Demokrasi Islam Moderat oleh Zulkarnaen

banner post atas

Mahasiswa bagi rata-rata orang identik dengan turun jalan—saya memilih mulai dengan pembahasan ini. Anda yang pernah mahasiswa tentu ingat bagaimana mahasiswa di masa pengenalan kampus dijelaskan. Ya, mahasiswa adalah agen of control. Untuk mahasiswa generasi di atas tahun 98, gerakan mahasiswa 98 selalu dijadikan semacam doktrin bagi setiap mahasiswa. Dari sejak pertama, mahasiswa dijelaskan bagaimana ia seharusnya. Mereka bagi orang-orang tertentu seperti kaum oposisi pemerintah, dikawal betul untuk menjadi pilar demokrasi, sebagai bagian dari check and balance. Tentunya narasi mereka yang oposisi tidak menggunakan narasi berbeda kepentingan, namun narasi rakyat, narasi mahasiswa yang punya idealisme, narasi mahasiswa yang sama sekali tak punya kepentingan—hanya pro rakyat. Saya tak bermaksud untuk menyebut mahasiswa diprovokasi dalam aktivitas turun jalannya, namun seperti itulah adanya dalam demokrasi tanah air ini. Tulisan ini tidak akan fokus membahas soal mereka yang oposisi dan cara menggeret opini. Tidak!, tulisan ini akan mengurai bentuk demokrasi.

Jika anda perhatikan, keislaman Indonesia terkesan tidak nyambung dengan mahasiswa. Keislaman dalam konteks ini tertuju pada mazhab Islam mayoritas di Indonesia yang kemudian nanti yang turut mendefiniskan perbedaan demokrasi Indonesia dengan negara demokrasi lain di awal perumusan sistem negara—disebut Islam ahlussunnah wal jam’ah atau Islam moderat. Secara sederhana untuk tidak panjang membahas implikasi pandangan ini bahwa pandangan mazhab ini menuntut kebebasan dan kenyamanan. Penulis buku The New Asian Hemisphere, Kishore Mahbubani dalam hal ini sangat bagus dalam menjelaskan demokrasi dan kebangkitan Asia dalam bersanding dengan Barat. Dalam buku ini disebut bahwa banyak orang yang hanya menuntut kebebasan, namun lupa soal kenyamanan. Demokrasi adalah soal kebebasan dan keamanan. Inilah sebabnya sistem demokrasi menjadi barang jualan globalisasi karena akan menciptakan tatanan yang bebas dan nyaman. Chaos tentu secara otomatis bukan yang dimaksudkan demokrasi. Kemudian dalam bahasa Islam moderat disebut kestabilan lebih baik daripada pemimpin yang zolim. Dan inilah yang menjadi dasar dari tidak adanya makar sebelum selesai masa jabatan pemerintahan dalam sistem bernegara tanah air ini. Indonesia dalam konteks ini sangat kental dengan Islam moderat. Jika doktrin kemahasiswaan itu gerakan 98 tentu kurang pas, itu chaos!—terlepas kerumitan masalahnya saat itu.

Apa yang kita saksikan lebih mirip dengan apa yang disebut sebagai cara pandang Islam Kiri. Saya tak berharap anda mengatakan yang penting ada Islamnya, karena Islam Kiri sendiri terkesan hanya meencari pembenaran akan praktik “kiri” dari sang Nabi. Jika anda membaca buku karya Eko Prasetyo tepatnya Islam Kiri, anda akan menemukan argumentasi kekirian sang Nabi, dari yang paling dasar adalah melawan sistem yang korup—tentu yang dilawan sudah dianggap hewan yang tak punya rasa kemanusiaan sehingga harus dilawan. Saya sama sekali bukan dalam rangka meng-counter Islam Kiri, tentu bukan! Islam Kiri sudah memiliki bangunan epistimologi-nya!, hanya menguraikan adanya ketidak-nyambungan antara keislaman mayoritas Indonesia dengan keislaman yang dipikirkan mahasiswa di Indonesia yang seharusnya moderat juga. Yang dalam perkembangannya, kata Islam Kiri membuat banyak orang mengatakan guyonan kenabian sang pemilik teori Kiri, Karl Marx. Cara pandang Marx iniliah yang dimaksud oleh kata “kiri” yang kemudian dalam Islam Kiri sendiri berisikan argumentasi kekirian sang Nabi berdasarkan pakem yang dibuat oleh Marx sendiri—supaya tidak terkesan Marx sekali, Islam Kiri menggunakan sabda Nabi yang mirip pandangan Marx. Dalam sejarahnya kemudian, aksi perlawan yang sangat besar pernah terjadi yang berasaskan pandangan Marx. Kondisi ini yang membuat buramnya definisi demokrasi bangsa ini untuk generasi berikutnya—tentu anda sangat setuju soal harus adanya perbedaan untuk hal-hal tertentu dalam praktik demokrasi bangsa ini, bukan copy-paste cara negara lain yang tentu beda konteks-nya. Copy-paste demokrasi tentu salah kaprah—anda zolim jika tidak melihat konteks negara kita. Demokrasi bangsa ini tentu harus disesuaikan dengan konteks-nya. Sekali lagi Barat, Eropa, AS memiliki perbedaan jauh degan iklim Indonesia sehingga harus adanya perbedaan perlakuan dalam demokrasinya—tentu tetap dalam mengkawal kebebasan serta kenyamanan, namun dalam bentuk yang tak persis sama.

Iklan

Pertanyaannya kemudian adalah apakah definisi demokrasi di diri kita sudah clear apa tidak. Kata definisi yang penulis sebut dalam tulisan ini dari sejak awal adalah sebuah kata yang memberikan cakupan dan batasannya, bukan sekedar definisi biasa!. Clear tidaknya akan menentukan praksis masing-masing kita dalam melihat Indonesia—memang sudah sangat jelas bahwa cara pandang yang diyakini menentukan tindak-tanduk kita. Pertanyaan mendasar kemudian setelah pastinya perbedaan ruang Barat dan Indonesia—dalam hal ini memang Barat-lah yang menjual demokrasi ke seluruh negara. Penting sekali bertanya bagaimana bentuk praksis demokrasi yang kental mayoritas warganya adalah penganut agama yang notabene agama sendiri bermakna tidak adanya kekacauan—kondisi ini tentu punya implikasi dalam praktik demokrasi di kemudian hari seperti yang dibahas para perumus sistem negara pra-kemerdekaan.

Pancasila kemudian ketika di booming-kan memiliki perbedaan dengan ideologi-ideologi dunia yang lain. Ia bukan liberal murni, bukan pula sosialis murni. Islam mayoritas dalam hal ini memiliki pengaruh signfikan dalam membentuk bagaimana ideologi negara ini. Namun sepertinya, inilah yang yang mis dalam praktik demokrasi kita—masih banyak dari kita yang sama sekali tidak memahami ini. Saya melihat ini penting melihat kondisi bangsa terakhir, terlepas anda mungkin merasa tak perlu mempelajarinya, namun tetap saja kita adalah bagian dari bangsa ini yang berkewajiban merawat warisan negara kesatuan republik Indonesia—saya sebenarmya bukan orang yang terlalu khawatir atas kondisi bangsa, hanya menguraikan alur sejarah Indonesia dan bentuk demokkrasi-nya yang dibentuk berdasarkan Indonesia.

 

BACA JUGA  PEMBACAAN HIZIB NAHDLATUL WATHAN MEMPERINGATI 40 HARI WAFATNYA ALM. JONI ERSAN, SH PER. HARAPAN BARU, BEKASI