Catatan Perjalanan : TGB orang yang baik

banner post atas

Oleh : Firman Sidik

Siang itu Surabaya diselimuti awan hitam, pertanda akan turun hujan. Pengguna jalan sudah bersiap siap kala itu. Ada yang menggunakan jas hujan sebagai antisipasi akan turunnya hujan. Dan kami,kami sedang berada di dalam mobil dengan tujuan ke penginapan. Jadi tidak perlu khawatir akan turunnya hujan.

Iklan

Memang setiap bepergian,bapak selalu meminta untuk dipesankan mobil grab karena di kota sekelas Surabaya tidak sembarangan kita memberhentikan mobil untuk ditumpangi. Berbeda dengan di Lombok, terlebih di Lombok Timur tinggal nunggu dipinggir jalan pasti ada yang menawarkan tumpangan.

Setelah sampai di penginapan,kami langsung beristirahat karena kelelahan. Ternyata mengelilingi kota Surabaya tidak cukup sehari. Butuh waktu yang lumayan lama karena kota ini menyimpan berbagai sejarah yang mengagumkan. Jadi perlu waktu mengetahuinya dan mendalaminya.

Sembari beristirahat,saya coba berselancar di media sosial. Tak butuh waktu lama,saya langsung ketiduran. Data internet masih menyala, terpaksa kuota harus menjadi korban.

Saya hanya tidur beberapa menit,tidak terlalu lama karena waktu itu saya belum sholat Zuhur. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.12 WIB saya langsung ke kamar mandi untuk wudhu dan kemudian sholat Zuhur.

Setelah sholat,saya lihat dari penginapan ternyata hujan deras sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan kopi.

Saya ingat sebuah status kawan tentang hujan. Hujan adalah teman para seniman. Tapi saya bukan seniman. Akhirnya saya memutuskan membuat tulisan tentang perjalanan kali ini.

Hujan kala itu lumayan lama, sampai magrib. Genangan dan kenangan hampir tidak bisa saya bedakan kala itu. Genangan hujan dan kenangan percintaan. Akhirnya, saya tenggelam mengingat kenangan selama ini.
——-
Esoknya, jadwal penerbangan kami untuk pulang ke Lombok. Jadwal yang awalnya pukul 13.30 WIB berubah ke pukul 11.10 WIB. akhirnya kami kelabakan karena belum tes repid antigen. Beruntunglah kami tesnya tidak terlalu menunggu waktu lama. Setelah itu kami langsung ke bandara dengan mobil grab yang sudah di pesan.

BACA JUGA  Simak Nih, MK Memutuskan : Sekarang Leasing dan Debt Collektor Enggak Bisa Asal Tarik Motor atau Mobil, Begini Syaratnya.

Sepanjang perjalanan ke bandara Juanda,kami bertiga tenggelam dalam percakapan yang serius. Kami beserta sopir grab membahas tentang TGB atau ayahanda Zainul Majdi ketika sopir grab menanyakan tempat kuliah saya.

Saya bertanya nama pak sopir yang humoris ini, lantas ia menyebutkan namanya. “Nama saya David”. Laki – laki yang berumur sekitar 40 tahunan ini sudah lama menekuni pekerjaan sebagai sopir.

” Mas kuliah di mana ? “,tanya nya penuh kegirangan.
” Saya kuliah di Lombok pak,di Lombok Timur tepatnya di IAIH NW Pancor “. Sambil tersenyum saya menjawab.
“Ngambil jurusan apa ?”. Tanya nya kembali.
” Saya ngambil jurusan komunikasi penyiaran Islam. Rektor saya pak TGB Zainul Majdi “. Dengan bangganya saya mengucapkannya. Karena memang benar, beliau adalah rektor kami.

Mas David langsung melihat saya dan merasa kaget. ” TGB yang sering di TV itukah ?” Tanya nya kembali.
“Betul sekali”. Sambil tersenyum saya menimpali.

” Saya kira pak TGB akan mencalonkan diri jadi wakil presiden kemarin. Tapi ternyata Ndak mas. Padahal orangnya berkompeten,baik pula. Orang baik tanpa uang pun bakalan menang “. Saya rasa mas David selalu update tentang TGB.

” TGB itu orang baik, orang baik itu kalau jadi pemimpin 3 – 4 periode ndak masalah,toh juga orang baik. Saya lihat beliau adalah orang yang tidak banyak bicara. Orang yang banyak ilmunya tidak terlalu banyak bicara. ” Tambahnya.

Memang penuturan beberapa orang yang saya tanya tentang karakter TGB, beliau adalah orang yang berbicara seperlunya. Tidak terlalu menghabiskan tenaga untuk membicarakan hal – hal yang tidak perlu.

” Saya kira juga begitu pak, bahkan saya kira inisial M yang digadang – gadang akan menjadi calon wakilnya pak Jokowi di pilpres 2019 kemarin adalah pak Muhammad Zainul Majdi. Ternyata bukan “. Ungkap bapak menambahkan.

BACA JUGA  Pengukuhan Laskar Sasak, HMSL berpesan Laskar Sasak Harus menjadi Garda Terdepan

Percakapan kali ini cukup mengasyikkan. Terlebih membahas tentang tuan guru bajang.

Sayapun dulu berpikir bahwa TGB akan dipersunting oleh pak Jokowi untuk dijadikan wakil. Terlebih waktu itu TGB sering muncul dan menjadi buah bibir khalayak ramai.

Pembicaraan kami terhenti ketika sudah sampai di bandara. Tepat pukul 09. 07 WIB kami sampai.

Sepanjang perjalanan di dalam bandara,saya berpikir adakah orang Lombok yang di kenal selain TGB. Saya langsung ingat Syaikh Ali Jaber. Ternyata banyak orang hebat dari NTB.

Selang beberapa menit,saya mencoba mengaktifkan data internet. Saya kaget dengan informasi yang tersebar bahwa Syaikh Ali Jaber meninggal waktu itu. Pamflet banyak tersebar untuk memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa meninggalnya salah satu panutan kita.

Syaikh Ali Jaber adalah orang yang adem sekali ketika berceramah. Saya belum pernah bertemu secara langsung. Tapi saya yakin beliau adalah orang yang baik yang menyebarkan kebaikan.

Doa terbaik untuk kita semua.

Surabaya,14 Januari 2021