Dakwah TGB (37) MAULIDAN, TANDA CINTA DAN BERIMAN

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Acara Maulid Nabi Muhammad saw. di komplek perumahan Citra Indah di Jawa Barat, dihadiri oleh para habaib, ulama dan kiyai, termasuk juga oleh salah satu ulama Nasional, yakni Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Almasyhur bi: Tuan Guru Bajang.

Pada kesempatan yang mulia tersebut, TGB didaulat sebagai pendakwah inti. Mengawali ceramahnya, TGB mengapresiasi kegigihan jamaah merayakan Maulid Nabi Muhammad saw hingga larut malam. Sebuah lambang cinta yang tak ternapikan.

Iklan

“Saat ini pukul 10 malam di Jawa Barat, sementara di Lombok pada waktu yang sama sudah pukul 11 malam, saatnya warga Sasak mulai membaca doa tidur بسمك اللهم أموت وأحيا .” Kata TGB disambut aplus para hadirin.

Kemudian setelah itu, TGB bercerita tentang orang-orang Mesir dahulu yang selalu heran dengan kesibukan para Mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa dari tanah air –memang– sering sibuk dengan kegiatan-kegiatan atau acara-acara keagamaan, termasuk acara semisal Maulid Nabi Muhammad saw.

Jadi, –lanjut TGB– hampir setiap hari Mahasiswa dari sini ada acaranya. Apa sebab? Sebabnya ialah karena masing-masing kelompok Mahasiwa kita yang dari sini, ternyata mereka juga mengadakan acara Maulidan juga.

TGB kemudian menyebut misalnya, ada Keluarga Wali Songo (Mahasiswa asal Jawa Tengah), ada KKS dari Sulawesi, ada KKM NTB, ada KM JB dari Jawa Barat dan Ikatan Keluarga Banten. Semua mereka mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. dan saling mengundang, sehingga sibuk dan ramai dengan acara.

“Jadi, peringatan-peringatan seperti ini tidak banyak dikerjakan di seluruh dunia. Di banyak negara –memang– ada Maulid Rasul, –tapi hanya– semisal di Istana.” Terang Tuan Guru Hafizh al-Qur’an tersebut kepada para hadirin.

BACA JUGA  Muhammad Kasim Arifin Mahasiswa Yang Menghilang 15 tahun

TGB juga menegaskan, bahwa sangat berbeda dengan keadaan di Indonesia, yang di setiap sudut-sudut, setiap kelompok-kelompok masyarakat, bahkan seluruh umat Islam, in syaa Allah Ahlussunnah wal Jamaah, mereka selalu melaksanakan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

Pada kesempatan itu, TGB juga tak menampik bahwa ada banyak orang yang heran dengan sikap umat Islam Indonesia yang gemar mengadakan acara berupa Maulid Nabi Muhammad saw. Maulid beramai-ramai hingga larut malam. Tak sedikit yang membawa anak-anaknya.

Kejanggalan (pertanyaan sebagian orang) itulah yang dibedah TGB dalam ceramahnya malam itu. Sembari beliau mengawali dengan bertanya kepada para hadirin.

Apakah yang menyebabkan Sayyid Seif Alwi bisa datang dari Karawang, atau para guru-guru kita dari berbagai daerah, termasuk saya (TGB) yang datang dari Lombok, dan juga para hadirin, ibu-bapak yang ikut hadir serta tidak sedikit yang membawa anak-anaknya?

“Yang membuat kita ringan datang kemari adalah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw.” Jawaban tegas TGB.

Sebagai penguat argumennya. Ulama jebolan Mesir tersebut membaca sepenggal syair di Simtudduror hal: 30-31:

أشرق الكون إبتهاجا # بوجود المصطفى أحمد
“Alam bersinar bersuka ria menyambut kelahiran Al-Musthafa Ahmad.”

Kalau kita melihat pada lanjutan syairnya, di sana disebutkan, bahwa kegembiraan alam semesta itu menyelimuti seluruh relung alam dan penghuninya, sebagai suatu kegembiraan baru bagi mereka. Maka, mestinya Ahlul Qur’an bergembira, sebagaimana burung Bulbul juga merasakan demikian.

Poin yang disampiakan TGB setelah membaca syair tersebut, ialah bahwa bumi alam yang katanya tidak lebih mulia dari kita sebagai manusia yang diberikan petunjuk, akal dan iman, tapi demikian bahagianya dengan kehadiran manusia agung Nabi Muhammad saw.

Maka, kita sebagai manusia lebih berhak dan lebih patut untuk bergembira ria. Bersuka ria dengan kelahiran manusia agung. Tidak mau kalah dengan alam semesta. Mari nampakkan cinta pada Sang Baginda! Nah –lanjut TGB–, kehadiran kita ini adalah bukti semua itu.

BACA JUGA  Wapres Himbau Masyarakat Rayakan Idul Fitri Dirumah Saja

“Kita hadir di sini (acara Maulid) bukan لغرض الدنيا untuk berjual beli. Kita hadir di sini juga bukan لأغراض السياسية tujuan-tujuan politik, tetapi kita hadir di sini لمحبة الرسول صلى الله عليه وسلم semata cinta Rasul saw.” Tegas TGB menyampaikan esensi menghadiri Maulid Nabi Muhammad saw.

Lagi-lagi TGB mengatakan bahwa cinta butuh bukti, maka kehadiran seseorang di Maulid Nabi Muhammad saw. adalah buah dari bukti cinta mereka kepada Nabinya. Dengan harapan juga, cinta berbuah syafaatnya di hari kiamat.

Sebagai hujjahnya, TGB mengatakan bahwa mengahdiri Maulid sebagai pertanda adanya iman di hati setiap umat Islam yang mengadakan Maulid Rasulullah saw. Beliau mengutip sebuah hadis:

من سرته حسنته وسائته سيئته فهو مؤمن . (الحديث).

Siapa yang berbahagia saat melaksanakan kebaikan-kebaikan, –TGB memisalkan–, seperti berangkat menuju masjid, menyambung silaturrahim, menjenguk orang sakit, atau bergotong-royong dan bahkan semisal Maulid Nabi Muhammad saw.

Dan siapa saja yang sedih saat terjerumus ketika berbuat salah, saat mengerjakan dosa, maka –ketahuilah– dia adalah orang beriman. (Al-Hadis).

“Demikianlah pertanda adanya iman di hati kita, bapak-ibu. Dan kita berdoa, semoga iman dikokohkan, dikuatkan dan diistikomahkan oleh Allah swt.” Jelas TGB.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 29 Oktober 2020 M.