Ust. Taufiqurrahman: Menggali Makna Al-Qur’an Lewat Bait Syair, Solusi Praktis Memahami Kalamullah di Era Modern
-
Narasumber: Ust. Taufiqurrahman (Praktisi Tafsir / Imam Masjid Al-Hidayah VGH 2 Blok C)
-
Pewawancara: Kru Media SinarLIMA
-
Tempat: Kediaman Ust. Taufiqurrahman, Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) 2, Blok D2 No. 12A, Satria Mekar, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi.
SinarLIMA:Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Ustaz. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kami dari Media SinarLIMA. Senang sekali bisa bersilaturahmi di kediaman Ustaz. Di hadapan kita saat ini sudah ada buku karya terbaru berjudul “Tafsir Pendekatan Syair Juz 1: Menyelami Surat Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah Ayat 1-141” yang baru saja Ustaz terima dan baca sekilas. Mohon izin Ustaz, boleh perkenalkan diri terlebih dahulu kepada pembaca SinarLIMA, dan bagaimana pandangan awal Ustaz mengenai buku ini?
Ust. Taufiqurrahman:Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, salam kenal untuk pemirsa dan pembaca SinarLIMA. Nama saya Taufiqurrahman, keseharian selaku praktisi tafsir dan juga diamanahkan sebagai Imam di Masjid Al-Hidayah VGH 2 Blok C.
Mengenai buku ini, alhamdulillah saya sudah membacanya meskipun baru sekilas. Yang jelas, kesan pertama saya adalah tafsir ini sangat mudah dipahami. Bahasanya lugas, mengalir, dan yang paling penting, kontennya tidak keluar dari konteks ayat asli yang sedang ditafsirkan. Pendekatan lewat media syair inilah yang membuat buku ini sangat unik dan langka. Jarang sekali ada ulama atau penulis yang bisa meramu pendekatan tafsir Al-Qur’an ke dalam bentuk syair yang indah seperti ini. Jadi secara pribadi, saya sangat menyambut positif dan mendukung penuh kehadiran buku ini.
SinarLIMA: Masyaallah. Berarti menurut Ustaz, buku ini sudah sangat layak untuk dijadikan acuan bagi masyarakat ya?
Ust. Taufiqurrahman: Iya, betul sekali. Ini sangat bisa dijadikan acuan untuk lebih memudahkan masyarakat dalam memahami Al-Qur’an. Jika dilihat dari segi bait-bait syairnya, subhanallah, bagus sekali. Ditambah lagi dari sisi fisik buku; desain cover-nya sangat cocok dan menarik, kertasnya putih bersih, serta huruf atau font tulisannya sangat jelas dan nyaman dibaca. Ini poin plus yang sangat menunjang.
SinarLIMA: Di tengah banyaknya kitab tafsir konvensional yang beredar, di mana posisi buku “Tafsir Pendekatan Syair” ini menurut kacamata Ustaz?
Ust. Taufiqurrahman: Buku ini bisa menjadi khazanah baru dan tambahan referensi yang berharga bagi para ulama, asatidz, maupun masyarakat umum. Tafsir ini memperkaya wawasan keilmuan kita, terutama dari segi metodologi bahasa dan pendekatan ilmiah yang kreatif. Kembali saya tegaskan, kehebatannya adalah keindahan syairnya sama sekali tidak mengaburkan atau keluar dari konteks ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan.
Kebetulan spesialisasi saya memang di bidang tafsir, dan sepanjang pengetahuan saya, model tafsir dengan pendekatan syair berbahasa Indonesia seperti ini baru pertama kali ini saya temukan. Ini sebuah inovasi yang luar biasa dan sangat positif untuk dunia literasi Islam.
+--------------------------------------------------------------------------+
| KEUNGGULAN UTAMA BUKU TAFSIR |
| (Menurut Ust. Taufiqurrahman) |
+--------------------------------------------------------------------------+
| 1. Kontekstual : Isi tafsir konsisten & tidak keluar dari makna ayat. |
| 2. Unik & Langka : Menggunakan pendekatan bait syair berbahasa Indonesia. |
| 3. Aksesibel : Sangat mudah dipahami oleh masyarakat awam / umum. |
| 4. Desain Nyaman : Cover menarik, kertas putih bersih, & huruf jelas. |
+--------------------------------------------------------------------------+
SinarLIMA: Mengingat buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia, seberapa besar urgensinya bagi umat Muslim di Indonesia pada umumnya, Ustaz?
Ust. Taufiqurrahman: Urgensinya sangat besar. Harus kita akui, kalau tafsir menggunakan bahasa Arab murni, mungkin hanya kalangan asatidz atau santri pesantren saja yang paham. Sedangkan masyarakat umum memerlukan metode alternatif yang membumi.
Di zaman sekarang, banyak orang yang pandai membaca Al-Qur’an, tetapi sayangnya tidak mengetahui atau tidak paham apa isinya. Buku ini hadir sebagai solusi. Masyarakat tinggal membaca syairnya, lalu mereka akan dengan mudah menemukan korelasi maknanya dengan ayat yang dimaksud. Metodenya sangat pas. Saya berharap buku ini bisa tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat kita di era modern ini, agar umat tidak semakin jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
SinarLIMA: Luar biasa. Nah Ustaz, kami juga penasaran dengan profil Ustaz sendiri. Saat menjelaskan makna tafsir tadi di hadapan jamaah Masjid Al-Hidayah, penjelasannya begitu mengalir dan mendalam. Bagaimana sebenarnya persiapan belajar Ustaz dahulu? Apakah memang memiliki dasar kuat atau bagaimana?
Ust. Taufiqurrahman:Alhamdulillah, semua ini murni karunia dan kemudahan dari Allah SWT. Secara basic atau dasar, saya memang mempelajari ilmu Al-Qur’an dan perangkatnya sejak dahulu. Saya dahulu menimba ilmu di Madrasah Aliyah di daerah Garut, Jawa Barat. Sejak masa sekolah di Garut itulah saya memang senang mendalami dan memahami isi Al-Qur’an.
Ibaratnya seperti bertani; ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan kaidah tafsir yang saya pelajari dulu itu adalah cangkulnya (alatnya), sedangkan Al-Qur’an itu adalah sawahnya. Jadi, cangkul yang sudah kita miliki sejak dulu ini harus dipraktikkan langsung untuk menggarap sawah agar menghasilkan buah yang subur dan bermanfaat bagi orang banyak. Kita tidak boleh hanya memperbagus cangkul, tapi sawahnya diabaikan.
Filosofi Dakwah Ust. Taufiqurrahman: “Ilmu alat (Nahwu, Sharaf, Kaidah Tafsir) adalah cangkulnya, sedangkan Al-Qur’an adalah sawahnya. Tugas kita adalah menggunakan cangkul tersebut dengan baik agar sawah dakwah ini bisa menghasilkan buah kemaslahatan bagi umat.”
SinarLIMA: Masyaallah, perumpamaan yang sangat indah. Lalu, apa yang melatarbelakangi Ustaz hingga akhirnya berhijrah ke Bekasi ini?
Ust. Taufiqurrahman: Saya hijrah ke Bekasi ini sudah cukup lama, sejak tahun 1998, jadi sudah sekitar 28 tahun saya menetap di sini. Tujuannya tidak lain adalah melihat adanya lahan dakwah di Bekasi ini. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kita buka majelis dan membina umat di sini.
SinarLIMA: Selama 28 tahun mengajar tafsir kepada jamaah di Bekasi, pernahkah Ustaz merasa ada ayat yang terasa sangat berat untuk disampaikan? Dan bagaimana respons jamaah selama ini?
Ust. Taufiqurrahman: Alhamdulillah, selama ini tidak menjadi beban yang berat karena kunci utamanya adalah kita selalu mengutamakan masalah akidah terlebih dahulu. Kalau akidahnya sudah kuat, menerima ayat apa pun akan terasa ringan.
Respons jamaah alhamdulillah sangat baik dan mudah paham. Mengapa? Karena metode ngaji kita adalah ngaji langsung membuka kitab dan mushaf Al-Qur’annya, bukan sekadar ceramah lisan. Jamaah diajak membaca langsung, melihat teksnya langsung, dan merujuk pada Al-Hadits Ash-Shahih. Jika dalilnya jelas dari Al-Qur’an dan Hadis, maka argumentasinya kuat dan tidak bisa dibantah.
SinarLIMA: Apa motivasi atau keinginan terkuat dalam diri Ustaz sehingga begitu istiqomah di jalur dakwah Al-Qur’an ini?
Ust. Taufiqurrahman: Motivasi terbesar tentu meneladani Baginda Rasulullah SAW. Rasulullah itu sangat menginginkan umatnya menjadi umat yang beriman dan selamat dunia-akhirat. Kepedulian Rasulullah kepada umatnya begitu luar biasa. Kita sebagai ahli waris nabi (warasatul ambiya) harus memiliki ghiroh (semangat) yang sama, yaitu bagaimana mengupayakan agar umat ini selamat di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillah, berfokus pada Al-Qur’an ini barokahnya sangat terasa dalam kehidupan. Salah satu buktinya, saya dan istri (Umi) yang hanya guru ngaji biasa, alhamdulillah atas jalan Allah tiba-tiba ada saja jalannya digerakkan oleh Allah melalui jamaah hingga bisa berangkat ibadah Umrah ke tanah suci. Benar sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Khasiat dan barokah Al-Qur’an itu nyata.
SinarLIMA: Masyaallah, merinding mendengarnya, Ustaz. Terakhir, apa harapan Ustaz untuk penulis buku “Tafsir Pendekatan Syair” ini beserta karyanya ke depan?
Ust. Taufiqurrahman: Harapan saya, semoga buku ini bermanfaat luas bagi umat. Sebab kalau ilmu tafsir hanya disimpan oleh penulisnya, tentu kurang terasa manfaatnya. Harus dikeluarkan dan disebarluaskan. Meskipun isinya ringkas, padat, dan singkat, buku ini sangat sesuai dengan momen serta kebutuhan jamaah saat ini.
Mari kita doakan bersama agar karya mulia “Tafsir Pendekatan Syair” ini diberikan kelancaran oleh Allah SWT untuk tersebar luas ke seantero masyarakat, membawa keberkahan, dan penulisnya selalu diberikan kesehatan, keistiqomahan, serta kekuatan untuk terus menelurkan karya-karya keislaman lainnya.
SinarLIMA: Amin ya Rabbal ‘Alamin. Terima kasih banyak Ustaz atas doa, dukungan, dan bincang-bincang yang sangat menginspirasi ini. Semoga Ustaz juga selalu sehat dan istiqomah dalam membimbing jamaah. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ust. Taufiqurrahman:Amin Allahumma Amin. Sama-sama, terima kasih kembali atas kunjungan kru media SinarLIMA. Sukses selalu. Wassalamu’alaikum





