DIVAKSIN, IKHTIAR MEMPRIORITASKAN PENJAGAAN JIWA

banner post atas

Sehat adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat, yang tidak diketahui (disadari) melainkan oleh orang yang sedang sakit. Demikian kata ahli hikmah.

Kondisi sehat semakin memahkota di tengah pandemi saat ini. Corona yang telah berlangsung hampir dua tahun ini seakan berkata, sehat adalah harta berharga yang tak ternilai harganya. Untuk itu, kesehatan harus dirawat dan dipertahankan dengan cara hidup sehat.

Pandemi covid-19 mensyaratkan bagian dari cara hidup sehat ialah dengan rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker, mempertahankan imun dan daya tahan tubuh. Tak terkecuali dengan mengikuti anjuran Pemerintah berupa program vaksinasi.

Iklan

Hanya saja, program vaksinasi, sampai hari ini masih digempur hujan hoax yang tak kunjung reda. Semakin kita aktif bermedia sosial, semakin kita ragu dengan program ini. Semakin rajin melihat youtube juga demikian.

Pasalnya, para pakar dari kalangan dokter dan akdemisi banyak membicarakan soal vaksin dilihat dari aspek material dan hukum penggunaannya, hingga aspek politik nasional dan internasional yang menunggangi program ini.

Saya sendiri sejujurnya, sampai kemarin masih ragu, tak berani, dan bahkan berkomitmen untuk tidak mau divaksin. Tetapi, semata ingin mentaati ikhtiar pemimpin menjaga rakyatnya dan iring guru, maka saya bertawakkal kepada Allah.

“Besok pagi ada program vaksin di Yayasan kita di sini, maka saya menganjurkan semua dewan guru mengikutinya. Niatkan mengikuti pemerintah, insyaallah bernilai ibadah.” Kata Raden TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI selaku Ketua Yayasan Islam Selaparang Kediri Lombok Barat.

Sekain itu, beliau juga menyampaikan bahwa vaksin adalah bukan hal baru dalam Islam. Kehadirannya, menjadi bagian dari ikhtiar kita menjaga jiwa manusia. Sebagaimana kata Imam Mawardi satu di antara maqashid syariah ialah “hifzunnafs” (memelihara jiwa).

BACA JUGA  Abdurrahman: Pengeroyokan terhadap Anggota BKPH Marowa adalah tindakan Barbar Melawan Hukum

Mamiq TGH. L. Fahmi Husain sebagai zuriat syekh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman juga tak ketinggalan menyampaikan dan menghimbau semua dewan guru dan staf di PP. Selaparang untuk tidak ragu dengan program ini, dan bertawakkal saja kepada Allah.

Alhamdulillah, meski semula Yayasan mengusulkan dewan guru sejumlah 30 orang untuk ikut vaksin, ternyata menurut laporan Ustazah Hj. Nurlaela selaku Ketua Panitia, justru jumlahnya bertambah lima orang. Meski semula pihak Yayasan agak pesimis bisa mencapai jumlah yang ditarget.

Pesan moral yang ingin disampaikan di sini ialah, betapa demikian tulus komitmen Ketua Yayasan Islam Selaparang yang sedang menempuh program Doktoral di UIN Mataram tersebut dalam membantu Pemerintah, meski programnya –lagi sekali– digempur berita hoax yang tak ada ujungnya ini.

Komitmen Tuan Guru ini mengingatkan saya pada sejarah perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pahlawan Nasional asal NTB) dahulu dalam meyakinkan masyarakat, untuk membantu Pemerintah dalam mensukseskan program inunisasi.

Pesan moral berikutnya, kita bisa berkata bahwa Pondok Pesantren bisa menjadi perpanjangan tangan Pemerintah dalam mensukseskan program-program vitalnya. Bukankah guru-guru madrasah yang mengajar di sana juga mempunyai “pengaruh” dari kampung asal mereka?

Di atas semuanya, kesyukuran mendalam dan ucapan terima kasih disampaikan oleh pihak Yayasan Islam Selaparang kepada Tim Medis dari Puskesmas Kediri dan pihaknKepolisian Sektor Kediri yang ikut serta dan mensupport dan mendukung sehingga semua berjalan lancar.

Akhirnya, semoga program ini sukses dan semua kita diberikan kesehatan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Amiin.

PP. Selaparang, 7 Juni 2021 M.