Setiap musim haji berakhir, umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, menyambut dengan penuh haru dan bahagia kedatangan para jamaah haji yang baru menunaikan rukun Islam kelima. Tidak hanya keluarga dekat yang menyambut, tetapi juga tetangga, kerabat, hingga masyarakat luas datang untuk bersilaturahmi dan mengucapkan “selamat datang” kepada para haji. Di balik tradisi ini, terdapat makna spiritual yang dalam, termasuk kepercayaan dan keyakinan akan adanya berkah dari orang yang baru pulang haji.
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, melainkan sebuah transformasi ruhani yang mendalam. Dalam perjalanan tersebut, seorang muslim melepaskan diri dari segala atribut duniawi, mengenakan kain ihram yang putih sebagai simbol kesetaraan dan ketundukan di hadapan Allah. Mereka bertawaf mengelilingi Ka’bah, wukuf di Arafah, dan menjalani serangkaian ritual lain yang sarat makna.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Siapa yang menunaikan haji karena Allah dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa orang yang baru pulang dari haji berada dalam keadaan suci, bersih dari dosa-dosa masa lalunya. Kesucian inilah yang diyakini oleh sebagian umat Islam sebagai sumber keberkahan.
Kepercayaan akan keberkahan orang yang baru pulang haji lahir dari keyakinan bahwa mereka baru saja menjalankan ibadah agung yang penuh pengampunan, pengorbanan, dan kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, masyarakat kerap datang untuk … selengkapnya baca disini 👇
Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 242
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI



