Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang datang lalu pergi, tetapi merupakan madrasah ruhani yang meninggalkan jejak pendidikan mendalam bagi setiap Muslim. Setelah Ramadan berlalu, sejatinya yang diuji bukan lagi seberapa kuat kita beribadah di dalamnya, melainkan seberapa mampu kita mempertahankan nilai-nilai yang telah dilatih selama sebulan penuh.
Salah satu didikan utama Ramadan adalah latihan berpuasa. Selama satu bulan, kita ditempa untuk menahan lapar, dahaga, serta mengendalikan hawa nafsu dan menjaga lisan dari perkataan yang buruk. Maka, selepas Ramadan, semestinya kita terbiasa melanjutkan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh. Ini menjadi bukti bahwa latihan yang telah kita jalani tidak berhenti, melainkan berlanjut sebagai kebiasaan yang menguatkan ketakwaan.
Selain itu, Ramadan juga mendidik kita dalam memperbanyak salat. Melalui salat tarawih, kita terbiasa berdiri lebih lama di hadapan Allah, memperbanyak rakaat, dan merasakan kelezatan ibadah malam. Pertanyaannya, setelah Ramadan berlalu, mampukah kita mempertahankan kebiasaan tersebut? Jika belum mampu melakukan sebanyak tarawih, setidaknya jangan tinggalkan salat witir setelah Isya. Inilah bentuk minimal dari konsistensi yang menunjukkan bahwa didikan Ramadan masih hidup dalam diri kita.
Selengkapnya baca di Sini
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan
Jakarta melalui rekening resminya di – 32500
1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS
NAHDLATUL CQ SUHADI




