kita memiliki gambaran bahwa persahabatan merupakan suatu hubungan baik antara dua orang atau lebih yang saling mendukung satu sama lain dalam memggapai tujuan bersama.

Dalam Al-Quran sendiri Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk saling mengenal agar terjalin suatu hubungan baik antara satu dengan yang lain. Bahkan Allah SWT sengaja menciptakan manusia dengan jenis dan latar belakang yang berbeda-beda agar mereka bisa saling mengenal.

Hal itu tergambar dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”.

Saat ini kita hidup di zaman modern (era teknologi), amat jauh berbeda dengan kondisi kehidupan puluhan hingga ratusan tahun yang lalu dimana kehidupan manusia masih amat sederhana, tidak secanggih hari ini. Orang dulu untuk mengenal satu sama lain harus keluar dari rumahnya, aktif dalam aktifitas sosial bahkan menempuh perjalanan jauh untuk saling mengenal antar suku, ras yang satu dengan yang lain.

Namun bebeda jauh dengan kondisi kehidupan hari ini yang begitu mudah untuk menemukan apa yang diinginkan. Orang-orang masa kini, cukup dengan duduk sambil berbaring di kamar dia bisa menemukan kenalan, teman akrab karena kecanggihan teknologi. Bahkan tidak sedikit pasangan muda mudi menjalin hubungan hingga ke jenjang Pernikahan hanya berbekal berkenalan melalui Media Sosial (Facebook, Instagram, Twitter, Whaatshap) dll. Itulah kenyataan yang menunjukkan peradaban manusia yang terus berubah-ubah oleh keadaan zaman.

Kendati demikian perbedaannya, namun intinya adalah kita dianjurkan untuk saling mengenal satu sama lain, menjalin hubungan yang baik sehingga tercipta kehidupan yang damai, rukun dan harmonis di tengah-tengah kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Dalam sebuah Hadist dijelaskan:
“Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal menimbulkan perselisihan.” (HR. Muslim).

Hadist ini memberikan gambaran bahwa perselisihan yang terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat yang berujung pada perpecahan merupakan akibat dari tidak saling mengenal antara satu dengan yang lain. Seringkali kita berprasangka buruk terhadap orang lain, lantaran tidak mengenal dengan baik tentang dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu jalinan persahabatan yang baik amatlah penting untuk dilakukan.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan: Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari.

Dalam Islam telah di atur bagaimana seharusnya kita memilih teman atau sahabat yang baik. Karena bagaimanapun seorang sahabat sangatlah berpengaruh dalam kehidupan setiap orang. Sehingga ada ungkapan yang menyatakan “jangan tanyakan dimana dia lahir tapi tanyakan bersama siapa dia bergaul”.

Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist ini setidaknya memberi kita petunjuk bahwa memilih teman atau sahabat hendaknya memenuhi kriteria yang baik, diantaranya:
1. Beriman kepada Allah SWT
2. Memiliki ahlak dan perangai yang baik dalam tutur kata maupun perilakunya
3. Senantiasa mengajak dan mengingatkan dalam kebaikan dan beramal sholeh
4. Ringan tangan pada saat dibutuhkan
5. Senantiasa mendoakan di waktu senang maupun susah

Dari lima poin kriteria tersebut, tentu belumlah seutuhnya mewakili kriteria yang sempurna namun setidaknya dapat mewakili kriteria-kriteria yang ada dan menjadi salah satu pilihan alternatif bagi para pembaca dalam memilih seorang teman atau sahabat.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin menyampaikan pesan berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib Karamullah Wajhah, beliau berkata: “Seorang teman tidak bisa disebut sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga keadaan. Pada saat kamu membutuhkannya, bagaimana sikap yang ia tunjukkan di belakangmu, dan bagaimana sikapnya setelah kematianmu”.

Mataram Monjok
Sabtu, 2 April 2022

Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I
✍️ Guru PAI SDN 33 Mataram / Wakil Ketua V PW Pemuda NWDI NTB

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA