Mengarungi Kepadatan Commuter Line demi Sang Penjaga Al-Qur’an: Kisah Inspiratif Perjalanan Menuju Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana

Mengarungi Kepadatan Commuter Line demi Sang Penjaga Al-Qur’an: Kisah Inspiratif Perjalanan Menuju Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana

Mengarungi Kepadatan Commuter Line demi Sang Penjaga Al-Qur’an: Kisah Inspiratif Perjalanan Menuju Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana

TANGERANG SELATAN – Sabtu pagi yang cerah (4/7/2026), sebuah keluarga kecil memulai perjalanan penuh makna dari ujung timur Kabupaten Bekasi menuju Pamulang, Tangerang Selatan. Perjalanan akhir pekan ini bukan sekadar liburan biasa, melainkan sebuah misi melepas rindu sekaligus memberikan dukungan moral bagi sang buah hati yang sedang menempuh jalan mulia sebagai penjaga Al-Qur’an.

Perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB dari Perumahan Villa Gading Harapan 2, Tambun Utara. Menggunakan sepeda motor kesayangan, pasangan suami istri bersama satu anaknya membelah jalanan pagi menuju Stasiun Bekasi. Usai memarkirkan kendaraan, tiga tiket Commuter Line (KRL) telah digenggam oleh sang ayah, sang istri tercinta Fakhrunnsa, dan putri mereka, Maulidia Fakhma Hayati. Mereka siap mengantar kerinduan ke tujuan utama: Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana.

Estetika Perjalanan dan Dinamika KRL Akhir Pekan

Rute perjalanan kali ini mengharuskan keluarga asal Bekasi tersebut melakukan transit di Stasiun Tanah Abang sebelum melanjutkan menuju Stasiun Sudimara. Perjalanan ini menyajikan dua wajah transportasi publik yang berbeda dalam satu hari.

Kontras Suasana Dua Jalur KRL

  • Bekasi – Tanah Abang: Perjalanan awal terasa begitu nyaman. Meski bertepatan dengan libur sekolah, gerbong kereta masih menyisakan ruang yang longgar. Fasilitas AC yang sejuk dan kebersihan kereta yang terjaga membuat perjalanan terasa kondusif. Dari balik jendela, pemandangan kontras khas ibu kota tersaji—mulai dari padatnya pemukiman penduduk hingga bentangan lahan hijau yang menyegarkan mata.

  • Tanah Abang – Sudimara (Arah Rangkasbitung): Suasana berubah drastis setelah transit. Jalur ini dipadati oleh penumpang yang berjubel. Akhir pekan tidak menyurutkan mobilitas warga; sebagian tetap bekerja, sementara yang lain pergi bersilaturahmi atau berwisata. Di gerbong ini, mereka bersama Maulidia harus rela berdiri dan berdesakan sepanjang jalan demi bisa sampai ke Stasiun Sudimara.

Namun, kepadatan tersebut tidak melunturkan ketertiban para penumpang yang tetap saling menghormati sepanjang perjalanan.

Menjenguk Sang Penghafal Al-Qur’an sekaligus Mahasiswa

Setibanya di Stasiun Sudimara, perjalanan dilanjutkan menuju Perumahan Bukit Pamulang Indah (BPI), Blok A19 Nomor 5, Pamulang Timur. Di sinilah berdiri Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana, sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an yang diasuh oleh Ustaz Muhammad Yusron Fahmi, S.Pd.

Kunjungan hangat ini ditujukan untuk menjenguk putra pertama mereka, Abdul Qudfus Al Majidi. Abdul merupakan sosok pemuda inspiratif yang saat ini sedang berjuang keras menjalani pendidikan tahfiz (menghafal Al-Qur’an) sembari menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswa di Institut Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta.

Kehadiran sang ayah, Ibu Fakhrunnsa, dan Maulidia Fakhma Hayati menjadi suntikan energi yang luar biasa bagi Abdul di tengah ketatnya aktivitas menghafal dan kuliah.

“Perjalanan berjam-jam, berganti moda transportasi, hingga harus berdiri di tengah padatnya kereta, seketika luntur begitu melihat senyuman sang anak yang tengah berjuang menjaga kalamullah,” ungkap sang ayah dengan penuh haru dan bangga.

Sinergi Pendidikan Formal dan Agama

Kisah Abdul Qudfus Al Majidi menjadi bukti nyata bahwa kesibukan akademis di bangku kuliah tidak menjadi penghalang untuk tetap memprioritaskan Al-Qur’an. Di bawah bimbingan Ustaz Muhammad Yusron Fahmi, Rumah Tahfizh Darul Wahy Addayana terus konsisten mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual di kampus, tetapi juga matang secara spiritual.

Bagi keluarga tangguh dari Bekasi ini, lelahnya menempuh jarak puluhan kilometer dan padatnya gerbong kereta adalah harga kecil yang pantas dibayar demi melihat sang putra tumbuh menjadi mahkota kebanggaan keluarga di dunia dan akhirat.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA