“PANDANGAN TEOLOGI Al-MU’TAZILAH DAN SYI’AH”
Al-Mu’tazilah dan Syiah merupakan dua aliran besar dalam Islam yang memiliki pemikiran teologi yang berbeda dari pemahaman mainstream Ahlu Sunnah wal Jamaah. Meskipun memiliki beberapa kesamaan, kedua aliran ini juga memiliki perbedaan yang signifikan dalam beberapa aspek teologis.
Pemikiran Teologi Al-Mu’tazilah Al-Mu’tazilah adalah sebuah aliran teologi rasionalis yang muncul pada abad ke-8 Masehi di Basrah, Irak. Mereka dikenal dengan prinsip utama “al-tauhid” (keesaan Tuhan) dan “al-‘adl” (keadilan Tuhan). Beberapa pemikiran utama al-Mu’tazilah antara lain: Pertama Kemampuan akal manusia untuk mengetahui kebaikan dan keburukan (al-husn wa al-qubh). Kedua Penolakan terhadap sifat-sifat Tuhan yang dianggap antropomorfis (tajsim dan tasybih). Ketiga Penolakan terhadap predestinasi (al-qadha’ wa al-qadar) dan meyakini kebebasan kehendak manusia (free will). Keempat Meyakini bahwa orang mukmin yang berdosa besar berada di posisi tengah antara mukmin dan kafir (al-manzilah bain al-manzilatain).
Pemikiran Teologi Syi’ah Syiah adalah aliran dalam Islam yang meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW seharusnya berada di tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Beberapa pemikiran teologi utama Syiah antara lain:
{1} Imamah (kepemimpinan spiritual dan politik) adalah prinsip fundamental dalam Islam yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.{2} Kepercayaan pada konsep “ismah” (kemaksuman) para Imam dari dosa dan kesalahan. {3} Praktik “taqiyyah” (penyembunyian keyakinan) diperbolehkan dalam situasi tertentu.{4} Penolakan terhadap validitas sebagian besar hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi selain Ali dan keluarganya.
Perbedaan antara Al-Mu’tazilah dan Syiah Meskipun sama-sama berbeda dari Ahlu Sunnah wal Jamaah, al-Mu’tazilah dan Syiah memiliki perbedaan signifikan dalam beberapa aspek teologis, seperti: {1} Al-Mu’tazilah menekankan rasionalisme, sedangkan Syiah lebih menekankan pada otoritas para Imam.{2} Al-Mu’tazilah tidak mengakui konsep Imamah seperti Syiah.{3} Al-Mu’tazilah meyakini kebebasan kehendak manusia, sedangkan Syiah meyakini predestinasi dalam beberapa aspek.{4} Al-Mu’tazilah tidak mempraktikkan taqiyyah, sedangkan Syiah memandangnya sebagai praktik yang diperbolehkan.
Meskipun demikian, kedua aliran ini memiliki kesamaan dalam penolakan terhadap beberapa pemahaman Ahlu Sunnah wal Jamaah, seperti penolakan terhadap sifat-sifat antropomorfis Tuhan dan penolakan terhadap beberapa hadits yang dianggap tidak valid.




