Hikmah Pagi: Kebahagian Ulama’ di Penghujung Hayat

Hikmah Pagi: Kebahagian Ulama’ di Penghujung Hayat

Dalam setahun ini kita ditinggalkan banyak sekali paku bumi yang meninggalkan dunia fana ini, mulai dari Syekh Amin Harori, Syekh Maimun Zubair, Kakek Habib Umar Ibn Hafidz, KH. Sirojuddin, dan KH. Majid Kamil dan lain lain. Disela-sela ini kita dihebohkan dengan berita ‘’Klepon’’ yang sebenarnya tidak perlu direspon karena kasian ‘’Kleponnya’’ menjadi viral. Karena tugas kita semakin besar dan berat karena banyaknya ilmu di dunia ini mulai diangkat satu persatu, di sisi yang lain ulama kita banyak yang sepuh semoga mata rantai keilmuan akan tetap terjaga sampai kapan pun.

Ketika kita kehilangan para ulama atau permata dunia, air mata tidak akan bisa membendung luapan air mata. Disatu sisi meninggalnya ulama bagi mereka adalah kebehagian karena akan dikumpulkan dengan para orang-orang sholeh yang di idamkan,
Sebut saja Imam Malik (W. 179) di mana jam-jam terakhir Imam Malik, tubuh beliau lemah dan sementara beliau dikelilingi oleh banyak orang. Abu Tamam Ibn Hazim kemudin berkata: tadi malam saya bermimpi, boleh saya menceritakannya kepadamu?
Dengan suara lirih Imam Malik menjawab: silahkan!

Saya bermimpi langit terbelah, kemudian Malaikat turun dari langit dan membawa lembaran, kemudian berkata: Wahai manusia! ini surat pembebasan Imam Malik dari tanggungan semua orang.

Tak lama kemudian, Gubernur Madinah Ibn Abi Zunaib bersama dengan gurunya, kemudian beliau menyampaikan: guru saya tadi malam bermimpi sebagaimana Abu Tamam Ibn Hazim. Kemudian Imam Malik berkata: mimpi anda sudah disampaikan lebih dulu oleh Abu Tmam Ibn Hazim.

Tatkala orang-orang pulang dan sampai pintu rumah, terdengan sebuah teriakan. Sontak semuanya kembali. Anak Imam Malik mengatakan: Allah telah mewafatkan Imam Malik.

BACA JUGA  Hikmah Pagi : LEBIH DARI CUKUP
BACA JUGA  Renungan Subuh Kekuatan Doa

As’ad Ibn Musa tertidur kemudian beliau bermimpi setelah Imam Malik wafat, beliau mengenakan baju hijau serta menunggangi kuda yang membawanya terbang antara langit dan bumi. As’ad Ibn Musa bertanya, bukankan anda sudah meninggal?
Imam Malik menjawab: ‘’benar’’, lanjut bertanya: bagaimana kondisi anda sekarang?

Imam Malik menjawab: Kami menemui Rabb Kami dan Allah berfirman: ‘’Mintahlah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, dan berharaplah kepada-Ku niscaya akan Aku ridloi’’.

Fudhail Ibn Iyadh pimpinan ulama di zamannya murid emas Ibn Mubarok, beliau bermimpi masuk surge tatkala berpapasan dengan Zaid Ibn Aslam yang berada disalah satu tempat disurga dengan memakai penutup kepala yang panjang (bisa imamah atau peci). Kemudian Fudhail bertanya, di mana Imam Malik, kami tidak melihatnya.

Zaid mengatakan: beliau tempatnya lebih tinggi dari kami sampai penutup kepalanya terjatuh. (Lihat: Tartibul Madaarik, Hal: 130-131).

Semoga Allah mengumpulkan kita dengan para orang-orang shaleh dan dikumpulkan di Surga-Nya Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA