Cerita Pendek Ke-11: Doa Bersama di Tengah Mendung Pagi

Cerita Pendek Ke-11: Doa Bersama di Tengah Mendung Pagi

Cerita Pendek ke-11 : Doa Bersama di Tengah Mendung Pagi

Senin pagi, 12 Januari 2026, suasana di lingkungan Sekolah Nahdlatul Wathan Jakarta terasa berbeda dari biasanya. Sejak pagi hari, langit tampak gelap dan mendung pekat menggantung, seakan memberi tanda bahwa hujan akan segera turun. Padahal, sesuai agenda rutin, pagi itu seharusnya dilaksanakan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh unit pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA Nahdlatul Wathan Jakarta.

Demi mengantisipasi cuaca yang tidak bersahabat tersebut, pihak sekolah mengambil kebijakan untuk meniadakan upacara bendera di lapangan. Keputusan ini diambil agar para siswa tidak kehujanan, pakaian tidak basah, serta terhindar dari risiko gangguan kesehatan seperti pilek atau demam.

Sebagai pengganti upacara, kegiatan pagi dialihkan menjadi doa bersama yang dilaksanakan di kelas masing-masing. Doa dipandu oleh salah seorang siswa dari kantor guru SMP Nahdlatul Wathan Jakarta melalui pengeras suara yang secara bersamaan hari itu saya bertugas di sana mengajar sebagai guru BK. Sementara itu, para pengurus OSIS turut mendampingi, mengawasi, dan menertibkan jalannya doa di setiap kelas agar kegiatan berlangsung tertib dan khidmat.

Ketika doa berlangsung, hujan benar-benar turun. Rintiknya semakin lama semakin deras, mengguyur halaman sekolah dan atap-atap ruang kelas. Hingga pukul 09.35 pagi, hujan masih terus turun dengan suasana mendung yang pekat. Suara hujan berpadu dengan lantunan doa, sholawat Nahdlatain, doa Nurul Hayat, pembacaan surat-surat pendek, serta nyanyian lagu perjuangan “Kami Benihan Nahdlatul Wathan” yang menggema dari kelas-kelas.

Meski tidak berkumpul di lapangan, kebersamaan tetap terjalin kuat. Anak-anak mengikuti doa dengan penuh kekhusyukan dari kelas masing-masing, menciptakan suasana religius yang hangat di tengah cuaca dingin dan basah.

Keputusan melaksanakan doa bersama di dalam kelas terbukti sebagai langkah yang sangat bijaksana. Hujan yang turun cukup lama semakin menegaskan bahwa kebijakan sekolah sudah tepat dan penuh pertimbangan.

Pelajaran penting dari peristiwa pagi ini adalah bahwa keselamatan dan kesehatan harus selalu diutamakan. Dalam kondisi alam yang tidak memungkinkan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan menjadi bentuk kepedulian nyata. Mendung yang pekat dan hujan yang panjang tidak menghalangi tumbuhnya nilai disiplin, kebersamaan, dan keimanan di lingkungan Nahdlatul Wathan Jakarta.

Penulis: Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA dan guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA