Lanjutan buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi ke 242…
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Sepulang dari perjalanan spiritual itu, mereka kembali ke kampung halaman dengan gelar “haji” atau “hajjah” yang melekat. Namun, sejatinya keberkahan dari ibadah haji tidak hanya terletak pada gelar tersebut. Esensi dan nilai sejati dari haji justru terpancar dari perubahan perilaku, peningkatan ketakwaan, serta semangat untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Seorang haji yang telah menunaikan rukun Islam kelima dengan sepenuh hati akan membawa perubahan positif dalam hidupnya. Ia akan menunjukkan keteladanan dalam melaksanakan ibadah sehari-hari, lebih jujur dalam bermuamalah, lebih sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup, serta lebih serius dalam menjaga ukhuwah Islamiyah dengan sesama muslim. Ini adalah wujud nyata dari keberkahan yang dibawa pulang dari Tanah Suci, dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, masyarakat yang menyambut kedatangan para haji seyogianya tidak sekadar memberi penghormatan secara lahiriah. Lebih dari itu, hendaknya mereka menjadikan momen ini sebagai refleksi diri. Dengan melihat para haji yang telah mengalami pencerahan spiritual di Makkah dan Madinah, masyarakat dapat termotivasi untuk memperbaiki amal ibadah, memperbanyak zikir dan doa, mempererat silaturahmi, serta menanamkan tekad untuk menunaikan ibadah haji ketika Allah memberikan kesempatan.

Namun demikian, Islam tetap memberikan batasan dan panduan yang jelas dalam memuliakan seseorang, termasuk para haji. Meskipun mengambil berkah dari jamaah haji adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam batas-batas tertentu, kita tetap harus berhati-hati agar tidak terjerumus pada sikap berlebihan yang bisa mengarah pada pengkultusan. Islam tidak pernah mengajarkan pemuliaan manusia secara berlebihan, apalagi jika disertai keyakinan mistis atau magis.
Misalnya, tindakan seperti menyimpan air wudhu dari jamaah haji, mencium bekas duduk mereka, atau meyakini bahwa semua ucapan mereka setelah haji pasti mustajab secara otomatis adalah tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid. Islam menekankan bahwa segala berkah, manfaat, dan kebaikan hanya datang dari Allah SWT. Adapun manusia, termasuk mereka yang baru kembali dari haji, hanyalah perantara atau sebab-sebab yang Allah pilih untuk menyampaikan kebaikan-Nya kepada makhluk.
Dengan demikian, mengambil berkah dari para haji harus dilakukan dengan pemahaman yang benar dan niat yang lurus, yakni sebagai bentuk penghormatan terhadap pengalaman spiritual mereka, bukan karena meyakini adanya…. selengkapnya baca disini 👇
Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 243
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI




