Hati adalah pusat kehidupan manusia. Jika hati baik, baik pula ucapan, perbuatan, dan akhlaknya. Sebaliknya, hati yang kering dari mengingat Allah mudah dipenuhi kegelisahan, iri, sombong, dan berbagai penyakit batin. Karena itu, hati perlu disuburkan sebagaimana tanah membutuhkan air dan cahaya. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).
Menyuburkan hati dapat dilakukan dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, serta menjaga shalat dengan penuh kekhusyukan. Amalan-amalan tersebut bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan jalan untuk menghadirkan Allah dalam setiap keadaan. Ketika hati terbiasa mengingat-Nya, seseorang akan lebih mudah mengendalikan emosi, menjauhi keburukan, dan menerima ketetapan-Nya dengan lapang.
Hati juga akan tumbuh subur dengan menghadiri majelis ilmu, berteman dengan orang saleh, memperbanyak sedekah, dan membiasakan diri bersyukur. Ilmu memberikan arah, lingkungan yang baik menguatkan semangat, sedekah membersihkan jiwa dari kecintaan berlebihan kepada dunia, sedangkan syukur menumbuhkan kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari Allah. Bahkan, membantu sesama dengan tulus dapat menghadirkan kebahagiaan yang tidak selalu diperoleh dari harta. Selengkapnya baca di Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 305
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI




