-HIKMAH PAGI- “ASAL-USUL WETU TELU”

banner post atas

Setidaknya ada empat versi yang menyatakan asal-usul wetu Telu. Pertama, versi yang menyatakan bahwa watak Islam yang dibawa penyebar agama dari Jawa memang sudah mengandung unsur mistik dan sinkretik. Sehingga mereka yang terislamisasi melalui penyebar agama dari Jawa memiliki pola keberagamaan yang sinkretik. Kondisi ini berangsung secara turun temurun dan mengkristal menjadi adat istiadat yang mapan. Kristalisasi dan idiomisasi adat selanjutnya menyebabkan para penganut Wetu Telu tidak berkeinginan untuk merubahnya, sekalipun alasan untuk mempertahankannya juga sulit mereka temukan secara rasional.

 Kedua, versi yang menyatakan bahwa timbulnya Wetu Telu yang berwatak sinkretik disebabkan oleh pendeknya waktu para penyebar agama dari jawa melaksanakan dakwah dan tingginya tingkat toleransi mereka terhadap paham animisme dan antropomorfisme masyarakat Sasak.

Ketiga, versi yang menytakan bahwa Wetu Telu lahir sebagai konsekuansi dari strategi dakwah yang diterapkan oleh para penyebar agama Islam, setelah melihat sulitnya medan dakwah Islamiyah dengan adanya penolakan-penolakan dan tingginya fanatisme masyarakat Sasak yng mash meganjut Hinduisme dan Budhisme.

Iklan

Keempat, versi yang menyatakan bahwa asal-usul Wetu Telu dua putra Pangeran Sangu Pati, salah seorang peyebar agama Islam di Lombok. Dalam sebuah babad yang tertulis di atas daun lontar disebutkan bahwa tokoh ini mempunyai dua orang putra, Nurcahya dan Nursada. Nurcahya digambarkan sebagai pendiri Waktu Lima dan Nursada sebagai pendiri Wetu Telu. Yang pertama digambarkan sebagai Muslim Ortodoks dan puritan, sementara yang terakhir sebagai muslim tradisional dan sinkretik. Dalam babad tersebut, antara lain disebutkan bahwa pengikut Waktu Lima diserang oleh berbagai jenis penyakit dan ditimpa musibah/bencana, sementara pengikut Wetu Telu hidup makmur dan mendapatkan hasil panen yang berlimpah. Dalam keadaan sedemikan tertekan, sang kakak datang kepada sang adik untuk meminta pertolongan. Akhirnya mereka berdua sampai pada kesimpulan bahwa Waktu Lima tidak cocok bagi masyarakat Sasak dan merupakan penyebab kesialan. Mereka kemudian memutuskan untuk merantai Waktu Lima dan membuangnya ke laut. Setelah hal ini dilkukan, keberuntungan berubah dan keseluruhan tanah Selaparang diberkahi kekayan oleh Allah SWT.

BACA JUGA  PULANG LARUT MALAM, APAKAH SAYA PEREMPUAN YANG TIDAK BAIK?

30 November 2020

Hipzon Putra Azma