Islam Kebangsaan Dan Transformasi Sosial

banner post atas


OLEH : Kanda Ahmad Hadi Ramdhani,
Mayoritas ulama’ sepakat bahwa hukum mendirikan negara itu adalah fardu kifayah dalam sunni. Tetapi bentuk negara itu entah itu monarki,faderal,republic dll tidak dibahas dalam nas-nash hadist. Sedangkan menurut gusdur (assilmi kaffah) ditafsirkan sebagai entitas kelompok, Ketika asilmi itu merujuk kepada entitas maka membentuk negara itu hukumnya wajib. Perbedaaan pendapat ini menggambarkan tentang pentingnya membentuk negara.
Ada banyak sekali paradigma yang bergembang dalam kehidupan bermasyarakat diberbagai Negara waktu itu, mulai dari paradigma yang berkembang di Arab Saudi dimana hanya negara yang berhak mengatur, kemudian ada paradigma yang berkembang di Turki dimana perempuan tidak boleh berjilbab di ruang public, dan paradigma yang berkembang di Asia Tenggara seperti Indonesia yang bukan termasuk negar agama tapi menganut sistem monoteis
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia Soekarno menginginkan agar agama dan negara harus dipisah, begitu juga dengan Muhammad Hatta. Namun, salahh satu organisasi masyarkat yakni Masyumi menginginkan agar islam menjadi payung bernegara. Hingga akhirnya setelah perdebatan panjang menghasilkan kesepakatan bahwa islam bisa masuk ke konsep bernegara.
Islam kebangsaan memberikan pengertian antara relasi negara dan agama sebagai satu kesatuan sehingga 2 hal ini tidak bisa dipisahkan, antara agama dan negara adalah 2 hal yang berbeda namun memiliki hubungan simbiotik yaitu saling menguntungkan, antara agama dan negara adalah sesuatu yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan. Islam kebangsaan menanamkan nilai-nilai keislaman dalam keberislaman negara, namun yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah konsep islam kebangsaan tersebut sudah cukup tepat jika digunakan sebagai konsep keberislaman orang Lombok/Nw atau tidak? Selain itu, ternyata munculnya islam nusantara dalam sumpah palapa, dalam Islam nusantara (lokalitas jawa) juga menjadi sebuah konsepsi tentang keberislaman dalam bentuk negara.
Nasionalisme dalam konteks eropa lahir dari masyarakat agraris ke masyarakan industrialis dan akhirnya menyebabkan terpecahnya negara-negara eropa menjadi negara-negara kecil. Namun, di Indonesia ternyata dampaknya malah berbeda, yakni dapat menyatukan bangsa-bangsa (Sasak,Bali, Madura dll) menjadi bangsa indonesia.

BACA JUGA  Al-Quran: S. At-Tawbah (9:118)

#wapa2himmahnwcabanglomboktimur
#profesionalmoralis
#maju