Yang Besar Tak Disebut Nama, Yang Kecil Tdk Disebut Gelar. YM Hadirin, Sanak, Bije, Raka, Rayi

Yang Besar Tak Disebut Nama, Yang Kecil Tdk Disebut Gelar. YM Hadirin, Sanak, Bije, Raka, Rayi

Oleh : Lalu Tjuck Sudarmadi

Nurge, hinggih, dawek titiang ngiring pelungguh sareng sami ngatur haken piatur pamudie puje puji Kehadirat De Side Allah Taala, Sang Maha Pencipta dan Pemilik Alam lan Jagat Raya, Sang Penguasa Agung, hingkang wiyatne mapaicayang trasne, asih suece, icanin titiang sareng pelungguh sami, Rahmat iman, kesehatan, kesempatan, pulih rawuh, ringgenah puniki, panggih pinanggih sawijining upekarti, acara Raker sak mangkin niki.

Ngiring titiang sareng sami ngatur haken sholawat kepada Junjungan Alam, Baginda Nabi Muhammad SAW.

Moga mugi kerauhan pelungguh sami ring musyawarah niki, ulih panggih hasil karena dilandasi niat yang tulus sehingga, pikiran, sikap,lisan n tutur kata kita, akan memudahkan yang sulit dan membuka jalan yg tertutup.

Bije,Sanak, Raka,Rayi senamian.

Ada beberapa hal yang ingin tg sampaikan dihadapan majlis yang baik ini.

PERTAMA. Tentu tiang sebagai “Ketum” RKM NTB, juga sebagai salah datu dari “penggagas n pendiri” Himalo, serta Pembina , mengapresiasi adanya organisasi baru yang tentunya secara spesifik dan fokus akan memperjuangkan existensi dan role/peran Sasak sebagai suku bangsa dan asset negeri ini.

Hal itu sesuai dengan simbol yang terkandung dan dituangkan secara gamblang pada nama organisasinya yaitu ASLI, dimana huruf S jelas, it stands for SASAK. Etnis yang ada di Pulau Lombok, etnis yang terbentuk oleh karena adanya gumi paer, tanah, leluhur, keturunan, bahasa dan budaya yang sama yang mengikatnya.

Jadi di ASLI ini kita berbicara dengan pikiran, hati, jiwa, rasa, karsa “mind, heart n soul” SASAK. Sangat specifik, tidak sama atau beda bila kita bicara tentang masyarakat Lombok.

KEDUA, kita harus menerima fakta, bahwa Sasak dalam banyak hal masih tertinggal. Oleh karena itu, mari kita gunakan momentum ini untuk melakukan “rekonsiliasi pemikiran” diantara kita sebagai bangse Sasak, agar kita punya persepsi yang sama dan akan kita jadikan kekuatan, sebagai pemicu dan pemacu , secara bersama sama mengejar ketertingalan yang kita alami.

Kita harus mau dan berani mengakui bahwa Sasak tertinggal didalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik, sehingga role/peran kita, pada posisi tawar yang tidak kondusif, dalam hal hal pengambilan keputusan yang strategik pada level regional dan nasional. Issues inilah yang perlu direnungkan dan dicarikan solusinya kedepan oleh orang Sasak, mulai di Raker ini.

Dalam kaitan itu sekali lagi, tiang mengajak kita semua, secara bersama melakukan “rekonsiliasi pemikiran”, sehingga bilamana mendengar atau menyebut nama Sasak, maka hati kita akan bergetar, dan kita punya kesadaran yang sama , bahwa kita ini masih “tertinggal dan ketinggalan” dari suku bangsa lain yg unggul dan sudah jauh lebih maju.

Ketertinggalan itu bisa dilihat pada hubungan sosial diantara kita, diantara kelompok didalam Sasak, yang masih rapuh, dipicu juga adanya keadaan sosial ekonomi dan pendidikan yang masih memprihatinkan, sehingga berdampak terhadap bagaimana etnis ini didalam kehidupan perpolitikan dangat mudah di pecah belah dan existensinya belum diperhitungkan.

Mohon maaf tiang mengumpamakan Lombok atau desa paer kita itu layaknya seperti “tanah perdikan”.

KETIGA, sejauh yang tiang alami, memang bangse Sasak itu betul, rapuh didalam hubungan sosial, orang Sasak kurang guyub, minim interaksi sosialnya, ujudnya terbatas, individual, sebatas keluarga, kadang kita bisa menjadi atau merasa asing diantara sesama bangse Sasak.

Dalam kaitan inilah pentingnya membentuk organisasi sebagai means/alat untuk menghimpun individu dan keluarga Sasak. Sebagai tempat mereka berinteraksi sosial, tempat untuk sharing and caring, membentuk adanya suatu espri- decorps. Unity of Sasak, bersatu tidak sebatas nama saja, tidak sebatas tanah leluhur pulau saja, tapi bersatu diikat oleh rasa, satunya filsafat hidup, senasib sepenanggungan.

Dalam hal berorganisasi ini kita sangat ketinggalan dari etnis etnis lain didalam NTB sendiri maupun etnis besar diluar provinsi yang sudah sedemikian advance, sehingga role/perannya bisa sebagai pressure group dinegeri ini.

Kita patut bersyukur dalam dekade dekade terakhir ini keadaan mulai berubah, mengarah kepada kesadaran perlunya alat perjuangan yaitu adanya organisasi untuk memperjuangkan existensi serta role didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Maka muncul organisasi dimana mana yang menghimpun orang orang baik itu orang Sasak dan atau masyarakat Lombok.

Sejatinya kita butuh itu, dan keberadaan ASLI ini penting untuk memperjuangkan existensi n role orang Sasak kedepan.

Okeh karena itu, keberadaan organisasi , paguyuban , asosiasi
yang menghimpun orang Sasak dan atau masyarakat Lombok, TIDAK BOLEH “saling meniadakan dan atau subordinasi satu dengan yang lain”. Keberadaan masing masing organisasi itu sifatnya teritorial yang mendapat pengakuan oleh pemerintah dengan legalitas yang kuat.

Dalam memperjuangkan kepentingan dan aspirasi Sasak yang sifatnya universal diperlukan adanya “Forum/Majlis” untuk membahasnya secara bersama sama, layaknya sebuah majlis permusyawaratan.

Jadi didalam organasi ASLI harusnya ada LO/liason officer dari masing masing organisasi yang sudah ada diteritori masing masing.

KEEMPAT, untuk menyikapi berbagai masalah tersebut diatas, tiang menaruh harapan untuk kita bisa menyamakan persepsi dulu terhadap apa yg dihadapi bangse Sasak sampai dengan saat ini.

Baru kemudian kita merumuskan strategi dan langkah langkah untuk memecahkan masalah itu serta menyusun program dan kegiatan dalam mewujudkannya.

ASLI hendaknya berfungsi dan mengambil peran dalam mengkoordinasikan, serta membuat suatu rumusan yang sifatnya strategik dan universal saja, oleh karena permasalahan permasalahan diteritorial, tentunya dihadapi dan dirasakan serta dipecahkan oleh masing masing organisasi di teritori masing masing.

Untuk itu ASLI perlu memperkust posisi dalam hal:
1.Penguatan kelembagaan, termasuk pola relasii dengan paguyuban yang sudah ada seperti tiang uraikan diatas
2. Perlu membangun pola kemitraan dengan lembaga lembaga negara. Apakah dengan Kemendagri, Pemprov dan institusi pemerintah lainnya
3.Kemitraan dan atau kerjasama akan mempermudah jalan dalam hal fund rising yang vital bagi organisasi, dilakukan dengan lembaga manapun termasuk lembaga swasta/ business
4. ASLI harus fokus membangun Sasak Spirit, memperkuat kebersamaan, “espri decorps”, jiwa saling sedok dan dengan sadar mulai, dan mulai meninggalkan perilaku permainan “penjurakan”. Secara khusus ASLI perlu mulai membentuk kader dengan mengajak generasi millenial yang jelak akan menjafi kekuatan etnis Sasak.
5. Pemanfaatan digital dalam mengembangkan organisasi, termasuk perintisan usaha sebagai basis pembinaan para anggota n aktifis ASLI

Sampun nike katur tiang
Wass W W.

Kampung Lumbung, Batu 2 Juli 2022

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA