Khutbah Jum’at Edisi 18 September 2026 “Bersyukur: Kunci Meraih Ketenangan dan Kedamaian Hidup”.
KHUTBAH PERTAMA
(Mukaddimah)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ وَتَوْفِيقِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ وَالسَّكِينَةُ فِي الْقُلُوبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Salat Jumat yang Dimuliakan dan Dihormati Allah,
Alhamdulillah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini, kita masih diberikan nikmat iman, islam, serta kesehatan sehingga dapat kembali bersua dan merapatkan shaf dalam rangka menunaikan ibadah salat Jumat secara berjamaah di masjid yang mulia ini.
Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabatnya, dan umatnya hingga akhir zaman. Semoga kelak di hari kiamat, kita termasuk hamba-hamba pilihan yang berhak mendapatkan syafaat dari beliau. Amin amin ya Rabbal ‘alamin.
Melalui mimbar yang mulia ini, khotib berwasiat khusus kepada diri pribadi dan umumnya kepada jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala—yaitu dengan istiqomah menjalankan seluruh perintah-Nya dan istiqomah pula menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Hadirin Kaum Muslimin yang Berbahagia Rahimakumullah,
Di tengah gelombang kehidupan dunia yang kian tak menentu, setiap diri kita pasti mendambakan satu hal yang amat berharga: ketenangan dan kedamaian jiwa.
Namun realitanya, tidak semua orang berhasil menemukannya. Demi menggapai rasa tenang itu, banyak manusia bertungkus-lumus menguras tenaga, menghabiskan waktu, dan menggelontorkan dana yang amat besar. Ada yang melarikan diri dari keramaian, pergi ke gua, mendaki gunung, menyendiri di puncak, hingga melancong ke mancanegara. Mereka menyangka ketenangan bisa dibeli atau ditemukan di tempat-tempat yang jauh.
Mengapa demikian? Karena tumpukan harta benda, megahnya kediaman, dan melimpahnya fasilitas duniawi sesungguhnya tidak pernah sanggup menjamin hati menjadi tenteram. Itulah sebabnya, ketika akhir pekan atau hari libur tiba, manusia berbondong-bondong meninggalkan rumah dan rutinitas kantor demi mencari suasana baru. Namun acapkali, seusai liburan usai, rasa hampa dan gelisah itu kembali datang menyapa.
Ma’asyiral Muslimin yang Dirahmati Allah,
Jika kita kembali kepada petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesungguhnya sumber ketenangan itu berada di dalam diri kita sendiri, yaitu melalui Rasa Syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bersyukur artinya tahu diri dan berterima kasih atas setiap curahan nikmat yang Allah berikan. Bersyukur adalah fondasi utama kepuasan batin. Ketika hati senantiasa bersyukur, jiwa akan merasa cukup, terpuaskan, dan tercegah dari perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merusak tatanan kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh, azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)
Dari ayat ini kita belajar satu hakikat besar: betapapun kecilnya nikmat yang kita terima, jika kita syukuri, Allah berjanji akan menambahnya. Apalagi terhadap nikmat yang besar. Dan di antara karunia terbesar dari tambahan nikmat syukur itu adalah Allah menanamkan kedamaian dan kelapangan dalam dada kita.
Sebaliknya, ketika manusia kufur dan mengabaikan nikmat Allah, yang diundang adalah penderitaan dan azab dari-Nya. Ketika azab dan murka Allah itu turun, dari sinilah bersumber segala kekacauan jiwa, kegelisahan, dan penyakit batin yang meremukkan kedamaian hidup.
Lantas, apa artinya tumpukan harta melimpah jika jiwa senantiasa berguncang? Harta yang tidak disyukuri kelak akan berbalik menyerang pemiliknya—menjadi fitnah, beban mental, dan petaka kehidupan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Syukur bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan diwujudkan dalam tindakan: memanfaatkan rezeki di jalan yang diridhai-Nya. Berbagi kepada sesama, menyokong perjuangan agama, menyantuni anak-anak yatim, serta mengulurkan tangan bagi kaum dhuafa dan sesama yang membutuhkan.
Ketika kita menyisihkan harta bagi mereka yang berhak, di balik wajah-wajah bahagia itu mengalir doa-doa yang tulus: semoga hidupmu berkah, rezekimu bertambah, dan jiwamu senantiasa tenang. Doa-doa tulus dari kaum lemah itulah yang diijabah Allah menjadi muara ketenangan dalam jiwa dan pikiran kita.
Ingatlah, Allah adalah Pemilik Segala Rezeki. Dialah yang menganugerahkan kesehatan, pernapasan, dan kekuatan fisik.
Bahkan, jika secara materi kita merasa terbatas, ingatlah betapa kaya diri kita dalam ciptaan-Nya. Dalam tubuh kita terdapat sendi-sendi dan ruas tulang yang bekerja tanpa henti. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat fisik ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk menunaikan salat sunnah Dhuha.
Sebagaimana diriwayatkan dalam sabda beliau:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ… وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Setiap pagi, setiap ruas tulang (persendian) dari salah seorang di antara kalian memiliki kewajiban sedekah… Dan semua itu dapat dicukupi dengan menunaikan dua rakaat salat Dhuha.” (HR. Muslim)
Para ulama dan ahli medis menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat 360 ruas tulang/persendian. Bayangkan, 360 persendian bekerja harmoni setiap hari! Maka dua rakaat Dhuha yang kita tegakkan adalah ungkapan ‘terima kasih’ atas kesempurnaan fisik yang tak ternilai harganya.
Hadirin Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menuntun kita untuk menjadi hamba yang tahu diri. Beliau mengajarkan sebuah doa agar kita senantiasa dianugerahi ketenangan dan dibimbing untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud)
Maka dari itu, marilah kita jadikan ucapan terima kasih dan rasa syukur sebagai cermin keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan biarkan murka Allah merenggut ketentraman hidup kita. Gunakan setiap detik umur, setiap hembusan napas, dan setiap rezeki yang ada untuk menggapai ridha dan rahmat-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta melembutkan hati kita, mengaruniai kita jiwa yang qana’ah, serta memelihara hidup kita dalam naungan kedamaian dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
(Khutbah Kedua Lengkap Berbahasa Arab)
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِينَ، وَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ وَالاطْمِئْنَانَ فِي قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا حَيَاةً طَيِّبَةً فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV
-
Kontak: 0878-8727-0732



