Alhamdulillahirabbil ‘alamin, telah berlangsung kegiatan pembukaan pengajian Majelis Taklim Al-Abror Nahdlatul Wathan pada hari Ahad, 26 April 2026, yang dihadiri jamaah dari Majelis Taklim Hamzanwadi serta beberapa majelis taklim lainnya.
Acara berlangsung khidmat, hangat, dan penuh kekeluargaan. Hadir dalam majelis ini para guru, sesepuh, dan orang tua yang dihormati, di antaranya Ust. Subkhi, S.Pd, Dra. Hajah Mutmainah, Ustazah Sayati, Ustazah Yuli Sofiyati, M.M., Ustazah Sunariah, Bude Tomo, Bude Tulasmi, Bude Lilis, Hajjah Futuh, serta jamaah lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dalam tausiyah pembukaan, Ust. Fathi menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang menjaga semangat Ramadan agar tidak berakhir setelah Idulfitri.
Ust. Fathi mengawali tausiyah dengan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta shalawat dan salam kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekaligus menyampaikan permohonan maaf lahir batin kepada seluruh jamaah.

Beliau menegaskan bahwa meskipun bulan Syawal hampir berlalu, semangat Ramadan tidak boleh ikut hilang.
“Ramadan secara nama memang telah berlalu, tetapi ruh dan momennya masih Allah sisakan bagi hamba-hamba yang rindu beribadah.”
Menurut beliau, selama sebulan penuh Allah telah melatih hamba-Nya: melatih kesabaran dengan puasa, melatih kedisiplinan dengan shalat tarawih, melatih kekuatan ruhani dengan qiyamul lail, dan melatih kedekatan dengan Allah melalui Al-Qur’an.
Namun sangat disayangkan, setelah Ramadan usai, banyak kebiasaan baik ikut ditinggalkan.
Beliau mengingatkan agar amalan Ramadan tetap dijaga meski sedikit:
- Jika belum mampu qiyamul lail panjang, minimal pertahankan witir satu rakaat.
- Jika belum mampu puasa rutin, hidupkan puasa sunnah seperti Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Arafah, Asyura, atau puasa Daud.
- Jika belum mampu banyak membaca Al-Qur’an, minimal satu ayat jangan ditinggalkan.
“Kalau satu juz belum mampu, setengah juz. Kalau setengah juz belum mampu, dua baris. Kalau dua baris pun belum mampu, satu ayat. Yang penting jangan putus hubungan dengan Al-Qur’an.”

Dalam suasana penuh canda dan kehangatan yang membuat jamaah berkali-kali tertawa, Ust. Fathi juga menekankan besarnya keutamaan duduk di majelis ilmu.
Beliau mengutip pesan tentang keutamaan duduk sesaat di majelis ilmu yang nilainya lebih baik daripada memerdekakan seribu budak.
Beliau juga menyampaikan dengan gaya khas yang jenaka bahwa orang yang cinta majelis sungguh beruntung:
“Sudah dapat pahala, dapat ilmu, dapat makanan, dapat kebersamaan. Kalau malaikat bisa iri, mungkin iri melihat emak-emak di majelis.”
Suasana pengajian pun berlangsung hidup dan penuh semangat.
Bagian penting tausiyah Ust. Fathi adalah tentang dua amanah besar manusia:
1. Amanah jasmani
2. Amanah rohani
Menurut beliau, banyak manusia sangat memperhatikan jasmani, namun lalai terhadap rohani.
Jasmani diberi makan setiap hari, dijaga kesehatannya, diobati saat sakit, tetapi rohani sering dibiarkan lapar. Padahal makanan rohani adalah:
- Zikir
- Shalat
- Doa
- Puasa
- Membaca Al-Qur’an
- Ilmu
Beliau menegaskan: “Perpaduan zikir dan ilmu adalah makanan paling bergizi untuk rohani.”
Karena itu majelis taklim menjadi tempat penting untuk menghidupkan ruh, menguatkan hati, dan menenangkan jiwa.
Ust. Fathi juga mengingatkan agar setiap muslim memiliki amalan andalan.
Kalau belum kuat dalam banyak hal, pilih minimal satu yang melekat:
- istiqamah zikir
- istiqamah shalawat
- istiqamah shalat sunnah
- istiqamah puasa sunnah
- istiqamah membaca Al-Qur’an
“Jangan sampai umur panjang, tapi tidak ada satu pun amal yang nempel pada diri kita.”
Beliau juga menyinggung fenomena lemahnya mental generasi saat ini akibat ruhani yang rapuh dan kurang gizi spiritual.
Menurut beliau, banyak kegalauan, keputusasaan, dan kemarahan berlebihan muncul karena rohani yang kosong dari zikir dan ilmu.
Beliau menutup dengan mengingatkan firman Allah: “Yauma la yanfa’u malun wala banun illa man atallaha biqalbin salim.”
Pada hari ketika harta dan anak tidak berguna, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.
Pengajian pembukaan Majelis Taklim Al-Abror Nahdlatul Wathan ini berlangsung penuh hikmah, kehangatan, tawa, dan nasihat yang menggugah. Jamaah mengikuti rangkaian acara dengan antusias hingga selesai.
Semoga majelis ini menjadi wasilah bertambahnya ilmu, kokohnya ukhuwah, serta istiqamah dalam menjaga semangat Ramadan sepanjang hayat.
Wallahu a’lam bish-shawab.



