ILMU KALAM oleh : Fitria putri bunga Raden mahasiswi STAI Al aqidah Al hasyimiyah jakarta PRODI: PIAUD NIM : 232300003

ILMU KALAM oleh : Fitria putri bunga Raden mahasiswi STAI Al aqidah Al hasyimiyah jakarta PRODI: PIAUD NIM : 232300003

 ➢ Ilmu Kalam Menurut Para Ahli

Beberapa ulama juga turut mengemukakan mengenai definisi dari Ilmu Kalam ini, misalnya:

Menurut Al-’iji, Ilmu Kalam adalah sebuah ilmu yang memberikan kemampuan untuk 

menetapkan aqidah agama Islam dengan mengajukan argumen guna melenyapkan keraguan 

yang ada.

Menurut Ibnu Khaldun, Ilmu Kalam ini adalah sebuah ilmu yang mengandung adanya 

argumen-argumen secara rasional untuk membela aqidah iman dan mengandung penolakan 

terhadap golongan bid’ah (perbuatan-perbuatan baru tanpa ada contoh sebelumnya) yang di 

dalam aqidah, menyimpang dari mazhab salah dan ahlussunnah. Beliau juga berpendapat 

bahwa ilmu ini nantinya berisikan alasan-alasan mengapa kita harus mempertahankan 

kepercayaan-kepercayaan iman, tentu saja dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan 

berisikan bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan Salaf dan 

ahlusSunnah.

Menurut Hasbi al-Shiddieqy, keberadaan Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid ini adalah ilmu yang 

membicarakan tentang cara-cara menetapkan akidah agama dengan menggunakan dalil-dalil 

yang meyakinkan, baik itu dalil naqli, aqli, maupun dalil wijdani.

Adapun mengapa ilmu ini disebut dengan Ilmu Kalam, karena:

Persoalan yang terpenting untuk dijadikan pembicaraan pada abad permulaan Hijriah adalah 

‘apakah Kalam Allah ( Al-Quran) itu termasuk Qadim atau Hadis?’. Maka dari itu, keseluruhan 

dari ilmu menggunakan nama tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu bagian terpenting 

dalam kajiannya.

Dasar dari Ilmu Kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil pikiran ini tampak jelas 

terutama dalam pembicaraan para Mutakallimin (ahli teologi Islam).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

➢ Sejarah Ilmu Kalam 

Sejarah awal munculnya Ilmu Kalam adalah sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang kala 

itu muncullah persoalan di kalangan umat Islam mengenai siapa yang hendak menjadi 

pengganti Nabi (Khalifatul Rasul). Hal tersebut kemudian diatasi dengan diangkatnya Abu 

Bakar As-Shiddiq sebagai khalifah. Setelah Beliau wafat, kekhalifahan dipimpin oleh Umar 

bin Khattab yang pada kala itu umat Islam tampak tegar dalam mengalami ekspansi seperti 

kejazirahan dari Arabian, Palestina, Syiria, sebagian wilayah Persia, hingga Romawi dan Mesir.

Setelah masa kekhalifahan Umar bin Khattab berakhir, maka diangkatkan Utsman bin Affan 

menjadi khalifah pengganti Umar. Utsman ini masih termasuk dalam golongan Quraisy yang 

kaya raya, keluarganya juga terdiri dari orang-orang Aristokrat Makkah yang memiliki 

pengalaman dagang dan pengetahuan administrasi. Pengetahuan itu dimanfaatkan dalam 

memimpin administrasi di daerah-daerah yang ada di luar semenanjung Arabiah. Namun 

sayangnya, pada masa tersebut justru cenderung terjadi nepotisme sehingga terjadilah 

ketidakstabilan di kalangan umat Islam. Bahkan banyak sekali penentang yang tidak setuju

pada kepemimpinan Utsman, hingga akhirnya Beliau tewas terbunuh oleh pemberontak dari 

Kufah, Basrah, dan Mesir.

Setelah Utsman wafat, maka Ali Abi Thalib terpilih sebagai calon khalifah selanjutnya. Namun, 

Beliau langsung mendapatkan tantangan dari pemuka-pemuka lainnya yang juga ingin menjadi 

khalifah, sebut saja ada Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Peristiwa tersebut dikenal dengan Perang 

Jamal. Kemudian, ada juga tantangan yang datang dari Muawiyah bin Abi Sufyan yang kala 

itu ingin menjadi khalifah dan menuntut Ali supaya menghukum para pembunuh-pembunuh 

dari Utsman. Atas adanya peristiwa-peristiwa itu muncullah Teologi mengenai asal muasal 

sejarah keberadaan Ilmu Kalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

➢ . Pemikiran Manusia

Yakni berupa pemikiran yang memang dikeluarkan oleh umat Islam maupun non-muslim. 

Mengingat bahwa Islam telah menggunakan pemikiran-pemikiran rasional untuk menjelaskan 

hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat dalam Al-Quran, terutama yang belum jelas 

maksudnya bahkan sebelum filsafat Yunani masuk.

Sumber-Sumber Ilmu Kalam

Keberadaan Ilmu Kalam ini tetap menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai sumber utama 

kajian mereka dalam upaya menerangkan wujud Allah SWT, sifat-sifat-Nya, dan persoalan 

aqidah Islam lainnya. Nah, berikut sumber-sumber kajian dari Ilmu Kalam.

1. Al-Quran

Dalam kitab suci ini, banyak sekali ayat yang membicarakan mengenai masalah ketuhanan. 

Misalnya pada Q.S Al-Ikhlas ayat 3-4 yang berarti “(Allah) tidak beranak dan tidak pula 

diperanakan”“dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” 

 

 

 

 

 

2. Hadits

Dalam hadits Nabi Muhammad SAW, banyak membicarakan mengenai masalah-masalah yang 

juga dibahas dalam Ilmu Kalam. Diantaranya adalah hadits Nabi yang menjelaskan mengenai 

hakikat keimanan dan terpecahnya golongan, yakni:

“Hadits ini diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Ia mengatakan bahwa Rasulullah pernah 

bersabda ‘Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa bani Israil ….Bani Israil telah 

terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. 

Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan,’ ‘Siapa mereka itu, wahai Rasulullah’ 

Tanya para sahabat. Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu adalah yang mengikuti jejakku dan 

sahabat-sahabatku,.” (H.R. At-Tirmidzi)

 

 

 

 

 

 

➢ Hubungan Ilmu Kalam dengan Al-Quran

Seperti yang disinggung sebelumnya, keberadaan Al-Quran memiliki keterkaitan yang tidak 

dipisahkan dengan Ilmu Kalam, sebab dijadikan sebagai sumber utamanya. Al-Quran memiliki

pembahasan tentang Tuhan baik berupa dzat, sifat, asma, perbuatan, dan tuntutan, sementara 

Ilmu Kalam akan membahas mengenai keesaan Allah SWT

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA