Hikmah Pagi Ke-1: Hikmah Terciptanya Mulut dan Manfaatnya 

Hikmah Pagi Ke-1: Hikmah Terciptanya Mulut dan Manfaatnya 

Hikmah Pagi Ke-1: Hikmah Terciptanya Mulut dan Manfaatnya 

https://plus.unsplash.com/premium_photo-1683140829219-27071a1741f5?fm=jpg&ixid=M3wxMjA3fDB8MHxwaG90by1yZWxhdGVkfDIzfHx8ZW58MHx8fHx8&ixlib=rb-4.1.0&q=60&w=3000

Mulut adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah ﷻ anugerahkan kepada manusia. Ia bukan sekadar organ biologis, tetapi juga instrumen ruhani, sosial, dan moral. Dari mulut lahir kata-kata yang bisa mengangkat derajat seseorang, atau justru menjatuhkannya. Karena itu, memahami hikmah penciptaannya akan menumbuhkan rasa syukur sekaligus kehati-hatian dalam menggunakannya.

🌸 1. Mulut sebagai Tanda Kekuasaan dan Kesempurnaan Penciptaan

Allah mengingatkan bahwa keberadaan mulut (lisan dan dua bibir) adalah bagian dari bukti kekuasaan-Nya:

QS. Al-Balad: 8–9

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ وَ لِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, satu lidah dan dua bibir?”

Ayat ini menunjukkan bahwa lisan dan bibir disebut secara khusus. Lidah begitu lentur, mampu menghasilkan ribuan variasi bunyi. Bibir membantu artikulasi, menjaga makanan, dan membentuk ekspresi. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa desain Ilahi yang sempurna.

Hikmahnya: kemampuan berbicara bukan kebetulan, melainkan amanah.

🌸 2. Mulut sebagai Sarana Ilmu dan Peradaban

Kemampuan berbicara adalah fondasi peradaban manusia.

QS. Ar-Rahman: 3–4

خَلَقَ الْإِنسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara.”

“Al-bayan” berarti kemampuan menjelaskan dan mengungkapkan isi hati secara jelas. Dengan mulut:

  • Ilmu disampaikan

  • Wahyu dibacakan

  • Nasihat ditegakkan

  • Keadilan diperjuangkan

Tanpa lisan, ilmu akan terhenti di dalam dada. Dengan lisan, ilmu menyebar dan membangun generasi.

🌸 3. Mulut sebagai Sarana Ibadah dan Jalan Menuju Surga

Mulut menjadi alat utama ibadah lisan: membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bershalawat, dan mengucap syahadat.

QS. Al-Ahzab: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

(HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Ucapan syahadat yang keluar dari mulut menjadi pembeda antara iman dan kufur. Dzikir yang ringan di lisan bisa berat di timbangan amal.

Hikmahnya: Allah menjadikan jalan menuju surga begitu dekat—cukup dengan lisan yang terjaga dan hati yang beriman.


🌸 4. Mulut sebagai Ujian dan Sumber Pertanggungjawaban

Setiap kata yang terucap tidak pernah sia-sia.

QS. Qaf: 18

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidaklah seseorang mengucapkan satu kata pun melainkan ada malaikat pengawas yang selalu mencatat.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

(HR. Bukhari dan Muslim)

“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kata tanpa memikirkan akibatnya, lalu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”

Hikmah terdalamnya: mulut adalah ujian harian. Setiap detik kita diuji—apakah akan berkata jujur atau dusta, menenangkan atau melukai, menyatukan atau memecah.

🌸 5. Mulut sebagai Cerminan Hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

(HR. Bukhari dan Muslim)

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

Hati yang bersih melahirkan ucapan lembut. Hati yang dipenuhi iri dan amarah melahirkan kata-kata tajam. Maka menjaga lisan sejatinya adalah bagian dari membersihkan hati.

🌸 6. Mulut sebagai Sarana Rezeki dan Syukur

QS. ‘Abasa: 24

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.”

Mulut menjadi pintu masuk makanan dan minuman. Dari satu suapan, kita diingatkan tentang proses panjang rezeki: tanah yang subur, air hujan, sinar matahari, dan tangan-tangan yang bekerja. Semua kembali kepada Allah.

Hikmahnya: setiap suapan adalah pengingat tentang rahmat-Nya.

🌟 Renungan Penutup

Mulut diciptakan bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk:

  • Menghidupkan hati dengan dzikir

  • Menyebarkan ilmu dan kebaikan

  • Menjaga persaudaraan

  • Menguatkan yang lemah

  • Mengucap syukur atas nikmat

Ia bisa menjadi sebab tertinggi derajat seseorang, atau sebab paling dalam kehancurannya.

Para ulama berkata:

“Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisannya.”

Semoga Allah menjadikan lisan kita:

  • Lisan yang jujur

  • Lisan yang lembut

  • Lisan yang penuh dzikir

  • Lisan yang mengantarkan ke surga

اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ، وَاجْعَلْهَا ذَاكِرَةً لَكَ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🌿

Redaksi media SinarLIMA (Sinar5News.com)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA