Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Rabu sore (11/11/2020) di Mushalla Al-Abrar Pancor Lombok Timur berlangsung silaturrahim kebangsaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) RI bersama Keluarga Besar Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan.
Al-Mukarram TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA selaku PBNW menyampaikan kepada Komjen Pol. Boy Rafli Amar Kepala BNPT, di hadapan para Tuan Guru dan Pimpinan-pimpinan Pondok Pesantren, terkait banyak hal seputar Nahdlatul Wathan.
Pada kesempatan yang baik tersebut, TGB mengulas dengan lengkap tentang Nahdlatul Wathan.
Mushalla Al-Abrar adalah markas pusat kaderisasi para anjum yang berjiwa Nasionalis-Religius. NW dengan jamaahnya telah ikut membangun negeri. Hingga saat ini kader-kader Nahlatul Wathan dengan madrasah/sekolahnya sudah hampir ada di seluruh Provinsi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mushalla Al-Abrar (tempat Bapak Boy) ini adalah tempat di mana Pendiri Nahdlatul Wathan yaitu Pahlawan Nasional Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid menggembleng generasi demi generasi, kader-kader Nahdlatul Wathan, baik dalam keislaman maupun kebangsaan.” Kata TGB sembari menatap Sang Komadan Rafli.
Dari mushalla Al-Abrar inilah –lanjut TGB– terbentuk dan terbitnya kader-kader terbaik Nahdlatul Wathan yang kini tersebar tidak hanya di NTB, tapi hampir di seluruh Provinsi yang ada di Indonesia.
“Secara formal sekarang sudah ada 24 kepengurusan di seluruh Provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.” Jelas Gubernur NTB dua priode ini (2008-2018) tersebut.
Dalam keterangannya, Sang Ketua DT PBNW tersebut mengatakan bahwa setiap ada kepengurusan NW artinya di situ ada sekolah. Dan sekarang sudah lebih dari seribu sekolah yang didirikan oleh murid-murid Maulana Syaikh yang membawa nama Nahdlatul Wathan. Baik di Nusa Tenggara Barat maupun di Provinsi-provinsi lain.
Selain itu, Ulama bintang Al-Azhar Cairo Mesir tersebut juga menyampaikan bahwa: “Maulana syaikh itu mendirikan Nahdlatul Wathan tidak hanya untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman tapi juga untuk mengokohkan nilai-nilai kebangsaan.”
Karena pemahaman keislaman dan kebangsaan seperti itu, maka Maulana Syaikh sering menyampaikan bahwa antara keislaman dan kebangsaan itu adalah ibarat dua sisi mata uang yang sama. Menyatu dan tidak bisa dipisahkan di antara keduanya.
“Menjadi muslim yang baik itu, pasti menjadi warga yang baik. Membangun agama itu artinya membangun negara. Bekerja untuk negara itu artinya telah bekerja untuk menunaikan perintah agama.” Ulas Sang Ulama tafsir menirukan kata niniknya Sang Pahlawan.
Dengan pandangan keislaman dan kebangsaan Maulana Syaikh tersebut, –lanjut TGB– maka murid-murid Ninikda tidak pernah punya masalah dengan negara. Para murid sudah faham bagaimana menyikapi makna NKRI, makna Negara-Bangsa ini. Karena demikian kami dididik sejak awal.
Maka, “Warga Nahdlatul Wathan tidak hanya dididik oleh Al-Magfurulah untuk menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga diajak berpartisipasi aktif dalam seluruh program-program Pemerintah.” Tegas Tuan Guru Bajang.
Sebagai contoh kontribusi dan peran aktif warga Nahdlatul Wathan, TGB menyebut seperti program imunisasi yang sekian lama telah dicanangkan namun mendapat kendala di lapangan dan akhirnya mandeg. Tidak bisa berjalan di Nusa Tenggara Barat.
Mengapa tidak bisa berjalan mulus?
Karena saat itu berkeliarannya isu bahwa imunisasi justru akan membahayakan. Tapi, setelah di hadapan puluhan ribu jamaah Maulana Syaikh sendiri yang meneteskan imunisasi itu di mulut seorang bayi, maka barulah program itu berjalan lancar dan diterima masyarakat luas.
Termasuk juga program Keluarga Berencana (KB).
“Ini adalah gambaran bahwa –alhamdulillah– Nahdlatul Wathan diarahkan sejak pendiriannya oleh al-Magfurulah Maulana Syaikh untuk ikut membangun negara Indonesia yang kita cintai ini.” Tegas TGB dengan amat jelas.
Termasuk juga, TGB menginformasikan bahwa Nahdlatul Wathan awalnya adalah sebuah lembaga pendidikan. Sebab, bagi Maulana Syaikh sangat meyakini bahwa dengan pendidikanlah pembangunan negara bisa berjalan dengan baik.
TGB pun menceritaka sebuah ilustrasi akan perjuangan awal Maulana Syaikh mendirikan lembaga pendidikan.
Saat awal mendirikan madrasah itu, Maulana Syaikh sedang mendapat kepercayaan sebagai khatib di Pancor. Tapi, karena beliau diketahui mendirikan madrasah, maka terjadilah resistensi di tengah masyarakat. Maulana Syaikh pun diberikan dua pilihan.
Apakah Maulana Syaikh tetap sebagai khatib jumat atau membangun sekolah klasikal?.
Pilihan itu muncul akibat dari sistem pendidikan baru yang dibawa Maulana Syaikh ini dianggap bida’ah (perkara baru) yang bertentangan dengan adat-istiadat dan pemahaman agama pada waktu itu.
Al-Magfurulah yang di hadapkan dengan pilihan seperti itu. Beliau dengan tegas tetap memilih membangun madrasah. Kenapa Maulana Syaikh mengambil pilihan itu?
Sebab bagi Maualana Syaikh, menjadi imam shalat jumat itu adalah “fardu kifayah”, artinya masih ada orang yang akan mengganti kalau diberhentikan. Tapi, mendirikan sekolah itu “fardu ain” yang harus dilakukan sekarang untuk melawan kebodohan dan keterbelakangan pada waktu itu.
“Ini juga menjadi semangat bagi kami murid-murid beliau untuk terus meneruskan berupaya dengan upaya-upaya pencerdasan. Termasuk saya yakin juga bersinggungan erat dengan apa yang menjadi tugas dari BNPT.” Kata Tokoh Nasional asal NTB ini.
Dan ingat pula lanjut TGB, “Kami para murid-murid itu, diajarkan oleh Al-Magfurulah untuk mengokohkan alwasatiyah yaitu moderasi Islam.”
Dengan pemahaman Islam seperti ini maka dalam perjalanan Nahdlatul Wathan ada budaya-budaya lokal yang diadopsi kemudian dijadikan sebagai bagian dari isntrumen untuk mengokohkan nilai-nilai kebaikan.
“Nah, dengan dakwah seperti itu, maka dakwah Nahdlatul Wathan diterima dengan baik oleh masyarakat.” Simpul TGB diakhir pengantarnya pada acara silaturrahim kebangsaan tersebut.
Wa Allah A’lam!
Kediri, 12 Nopember 2020 M.



