GURU BUKAN CITA-CITA TERAKHIR DAN TERPAKSA

GURU BUKAN CITA-CITA TERAKHIR DAN TERPAKSA

Dwi Puji Lestari
(Dosen PIAUD STAI Al Aqidah Al Hasyimiyyah Jakarta)

“Ketika Sekutu menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki maka pemimpin Jepang bertanya:” berapa sisa guru yang tersisa?”

Memulai tulisan dengan statement itu mengajak pembaca untuk berpikir bahwa guru memiliki peran penting dalam rangka kebangkitan bangsa dan negara terlebih dalam kondisi terpuruk. Guru mampu menunjukan kepada peserta didik untuk mengenal ilmu pengetahuan, mengenali dirinya dan membentuk karakter di masadepan. Peran sentral guru ini tidak dapat digantikan oleh siapapun sekalipun dalam profesi guru ada yang lebih tinggi gajinya dan tunjangannya dari negara ini.
Zaman dahulu cita-cita terbatas pada dokter, ada tentara, pilot, presiden, pemadam kebakaran, tentara, dan guru namun bila dilangsir dalam suatu situs https://pintek.id/blog/pekerjaan-masa-depan/ disebutkan bahwa ada sembilan profesi yang menjanjikan masadepan yang cerah misalnya digital marketer, CEO perusahaan, pengembang aplikasi, praktisi medis, sofwere developer dan pengembang, data analisis, akutan, ahli lingkungan (teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, ekologi ) dan kontruksi dan teknik (nanoteknologi,  it, robotika). Namun yang tidak kalah penting ada dua profesi yang menurut penulis penting dan relevan untuk hari ini yakni finansial planner dengan derasnya situs-situs yang mengiring untuk bersifat konsumtif masyarakat digiring untuk terlihat kaya (look rich) bukan menjadi kaya (be rich), bahkan mungkin hari ini look rich telah menjangkiti masyarakat maka demikian financial planner merupakan profesi yang diperlukan untuk hari ini dan masadepan. Kedua adalah psikolog, distrupsi area ini menyebabkan orang kelebihan informasi sehingga diperlukan psikolog untuk dapat melakukan menejemen kesehatan mental bagi masyarakat. Dari semua profesi yang ada tidak akan terwujud tanpa kontribusi guru didalannya maka semua profesi sebetulnya pijakan utamanya adalah guru.
Begitu banyak patologi-patologi (penyakit-penyakit) sosial di negara ini misalnya saja kekerasan seksual, kekerasan pada perempuan, kekerasan berbais rasis, korupsi, narkoba, bullying dan ketidak adilan gender yang ini merupakan isu-isu yang harus dicegah dari bangku pendidikan, bagaimana seorang guru mempu menciptakan pembelajaran yang dapat membentuk sikap-sikap kemanusian bagi peserta didiknya hal ini tidak terbatas pada jenjang tertentu artinya baik itu di TK, SD, SMP , SMA dan Perguruan tinggi, namun lebih utamanya adalah pada pendidikan anak usia dini. Bentuk-bentuk pencegahan itu misalnya guru mampu membuat perangkat pembelajaran terkait isu tersebut maupun model pembelajaran.
Langkah demi langkah harus dilakukan oleh guru diantaranya dia harus banyak bergaul memperluas jejaring seprofesi baik itu nasional ataupun internasional sebagai wadah untuk mendapatkan inspirasi dan solusi, kedua guru harus melek teknologi sebagai alat pembelajaran di era dirupsi, ketiga guru harus mampu bersinergi dari semua sector profesi, guru harus memiliki sikap ‘long life learner’ yakni pembelajar sepanjang hayat baik itu belajar formal maupun non formal, guru harus tau isu dari berbagai sector baik itu politik, budaya, ketahanan pangan, hukum, pertahanan dan keamanan sebagai antisipasi pembentukan karakter pada profesi dalam bidang tersebut. Keempat ramah terhadap perubahan misalnya masa pandemic seperti ini melakukan perubahan dari system offline menjadi online, kelima memiliki karakter yang berintegritas. Terakhir menjadi guru harus mengaktifkan sisi berpikir kritis dan prediktif untuk menyongsong perubahan masadepan.
Langkah demi langkah kedua yang harus dilakukan pemerintah kepada para guru yaitu memfasilitasi para guru untuk meningkatkan kompetensi para guru bukan sekedar mengadakan kegiatan tanpa kelanjutan dan supervisi, meningkatkan kesejahteraan para guru agar guru tidak melakukan profesi ganda sehingga guru bisa lebih konsen dalam menangani peserta didik, memfasilitiasi guru untuk berkolaborasi international melakukan teacher exchange ke negara-negara yang sangat memperhatikan pendidikan misalnya Finlandia, Jerman, Singapura, Cina, Korea selatan dan Taiwan. Mewajibkan sekolah-sekolah unggulan didaerah untuk melakukan pembinaan pada sekolah-sekolah yang masih perlu ditolong sehingga sekolah-sekolah bisa setara. Terakhir meninjau tunjangan para guru agar tepat pada sasaran yakni tunjangan profesi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri.
Tulisan ini adalah bentuk dari buah pikiran untuk sedikit mengajak kepada pendidik untuk segera merubah haluan perjalanan seorang guru dari yang tadinya menjalani profesi dalam rangka mencari nafkah namun ternyata dari profesi itulah nasip negara dan bangsa ini ditentukan. Untuk menutup tulisan ini pada hari guru kita harus mari berefleksi bersama, menjadi guru bukan cita-cita terakhir dan terpaksa setelah kita lelah mengusahakan cita-cita utama kita selesai, jadilah guru-guru progresif, berdedikasi dan berkarakter. Jangan tanyakan apa yang sudah diberikan negara untuk kita namun tanyakan apa yang sudah kita berikan dan tinggalkan dalam rangka menyongsong generasi Indonesia.
Jakarta, 25 Nopember 2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA