Dakwah TGB (49) MENGUKUR DIRI, PANTAS DAN TIDAK PANTAS

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

“Ada tuntunan dari Allah swt. agar kita berhati-hati melakukan sesuatu. Kadang, ada sesuatu yang asalnya boleh, tapi karena mengandung mudarat, maka jangan dilakukan.”

Demikian analisa ulama tafsir jebolan Universitas Al-Azhar Cairo Mesir al-masyhur bi Tuan Guru Bajang saat menafsirkan ayat berikut (6/11/2020).

Iklan

Allah swt. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Râ’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurnâ”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 104).

Tuntunan Allah swt. nampak jelas melalui pengajaran pada ayat ini.

Pada ayat tersebut di atas ada kata راعنا yang artinya “perhatikan kami”. Tapi, –jelas TGB– arti kata itu dipleset oleh sementara orang Yahudi yang mengartikannya dengan makna “orang yang kasar”. Sebuah kata yang setara dengan kalimat semacam umpatan atau menyumpah sesama.

Dalam penjelasannya ketua PBNW tersebut menceritakan bahwa praktiknya dahulu dikalangan para sahabat, saat mereka ingin diperhatikan oleh baginda Nabi saw. mereka mengatakan راعنا (perhatikan kami ya Rasulullah). Permintaan yang santun, sopan dan maknanya baik.

Nah, hanya saja orang-orang Yahudi pada saat mereka mendengar kata itu, mereka juga memakainya. Mereka memanggil-manggil Rasulullah saw. tapi yang mereka maksudkan dengan kata yang sama (راعنا) adalah “penghinaan”. Mereka menghina manusia termulia itu dengan sembunyi pada kalimat baik yang sering dipakai para sahabat.

Mental dan ciri khas orang-orang Yahudi.

Dengan ayat tersebut, Allah swt. hendak menjaga kemuliaan Rasulullah saw. maka Dia melarang para sahabat (umat Islam) untuk menggunakan kata راعنا meskipun sebenarnya menurut kita dan kamus bahasa memang bagus. Tapi, kata itu bisa digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk menghina nabi atau menjelek-jelekkan agama.

BACA JUGA  Tekab Ojek Online Berencana akan Melakukan Aksi Damai di Gedung Bundar Mahkamah Agung Jakarta.

Karena itu pula, menururt ulama (kutip TGB) janganlah kalian melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak masalah, tetapi hal itu berpotensi dijadikan jalan untuk memfitnah agama. “Islam itu tidak hanya mengajarkan kita boleh dan tidak boleh. Tapi, pantas dan juga tidak pantas.” Tegasnya.

Memang benar, bila kita merenungi dan mengamati kehidupan ini, sering kali kehidupan sosial kita mengajarkan bahwa kadang-kadang ada hal-hal yang pantas dilakukan oleh seseorang, tapi tidak pantas buat orang yang lain. Mana misalnya?

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar pengganti Prof. Dr. Quraish Shihab tersebut mencontohkan dengan diri sendirinya.

Kata beliau, bagaimana hukum misalnya saya memakai celana setengah kaki (lebih panjang sedikit di bawah lutut), berbaju kaos sambil berdiri makan jagung di pinggir jalan. “Halal atau haram?” Tanyanya kepada jamaah.

Hadirin yang membayangkan pun sedikit berkerut kening. “Ragu” antara menjawab halal atau haram. Sebab, bagi mereka tidak pantas Tuan Guru melakukan demikian.

TGB pun meretas keraguan mereka dengan menjelaskan bahwa celana yang dipakainya sudah standar menutup aurat. Makan jagung sambil berdiri, juga menurut banyak ulama tidak haram, paling bander hukumnya “makruh tanzih”.

Namun, “Cara itu, bukan terkait halal dan haram, tapi terkait pantas dan tidak pantas.” Jelas bintang Al-Azhar tersebut.

Karena itu, TGB mengingatkan bahwa hal ini yang sering diajarkan oleh para ulama. Penting kita mengetahui bahwa al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh, tapi juga yang pantas dan tidak pantas. “Maka kita pantas-pantaskan diri kita bapak-bapak nggih.” Serunya.

Oleh sebabnya, –lanjut TGB– jangan kita hanya melihat apa yang dilakukan orang, lalu kita ikut melakukannya tanpa mengukur hal itu pantas atau tidak pantas. Sebab, yang pantas bagi orang lain belum tentu bagi kita. Meskipun, hal itu bukan sesuatu yang haram.

BACA JUGA  SYAIR INSPIRATIF (89) FUNGSI MUSHALLA

Terkait pembicaraan pantas dan tidak pantas ini, –kutip TGB– kalau dalam bahasa ulama dalam kitab ash-Shâwi (1/34) disebutkan:

حسنات الأبرار وسيئات المقربين
“Kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang-orang biasa. Bisa jadi menjadi ke-tidak pantas-an bagi orang-orang tertentu.”

Demikian pula memang yang diajarkan dan diserukan Nabi Muhammad saw. sehingga beliau mengajar kita sebuah doa agar kita hidup pantas atau tindih. Berikut doanya:

اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى .
“Ya Allah, saya meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ketindihan, dan kekayaan.” (Al-jâmi’ ash-Shâghir hadis ke 1515).

Akhirnya, mari kita hidup dengan mengukur diri dengan penilaian pantas dan tidak pantas, selain mengukur dengan hukum halal dan haram!

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 8 Desember 2020 M.