Hikmah Pagi : EMPAT ARTI ISLAM

banner post atas

Oleh Dody Riyadi HS

Dinamakan Islam karena sebagai agama, ia berarti pemasrahan diri dan kepatuhan total kepada Allah. Sebagai sebuah kata berbahasa Arab, Islam berarti pasrah, menyerah, patuh. Islam juga berarti damai yang bermakna kedamaian lahir-batin dan hanya bisa diperoleh seorang muslim lewat jalan pasrah dan patuh kepada Allah yang konsekuensinya tak hanya kedamaian dalam hati, namun juga ketenteraman sepenuhnya bagi masyarakat (Ahmad, 1983). Merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an, Ahmad Amin (1968) berpendapat, Islam dengan kata dasarnya, s-l-m, memiliki empat arti yang sangat mendasar.

Pertama, kedamaian dan keamanan, kebalikan perang dan kacau. QS. Al-Furqan, 25:63 yang menggunakan kata salam dengan arti demikian dipertentangkan dengan al-jahlu: masa jahiliyah atau periode sebelum Islam yang identik dengan karakter atau watak buruk masyarakat yang mempertontonkan peperangan dan kekacauan.

Iklan

Jahiliyah tak bersumber dari al-jahlu yang berkebalikan dengan al-‘ilmu atau bodoh secara intelektual. Al-jahlu berarti dungu, pemarah, dan keras kepala atau kepala batu serta sifat atau watak-watak lainnya yang menunjukkan kejahilan: ringan tangan, keras, kaku, menghina, berbangga atau menyombongkan diri.

Sementara salam memiliki semua arti atau pengertian yang mengandung arti kedamaian dan keamanan atau bertentangan dengan sifat, watak, karakter jahiliyah: ketenangan jiwa, sopan santun, rendah hati, tahu diri, menyandarkan diri kepada amal saleh dan bukan kepada keturunan atau prestise apa pun.

Selain tidak melakukan ke-jahiliyah-an, berislam dengan arti salam juga tidak gelap mata, tak mudah terprovokasi individu atau kelompok apa pun serta tidak membalas tindakan jahil apa pun, kendati perbuatan jahil itu dilakukan orang lain kepada ibu sendiri.

Kedua, tunduk dan patuh. Kata yang digunakan adalah aslama dan termaktub dalam QS. Ali ‘Imran, 3:83. Aslama diambil dari kata salam dan karena itu artinya dekat dengan kata tersebut: ketundukan dan kepatuhan yang konsekuensinya adalah kedamaian. Ayat itu menunjukkan, apa pun di alam semesta, termasuk manusia, mukmin maupun kafir, sadar atau tidak, tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah yang ditetapkan secara universal.

BACA JUGA  Hikmah Pagi: Warisan Adab dan Ilmu Lebih Mahal Dibandingkan Yang Lain

Kepada hukum Allah atas alam, hanya manusia yang patuh atau ingkar. Selain manusia, seperti hewan dan tumbuhan serta matahari dan gunung, pasti menaatinya. Sedangkan manusia mudah berkonflik dengan argumen religius yang dicari-cari dalilnya di Kitab Suci. Pelbagai konflik tak cuma menghancurkan kehidupan sosial tetapi merusak alam lingkungan yang mengkhianati misi manusia sebagai khalifatullah di bumi yang diamanahi Allah untuk tidak, dalam bahasa Al-Qur’an, merusak alam dan menumpahkan darah.

Ketiga, tunduk dengan rela dan sadar. Kata yang digunakan adalah muslim dan paling tidak terdapat dalam tiga surah. Pertama, QS. An-Naml, 27:31 pada konteks ajakan Sulaiman lewat surat kepada Balqis agar tak berlaku sombong dan datang kepada Sulaiman sebagai orang yang berserah diri (muslimin) tanpa syarat atau kompromi apa pun. Kedua, QS. Al-Baqarah, 2:132 tentang wasiat Ibrahim dan Yakub kepada anak-anak mereka agar tidak mati kecuali dalam keadaan muslim (muslimun).

Ketiga, QS. Yusuf, 12:101 mengenai doa Yusuf agar diwafatkan dalam keadaan muslim (muslim). Kata muslim pada beberapa ayat itu menunjuk kepada umat para nabi sebelum Muhammad. Siapa pun yang hidup pada masa Ibrahim, Sulaiman, Yakub serta Yusuf lalu berserah diri atau tunduk kepada hukum-hukum Allah dengan penuh kerelaan dan kesadaran maka dia muslim. Dengan kata lain, muslim adalah siapa pun yang mengikuti ajaran nabi sebelum Muhammad.

Keempat, agama yang dibawa Nabi Muhammad. Kata yang digunakan adalah islam dan tersurat dalam QS. Al-Maidah, 5:3 dan QS. Ali ‘Imran, 3:85. Arti fundamental islam adalah tunduk dan patuh kepada Allah dengan konsekuensi penolakan tegas terhadap alam pikiran, watak atau karakter jahiliyah yang identik dengan kekakuan dan kekerasan, seperti yang terkandung pada arti pertama Islam.

BACA JUGA  Hadist Hari Ini Senen 19 Muharrom 1442

Arti Islam keempat ini merangkul semua arti Islam sebelumnya (Riyadi HS, 2015), sehingga siapa pun yang mengaku beragama Islam dan berkomitmen meneladani uswah hasanah Nabi Muhammad, maka dia, pertama, menolak sepenuh hati karakter jahiliyah yang merasuki jiwa dan pikirannya; tidak melakukan aksi atau tindakan jahil serta keburukan apa pun seperti yang dahulu dilakukan masyarakat jahiliyah.

Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim dan mengetahui dengan pasti sejak awal Islam di Indonesia didakwahkan penuh kedamaian mesti menjaga integritas konsepsi dan sejarah keislamannya agar tidak merusak mutu konsepsi dan reputasi tersebut sehingga membuat mayoritas Islam dalam kuantitas menjadi minoritas dalam kualitas akhlak.

Kedua, bersama ciptaan Allah di alam semesta, seorang muslim mematuhi hukum Allah yang ditetapkan kepada dirinya dan alam lingkungan di sekitar kehidupannya. Eksplorasi atas SDA berlimpah Indonesia mesti mengedepankan keadaban serta kemanusiaan dan manfaat eksplorasi itu demi kerakyatan dan keadilan sosial.

Eksplorasi bukan eksploitasi tak terkendali terhadap alam dan rakyat yang menguntungkan pihak tertentu dan meninggalkan kerusakan ekologis dan kemiskinan. Ketiga, meneladani kebaikan yang dilakukan para nabi sebelum Muhammad, seperti Ibrahim (QS. An-Nisa’, 4:125).

Kebaikan keluarga Ibrahim seperti kerelaan Sarah ibunda Ismail membagi air Zamzam kepada banyak orang menjadi contoh keadilan sosial universal yang semua agama dan bangsa di dunia mengakuinya sebagai teladan agung kemanusiaan dan keadaban sepanjang masa.

Keempat, tunduk dan mematuhi semua perintah Allah dalam Al-Qur’an seperti yang diteladankan dengan sublim (uswah hasanah) oleh Nabi Muhammad.

_Penulis adalah Alumnus Ponpes Darunnajah Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga, dan UGM; Dosen STIT Ya’mal Tangerang_