Gol yang hendak dicapai dalam puasa Ramadhan || edisi 2 Ramadhan 1444 H

Gol yang hendak dicapai dalam puasa Ramadhan || edisi 2 Ramadhan 1444 H

Jika dalam sebuah festival memiliki gol atau tujuan yang hendak diperebutkan, maka dalam pelaksanaan puasa-pun memiliki gol yang ingin dicapai. Gol tersebut adalah taqwa.

Secara umum, taqwa sebagai gol yang hendak dicapai oleh orang yang berpuasa terbagi kepada tiga bagian. Artinya, dengan melakukan puasa yang benar, akan memberikan dampak taqwa kepada beberapa sisi yaitu:
1. Membentuk ketaqwaan personal,
2. Membentuk ketaqwaan sosial dan,
3. Membentuk karakteristik orang yang bersyukur kepada Allah SWT.

Jadi, seseorang disebut berhasil melewati pendidikan Ramadan bila setidaknya dia bisa mendapatkan tiga gol yang diharapkan dan sudah disebutkan secara umum diatas.

Adapun penjelasan dari tiga gol dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan adalah sebagai berikut :
Pertama, ada peningkatan ketakwaan personal. Tentang hali ini Allah sebutkan dalam surat al-baqarah di ayat 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

artinya: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. (Berpuasa) agar kamu bertakwa.”

Jadi, Ramadan desainnya dihadirkan oleh Allah dengan ibadah selama sebulan, harapan pertamanya ditujukan supaya membentuk karakteristik setiap muslim supaya memiliki ketakwaan personal. Gol puasa pada ayat ini berada pada ujung ayat yaitu لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (agar kamu bertaqwa).

Kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ menggunakan kata kerja khitob, Allah mengkhitob secara personal kepada kaum muslimin tanpa terkecuali, tujuan dasar pokoknya supaya membentuk karakteristik ketaqwaan personal bagi setiap individu muslim.

Apa yang dimaksud dengan ketaqwaan personal?, Kata taqwa di dalam Al quran setidaknya disebutkan dari fasenya sebanyak 240 kali, desainnya terbagi pada 3 bagian : Pertama, taqwa membimbing bagian jasmani kita. Kedua, taqwa membimbing akal atau intelektualitas kita. Dan ketiga, taqwa membimbing rohani jiwa spiritual kita.

 

Kedua, puasa disiapkan oleh Allah untuk membentuk ketaqwaan sosial. Jadi, bukan sekedar secara pribadinya menjadi lebih baik, tapi ternyata kebaikan personal ini baru punya nilai optimal dalam pandangan Qur’an, jika auranya sudah mampu ditebarkan ke lingkungannya. Karena itu, puasa melatih kita saat yang bersamaan untuk berinteraksi secara sosial dan mengoptimalkan semua karakter sosial, sehingga goalnya akan terlihat bukan hanya hubungan baik dengan Allah melainkan dengan sesama manusia dan lingkungan sekitarnya.

Dalil yang menunjukkan tentang puasa Ramadhan membentuk ketaqwaan sosial berada pada surat Al Baqarah ayat 187. Pada ujung ayat tersebut terdapat kalimat لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (agar mereka bertaqwa). Potongan ujung ayat ini menunjukkan kepada orang ketiga yaitu mereka (dia banyak). 

Memperhatikan makna ujung ayat ini لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (agar mereka bertaqwa), menunjukkan, bahwa puasa membentuk ketaqwaan sosial seseorang, yaitu mereka yang ada disekitar kita akan terkena dampak dari gol puasa yang dilakukan dengan benar. 

Ketiga, membentuk karakteristik manusia yang bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika puasa Ramadhan  yang dilakukan sudah mampu membentuk ketaqwaan personal dan ketaqwaan sosial seseorang, maka secara otomatis seseorang akan lebih mudah untuk menjadi hamba yang bersyukur.

Tiga gol puasa diatas sebenarnya saling mempengaruhi. Kuncinya terletak kepada bagaimana pelaksanaan ibadah puasa, apakah dilakukan dengan benar dan penuh keikhlasan atau sebaliknya. Jika puasa dilakukan dengan benar dan didasari dengan keikhlasan, maka golnya akan menghasilkan tiga karakter diatas yaitu : ketaqwaan personal, ketaqwaan sosial dan membentuk karakter manusia yang pandai bersyukur.

Muhammad Fathi 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA