Berpuasa saat sedang mudik bukanlah perkara yang mudah. Pemudik harus mempertahankan puasanya baik dari sisi keabsahan maupun dari segi penjagaan kualitas pahala. Dalam Islam, musafir memang diberikan keringanan untuk memilih antara berpuasa atau tidak. Namun, jika seorang pemudik memilih untuk tetap berpuasa, maka ia harus bersabar menghadapi berbagai tantangan yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasanya.
Salah satu ujian dalam perjalanan adalah rasa lapar yang mulai terasa, sehingga dapat mengganggu kenyamanan selama di perjalanan. Jika kondisi tubuh sudah sangat lemah dan udara panas semakin memperburuk keadaan, maka Islam membolehkan untuk berbuka puasa. Allah berfirman:
“وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ”
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Namun, jika merasa masih mampu bertahan, maka lebih utama untuk bersabar dan tetap menjalankan puasa. Saat rasa lapar dan lelah melanda, perbanyaklah berdzikir dan memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan kekuatan.
Selain itu, pemudik juga bisa diuji dengan rasa lelah dan capek karena jarak perjalanan yang jauh. Dalam kondisi ini, hendaknya ia tetap bersabar dan menganggap rasa lelah tersebut sebagai ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegelisahan, bahkan sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ujian lainnya adalah menjaga pandangan. Saat perjalanan mudik, banyak orang dari berbagai kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, yang berlalu-lalang. Seorang Muslim yang berpuasa harus berhati-hati agar tidak tergoda oleh pandangan yang dapat membahayakan puasanya. Allah berfirman:
“قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ”
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Selain itu, dalam perjalanan juga dapat timbul godaan lain, seperti rasa iri terhadap barang bawaan orang lain atau keinginan untuk melakukan hal-hal yang dilarang. Oleh karena itu, seorang pemudik yang sedang berpuasa harus selalu sadar bahwa dirinya berada dalam pengawasan Allah. Dengan menjaga kesabaran dan keikhlasan dalam berpuasa, insyaAllah puasanya akan diterima dengan pahala yang besar di sisi-Nya.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa, terutama saat berada dalam perjalanan mudik. Aamiin.




