Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Meraih Ketenteraman Hidup Melalui Zikrullah
Khotbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala. Atas begitu banyak nikmat yang tercurah kepada kita, di antara sekian banyak nikmat yang tak terhitung, nikmat iman dan Islam menempati peringkat pertama yang wajib kita syukuri, kita pertahankan, dan kita pegang teguh hingga akhir hayat kita nanti.
Salawat serta salam tak lupa kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga kita semua yang hadir di tempat ini kelak di akhirat mendapatkan syafaat dan diakui sebagai umat beliau. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dengan istiqomah melaksanakan semua perintah-Nya dan istiqomah pula menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
Hadirin Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Kita tentu ingin hidup kita tenteram, nyaman, bahagia, dan menyenangkan. Ini adalah dambaan setiap umat manusia. Bahkan orang yang tidak beragama pun ingin hidupnya tenteram, nyaman, dan bahagia.
Namun kenyataannya, untuk mendapatkan kondisi terbaik ini, tidak semua manusia mampu mewujudkannya. Berbagai upaya, usaha, dan pengorbanan harta benda begitu banyak dikeluarkan untuk mendapatkan kehidupan seperti ini, tetapi tidak semua orang mendapatkannya. Mengapa? Karena mereka tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya cara untuk mendapatkannya.
Jika kita merujuk kembali kepada Al-Qur’an, ketenteraman, kenyamanan, dan kebahagiaan itu ternyata dimulai dari bagaimana kondisi hati kita. Bila hati kita tenteram, maka tenteram pula kehidupan kita. Sebaliknya, bila hati kita runyam dan gelisah, maka kacaulah hidup kita.
Lalu, bagaimana agar hati kita itu tenteram? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Yaitu orang-orang yang beriman and hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat yang sangat populer ini menegaskan bahwa hanya ada satu jalan utama untuk mendapatkan ketenteraman hati, yaitu melalui zikir sebagai pengingat rohani dan batin agar senantiasa bersama Sang Pencipta. Itulah kondisi hati yang terbaik: senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan.
Ingat Allah dalam keadaan berdiri, ingat Allah dalam keadaan duduk, ingat Allah dalam keadaan berbaring atau tidur, bahkan dalam keadaan berjalan dan bergerak melakukan aktivitas apapun di dunia ini. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَYَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, and mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Dengan hati yang senantiasa mengingat Allah, keteduhan, ketenteraman, ketenangan, dan kedamaian akan begitu terasa di dalam batin. Inilah sesungguhnya yang dicari oleh semua umat manusia.
Harta benda sebanyak apapun, pangkat yang tinggi, serta gelar-gelar akademik yang begitu banyak hingga mencapai tingkat tertinggi—entah itu profesor atau doktor—jika tidak pernah diiringi dengan zikir dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka jangan harap semua pencapaian duniawi itu akan membuat hatinya tenteram. Dan jika hatinya tidak tenteram, mana mungkin hidupnya akan tenang?
Sebaliknya, Allah Ta’ala juga memperingatkan akibat orang yang berpaling dari zikir kepada-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, and Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)
Masihkah kita mau menolak petunjuk ini? Betapa merugi dan menderitanya jika kita jauh dari Allah dan tidak pernah berzikir mengingat kebesaran-Nya. Kita akan mendapatkan kehidupan yang terasa sempit, walaupun harta bendanya banyak, jabatannya tinggi, dan gelarnya mentereng.
Oleh karena itu, janganlah karena kita sibuk mencari harta benda dan jabatan duniawi, hal itu justru membuat kita makin jauh dari Allah. Ini adalah kesalahan besar. Semakin tinggi level kehidupan kita, semakin banyak harta benda kita, serta semakin tinggi pangkat dan jabatan kita, seharusnya itu semua semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.
Jadikanlah fasilitas-fasilitas duniawi tersebut sebagai sarana untuk mendukung ketaatan kita kepada Allah. Salurkan di jalan yang benar: untuk menolong agama Allah, membantu sesama, menegakkan keadilan, serta membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
Dalam Islam, tidak menjadi masalah apakah seseorang itu miskin atau kaya, yang paling utama adalah kondisi hatinya. Jika hatinya penuh dengan zikir kepada Allah, walaupun hidup dalam kesederhanaan, ia akan merasa kaya dan tidak akan mengeluh. Begitu pula jika ia kaya, ia akan senantiasa bersyukur dan berderma, sehingga hartanya tidak membuat ia lupa diri, yang justru bisa mengeraskan hati dan menyempitkan jiwanya.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Hal yang paling esensial dalam pandangan Allah adalah kondisi hati dan spiritual kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengingatkan kita melalui sabdanya:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْوَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian dan tidak pula harta benda kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Pantaslah jika Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengingatkan bahwa baik buruknya seluruh jasad kita sangat bergantung pada hati kita:
أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ القَلْبُ “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, and jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu pula Imam Al-Ghazali mengumpamakan hati itu sebagai seorang raja. Jika sang raja adil dan baik, maka rakyat (seluruh anggota tubuh) pun akan mendapatkan ketenteraman.
Semoga khotbah Jumat yang singkat ini mampu kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi panduan bagi kita untuk meraih ketenteraman yang abadi—dari kehidupan dunia yang fana ini hingga kelak berjumpa dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah Kedua (Bahasa Arab)
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نُفُوسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.





