Dalam Islam, saudara memiliki hak dan kedudukan yang sangat besar terhadap sesama saudaranya. Bukan sekedar hak, perannya pun begitu besar terhadap sesama saudaranya.
Dalam sebuah syair digambarkan peran saudara terhadap sesama saudaranya ibarat orang yang maju di medan peperangan dan sebuah senjata. Dimana orang yang tidak punya saudara diibaratkan seperti orang yang maju menuju medan peperangan tetapi tidak membawa senjata.
أخاكَ أخاكَ إنَّ مَن لا أخ لَه ❇️ كَساعٍ إلى الهَيجا بِغَيرِ سِلاحِ
Artinya: Jagalah saudara mu, perhatikan saudara mu, karena orang yang tidak memiliki saudara itu bagaikan orang yang maju ke medan perang tanpa membawa senjata.
Karena begitu besar peran sesama saudara dalam kehidupan, maka saudara harus disayangi dan dihargai supaya tali persaudaraan tetap utuh dan terjalin.
Dalam sebuah hadits yang terdapat pada kumpulan hadits Sahih Bukhari No. Hadist: 12 disebutkan tentang bagaimana menyayangi saudara sesama muslim. Seseorang harus mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.
Artinya, kalau seseorang tidak suka jika dihina dan dicaci, maka janganlah dia menghina dan mencaci saudaranya sebagaimana dia tidak suka kalau dihina dan dicaci. Karena apa yang dirasakan oleh saudaranya, sama dengan apa yang dia rasakan. Jika dia senang dihargai, maka saudaranya pun akan senang untuk dihargai.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu’alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.
Muhammad Fathi




