MAHADESA, Semburat Cahaya di Ujung Terowongan

MAHADESA, Semburat Cahaya di Ujung Terowongan

Desa merupakan salah satu tonggak pekenomian negara ketika kita ingin melihat Negara yang sejahtera pembangunan infrastruktur ekonomi Desa harus menjadi perhatian utama. Desa merupakan wilayah yang mempunyai potensi alam dan sumber daya manusia yang besar.

Namun kenyatannya bukan sekedar isu atau mitos banyak sekali anekdot bahwa desa merupakan tempat tertinggal, kuno, jauh dari Industrialisasi menjadi pekerjaan rumah untuk dibenahi bersama. Perlu terobosan, kreativitas, dan kerja keras agar cita- cita Indonesia Maju, NTB Gemilang ini dapat dicapai.
Terlebih kita sebagai warga Nusa Tenggara Barat, beberapa tahun terakhir menghadapi cobaan berat, belum selesai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Gempa NTB tahun 2018 kita dihantam lagi oleh pandemi Global yang bernama Covid-19 yang semakin memperburuk dan melumpuhkan ekonomi di Nusa Tenggara Barat.

Jika boleh meminjam peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga” menggambarkan cobaan bertubi-tubi yang dialami Nusa Tenggara Barat yang termasuk didalamnya pembangunan ekonomi pedesaaan. Sejatinya, Hikmah dari Gempa dan Covid-19 adalah sarana kita kembali bersujud kehadapan tuhan bahwa tidak ada daya dan upaya selain atas kehendak-Nya, mengembangkan diri, berinovasi dan bekerja keras agar ketika musibah berlalu kita menjadi manusia yang lebih bertakwa, berdaya dan mumpuni.

Tidak bisa dinafikan peran desa dalam pembangunan Ekonomi Negara, pembangunan Infrastuktur ekonomi desa sebagai modal awal atau pendorong pertumbuhan ekonomi Pusat dan daerah. Khusus di Nusa Tenggara Barat, melalui Mahadesa PT Gerbang NTB Emas melakukan terobosan dalam peningkatan Infastruktur Ekonomi Desa. Mahadesa didesain agar setiap desa memiliki Infrastuktur Ekonomi yang kuat dengan membentuk jaringan distribusi, akses financing (keuangan/ permodalan) , peningkatan kapasitas SDM (Manajemen IT).

Digitalisasi adalah kunci utama dari langkah yang diambil untuk memediasi berbagai kepentingan warga (dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, penyediaan pasar dan akses permodalan) dengan stakeholder lainnya seperti suplayer, perbankan dan pemerintah.
Di desa yang sudah menginstall mahadesa, di bentuk Trade and Distribution Center (TDC) yakni pusat perdagangan dan distribusi desa melalui kerja sama dengan BUMDES.

Dengan adanya TDC Mahadesa disetiap warga dapat mengakses layanan jaringan super grosir untuk pemenuhan sehari-hari (dengan layanan belanja dari rumah dan boleh berhutang), sebagai mitra perbankan dalam pelayanan Kredit Usaha Rakyat, pembukaan rekening laku pandai, layanan penarikan dan transfer tunai serta pembayaran BPOP, mitra UMKM dan petani lokal untuk memasarkank produknya. Sehingga kedepan diharapkan tidak ada lagi kita dengar ada warga yang kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli barang kebutuhan, tidak ada lagi pelaku UMKM yang kesulitan mendapatkan modal dan kebingungan mau melepas produknya kemana karena tidak punya pasar.

Kesaksian dan testimoni adalah bukti nyata bahwa mahadesa membawa manfaat untuk kemaslahatan masyarakat. Seperti yang diungkapkan Jusnadi Hasan Direktur Bumdes Giri Sasak “Omset didesanya perbulan mencapai 89 Juta rupiah, awalnya ia mengira hadirnya kehadiran Mahadesa di desanya akan mematikan warung-warung desa didesanya tapi ternyata hadirnya mahadesa didesanya malah sebagai alternatif memutus rantai distribusi barang. Warung-warung tersebut mengambil barang dari TDC untuk dijual kewarga dengan pola pembayaran yang menarik, bisa dicicil selama satu bulan”.

Pada akhirnya, sebagai bentuk ikthtiar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, diperlukan kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak untuk kemajuan daerah kita baik akademisi, pebisnis,pemerintah dan Media agar segera terwujud NTB yang kita bayangkan yakni NTB yang Gemilang dapat kita raih dengan penguatan Infrastruktur Ekonomi dan kemandirian desa melalui Mahadesa PT Gerbang NTB Emas.
-SY

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA