Dakwah TGB (40) MEMBALAS, JANGAN MELAMPAUI BATAS!

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

“…Maka orang-orang yang beriman kepadanya (rasul), memuliakannnya, menolongnya dan mengukuti cahaya yang terang, yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-A’raf: 157).

Penggalan ayat tersebut menerangkan kepada kita, bagaimana mestinya kita berkhidmat kepada Nabi Muhammad saw. Selain memualiakannya, mengikuti sunnahnya, ternyata juga dengan MENOLONGNYA.

Sepenggal akhir ayat tersebut sangat konteks dengan situasi kekinian, di saat kehormatan dan kemuliaan Nabi Besar Muhammad saw. dilecehkan dengan pembuatan karikatur di Perancis. “Maka aneh kalau ada seorang muslim, Nabinya dihina tapi ndak dibela. Cuek saja. Seperti gak ada apa-apa.” Kata TGB penuh heran.

Apa yang dikatakan Ketua Umum PBNW tersebut sangat logis dengan naluri manusia, dengan jiwa pembelaan yang dimilikinya. Bukankah manusia, kalau kehormatan dirinya terusik apalagi dilecehkan, pasti akan membelanya habis-habisan?.

Bahkan ada sementara orang, kalau istrinya dihina dia ngamuk. Kalau dirinya dihina dia marah dan kadang-kadang ia memukul orang. “Dia lebih memuliakan dirinya dibanding Rasulullah saw.” Sindir TGB di Islamic Center Mataram kemarin.

Maka pada kesempatan tersebut, ulama jebolan Mesir tersebut membenarkan sikap bangsa Arab yang responsif dengan peristiwa di Perancis. “Wajar di Arab sana ada gerakan boiokot produk-produk Perancis. Itu wajar!.” Jelasnya.

Ulama tafsir tersebut juga banyak diberondong pertanyaan oleh anak-anak muda, terkait peristiwa pembuatan karikatur Nabi Muhammad saw. tersebut. Maka dengan tegas TGB menyeru, “Tulis pembelaan kepada Rasulmu!. Asal jangan sampai anarki”. Pesan beliau.

Dalam penjelasannya TGB menasihati bahwa, jangan sampai kita melawan kemungkaran dengan hal yang mungkar pula. “Sesuatu yang mulia harus diperjuangkan dengan cara yang mulia.” Katanya dengan tetap mengedepankan akhlak.

Jadi, kata TGB, semarah apapun kita jangan sampai hilang akal sehat, dan jangan sampai sikap kita tidak mencerminkan Islam itu sendiri. TGB pun bercerita, bahwa pada masa Rasulullah saw. dahulu orang-orang Yahudi selalu mencari jalan mengganggu beliau yang mulia.

Satu ketika orang Yahudi datang kepada Baginda Rasul saw. dan mengucapkan salam. Tapi, salamnya tidak seperti salam kita umat Islam. Dia malah berucap: السام عليكم (Kematian bagimu). Karena, السام semakna dengan الموت .

BACA JUGA  Buruh Tanih : " Saya Sebagai Masyarakat Bodoh, Tolong Sampaikan saya saja Menghargai Pahlawan, Apalagi Orang Pintar.

Rasulullah saw. mendengar salam seperti itu, beliau hanya menjawab, وعليكم (semoga doa itu balik kepadamu sendiri). Jawaban yang terukur dan sekadarnya saja. Tidak ada kata السام yang keluar dari mulut beliau yang mulia.

Sementara Sayyidah Aisyah rha. yang mendengar jawaban Rasul saw. yang irit dan hanya sekedar itu. Ummul mukminin itu tidak terima dan ia pun membalas lebih keras dari jawaban Rasulullah, dengan mengatakan kepada si Yahudi: السام عليكم واللعنة (Semoga kamu mati dan mendapat laknat).

Tentu penting diketahui di sini, ekspresi pembelaan Sayyidah Aisyah rha. kepada Rasulullah saw. terhadap olok-olokan orang Yahudi itu adalah sebuah sikap yang timbul dari hati beningnya ingin membela utusan Allah swt., bukan sekadar pada tataran pembelaan istri kepada suaminya.

Lalu, bagaimana sikap Nabi Muhammad saw.?

Melihat respon permaisurinya demikian, Rasulullah sww. mendengar pembelaan yang berlebih seperti itu. Baginda Rasul pun bersabda: مهلا يا عائشة (Wah, tidak usah begitu wahai Aisyah).

Dari sepenggal kisah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kalau kita marah, membuat pembelaan atau membalas cacian terhadap diri sendiri, maka balaslah cacian itu dengan cara teratur, terukur dan terbatas. Jangan berlebih!.

Selain teladan dari Nabi saw., dalam kitab suci juga kita mendapati. Andai kita mau mengadakan pembelaan atau pembalasan yang terkait dengan pelecehan atau penghinaan yang menyangkut pribadi. Ada dua pilihan bagi kita, yakni:

Pertama, bisa memaafkan dan berbuat baik فمن عفى وأصلح فأجره على الله (maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka ada pahala di sisi Allah).

Dan atau kedua, boleh juga membalas. Tapi, dengan balasan yang setimpal. Dalam al-Qur’an disebut, وجزاء سيئة سيئة مثلها (Membalas cacian dengan cacian yang setimpal).

“Jadi, kalau membalas itu ada yang harus kita perhatikan, yaitu batasannya.” Tegas TGB mengingatkan.

BACA JUGA  Prof Dr H Agustitin Setyobudi :Kelahiran Nabi kita Muhammad SAW Harapan Kebahagiaan Yang Abadi.

Apabila batasan-batasan itu tidak diindahkan, maka seseorang yang semula dizhalimi, berubah status menjadi menzhalimi. “Begitu kita melampaui batas, semua hal baik yang kita bawa, berubah menjadi hal-hal yang mudarat.” Kata ulama Doktor tafsir tersebut.

Karena itulah, TGB sangat tidak membenarkan sikap seseorang di Perancis yang datang ke Gereja sambil membawa pisau, lalu menusuk tiga orang bahkan nenek-nenek tua tidak bersalah.

“Bukan begitu cara membela Nabi. Orang yang dibunuh itu tidak tahu apa-apa. Kan yang salah ini Presidennya, maka kepada Presiden itulah diingatkan, diprotes, dan diboikot –produk-produknya– juga masuk akal.” Ulas TGB dengan pemikiran yang logis.

Pemikiran moderat dan terukur dengan menggunakan akal sehat yang disampaikan Tuan Guru Bajang di atas, sebenarnya adalah buah pikiran yang bersumber dari sabda Rasulullah saw. saat berpesan kepada pasukan perangnya dahulu.

Sungguh indah, panduan Rasulullah saw. dalam hal berperang, yaitu jangan sampai membunuh orang kecuali yang bersenjata, jangan membunuh perempuan kecuali ia bersenjata, jangan membunuh anak-anak, orang tua, orang-orang yang berlindung di tempat ibadah, jangan meracuni sumur, memotong pohon dan membakarnya.

Apa makna dibalik manusiawinya panduan Rasulullah saw. tersebut?

“Artinya ialah bahwa semua kegiatan kita untuk menjalankan yang baik, itu harus ada ukurannya. –sebab– Selalu ada batasan yang mengatur kita, agar sesuatu yang baik itu tetap baik.” Demikian penjelasan dari suami Hj. Erica Panjaitan tersebut.

Sebagai penguat hujjahnya, ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar pengganti Prof. Dr. Quraish Shihab itu menyampaikan sebuah kaidah ulama yang mengatakan: كل شيئ إن تجاوز عن حده عاد ضده (Sesuatu yang melampaui batas, maka akan kontraproduktif terhadap tujuannya).

Demikianlah pemaparan akan betapa pentingnya kita tetap menggunakan akal sehat, berpikiran moderat, meski dalam situasi dizhalimi dan kita mampu membalasnya. Kalau pun kita membalasnya, tapi dengan cara yang terukur dan tetap memperhatikan batasannya.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 5 Nopember 2020 M.