Cegah Kenakalan Remaja dan Narkoba, Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Ajak Sinergi Lintas Sektor Cetak Generasi Emas 2045

Cegah Kenakalan Remaja dan Narkoba, Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Ajak Sinergi Lintas Sektor Cetak Generasi Emas 2045

 

Cegah Kenakalan Remaja dan Narkoba, Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Ajak Sinergi Lintas Sektor Cetak Generasi Emas 2045

JAKARTA, Sinar5News.com – Dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), SMP Nahdlatul Wathan Jakarta menggelar kegiatan sosialisasi hukum dan pencegahan kenakalan remaja. Menariknya, pemateri utama dalam kegiatan ini adalah seorang alumni yang kini mengabdi sebagai penegak hukum di Kementerian Hukum dan HAM.

Jurnalis SinarLIMA, Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM, (Ust. Amrullah) berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Khotibul Umam, S.Sos, M.Pd, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Timur-Utara. Selain bertugas mendampingi anak yang berhadapan dengan hukum, beliau juga diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta.

Berikut petikan wawancara lengkapnya:

Misi Preventif: Mengedukasi Sebelum Terjadi Pelanggaran Hukum

SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Khotibul Umam, mohon memperkenalkan diri dan bisa dijelaskan dalam rangka apa kehadiran Bapak beserta tim di SMP Nahdlatul Wathan Jakarta hari ini?

Khotibul Umam: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah, perkenalkan saya Khotibul Umam. Kebetulan saya juga alumni dari Nahdlatul Wathan Jakarta dari SD hingga SMP, dan saat ini diamanahkan menjadi Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta. Keseharian saya bertugas di Bapas Wilayah Timur-Utara dan Kepulauan Seribu.

Kehadiran kami di sini memenuhi undangan dari pihak sekolah untuk mengisi materi MPLS. Kami membawa misi untuk mensosialisasikan pencegahan kenakalan remaja secara umum, serta secara khusus mengenai pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.

SinarLIMA: Apakah program “Go to School” ini merupakan inisiatif pribadi, negara, atau program sekolah?

Khotibul Umam: Ini adalah bagian dari tugas negara. Salah satu fungsi kami sebagai Pembimbing Kemasyarakatan adalah mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Kami tidak ingin bergerak hanya saat masalah hukum sudah terjadi. Justru tindakan preventif (pencegahan) seperti Go to School ini sangat krusial agar anak-anak remaja kita tidak sampai bermasalah dengan hukum.

Para peserta MPLS SMP Nahdlatul Wathan Jakarta mengikuti dengan seksama tentang pencegahan kenakalan remaja

Dalam sosialisasi ini, saya tidak sendiri. Kami menurunkan tim yang terdiri dari 4 anggota lintas jenjang: saya sendiri (PK Muda), Ibu Sausan Fauziya dan Ibu Andi Fieda Eky (PK Pertama), serta Ibu Noviana Hapsari (PK Madya). Kami juga menyertakan para Taruna dari Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) yang sedang magang di kantor kami agar mereka belajar berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Peta Kerentanan Remaja: Batas Antara Wajar dan Pelanggaran Hukum

SinarLIMA: Melihat kondisi saat ini, bagaimana pandangan Anda mengenai kedekatan anak-anak kita dengan potensi kenakalan remaja?

Khotibul Umam: Harus kita akui, anak-anak zaman sekarang cukup rentan terpengaruh. Kenakalan yang terjadi mulai dari yang sifatnya biasa hingga yang berpotensi menjadi tindak pidana. Contohnya pencurian, perundungan (bullying), dan yang sudah masuk tahap darurat adalah penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.

Banyak dari mereka yang terlibat tindak pidana sebenarnya tidak paham bahwa tindakan yang mereka lakukan itu melanggar hukum. Di sinilah pentingnya pembekalan edukasi hukum sejak dini.

SinarLIMA: Bagaimana cara Anda mengukur atau membatasi mana kenakalan yang masih dianggap wajar dan mana yang sudah tidak wajar secara hukum?

Khotibul Umam: Jika mengacu pada teori dan aturan hukum, kenakalan yang “wajar” dalam tanda kutip—artinya murni dinamika psikologis remaja dan bukan pelanggaran hukum—misalnya bolos sekolah atau menyontek saat ujian.

Namun, ketika kenakalan itu sudah bergeser menjadi perkelahian atau tawuran, itu bukan lagi kenakalan biasa. Di sana ada Undang-Undang Perlindungan Anak yang melindungi fisik dan sosial anak. Begitu juga ketika anak-anak membawa senjata tajam. Walaupun dalihnya hanya disimpan di tas dan tidak digunakan, itu sudah melanggar Undang-Undang Darurat terkait kepemilikan senjata tajam tanpa izin. Banyak anak yang tidak tahu risiko hukum ini karena ikut-ikutan teman agar tidak dibilang “cemen”.

SinarLIMA: Jika ada anak yang terlanjur melakukan pelanggaran hukum, apakah langsung diberi sanksi pidana atau ada pembinaan khusus?

Khotibul Umam: Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), negara mengutamakan keadilan restoratif melalui proses Diversi—yaitu penyelesaian perkara anak di luar jalur pengadilan formal. Kita utamakan musyawarah dan pembinaan terlebih dahulu, karena anak-anak sering kali menjadi korban lingkungan, ejekan teman sebaya, atau arus media sosial.

Media Sosial dan Pentingnya Sinergi Multi-Pihak

SinarLIMA: Tadi Bapak menyinggung soal media sosial. Seberapa besar pengaruh teknologi terhadap tren kenakalan remaja saat ini?

Khotibul Umam: Sangat besar. Dua faktor paling berpengaruh dari pengalaman kami di lapangan adalah media sosial dan teman sebaya. Dulu, ajakan berbuat tidak baik tidak semudah sekarang. Sekarang, HP sudah di tangan masing-masing. Bahkan dalam beberapa kasus, aksi tawuran itu direncanakan dan dikoordinasikan lewat grup media sosial.

Selain itu, anak-anak sering tidak sadar bahwa menyebarkan berita bohong (hoax) atau melakukan ujaran kebencian di medsos bisa langsung dijerat hukum melalui UU ITE. Tantangan ke depan luar biasa besar.

SinarLIMA: Melihat tantangan yang begitu besar, apa saran Anda untuk pihak sekolah dan masyarakat?

Khotibul Umam: Kita harus bersinergi. Beban guru di sekolah sudah sangat berat untuk mendidik, mengajar, sekaligus memberi teladan. Oleh karena itu, komponen masyarakat, instansi penegak hukum, dan orang tua harus bergerak bersama. Metode pembelajaran hukum secara langsung dari praktisi seperti ini diharapkan bisa memberikan dampak psikologis yang kuat bagi siswa.

Pesan untuk Adik-Adik Kelas dan Harapan Emas 2045

SinarLIMA: Sebagai alumni sukses dari Nahdlatul Wathan, bagaimana nilai-nilai sekolah ini membantu membentuk karier Anda?

Khotibul Umam: Poin utamanya adalah keseimbangan. Di Nahdlatul Wathan, kita tidak hanya dibekali ilmu duniawi seperti matematika, IPA, atau IPS, tetapi juga dibentengi dengan ilmu-ilmu agama yang kuat. Nilai-nilai agama inilah yang menjadi rem dan filter terbaik di luar sana.

Bagi adik-adik yang ingin mengikuti jejak berkarier di kedinasan, kami juga mengajak para Taruna Poltekip hari ini untuk memberikan motivasi. Kami ingin memperlihatkan bahwa anak-anak NW bisa sukses menembus sekolah kedinasan dan mengabdi pada negara.

SinarLIMA: Apa pesan penutup Anda untuk siswa-siswi dan masyarakat luas yang ingin menyekolahkan anaknya di Nahdlatul Wathan?

Khotibul Umam: Untuk adik-adik sekalian, bijaklah dalam bergaul dan batasi diri dalam menggunakan media sosial. Saya ingin mengutip salah satu wasiat dari pendiri Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid: “Tinggalkanlah cerita yang baik bagi generasi yang memahami sejarah.” Jadilah orang baik agar menjadi cerita dan teladan indah bagi generasi setelah kita.

Bagi masyarakat luas, jangan ragu untuk menyekolahkan anak-anak di Yayasan Pendidikan Nahdlatul Wathan. Di sini platform proteksinya lengkap; ilmu umum didapat, dasar agama ditanamkan secara mendalam. Ini modal utama untuk mencetak Generasi Emas 2045 yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlakul karimah.

SinarLIMA: Terima kasih banyak, Pak Khotibul Umam, atas waktu dan pemaparan yang sangat luar biasa ini. Insyaallah membawa manfaat besar bagi pemirsa SinarLIMA. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Khotibul Umam: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih kembali.

Catatan Redaksi: Wawancara ini dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juli 2026, di sela-sela kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Nahdlatul Wathan Jakarta.

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA