Prof H Agustitin :MAKNA DARI KEHIDUPAN

Prof H Agustitin :MAKNA DARI KEHIDUPAN

 

Pada hakekatnya manusia terdiri atas raga , jiwa dan akal.
-Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan.

-Hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.

-Raga merupakan kehendak Tuhan, untuk menempatkan jiwa dan hati nurani.
NurTuhan berada di dalam jiwa, sehingga raga hidup.

Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari raganya.

– Akal merupakan kehendak, angan-angan dan ingatan yang kebenarannya belum sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

Menurut FIRMAN Tuhan, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang oleh, adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi terletak di dalam nafsu.

proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhannya ketahuilah terlebih dahulu dirinya sendiri.

Kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

Dunia adalah zona untuk hidup. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada jalan surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.

Apabila manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka itu merupakan jalan surga. Tetapi kesenangan di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.

Manusia hidup ini sesungguhnya untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang merupakan bekal untuk melakukan pengabdian sejati.
Manusia senang atas buab dari pengabdian.yang diraih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, akan tetapi semua kesenangan itu akan binasa. Karena itu manusia tidak boleh sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, Tetapi harus menyadari bahwa dirinya hanya sementara . Oleh sebab itu janganlah merasa diri in mulia dan bahagia, dan tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.

Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan menjadi agak ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah , tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu.

upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini, kemudian mengajarkan bagaimana mencari pengabdian pengabdian yakni untuk bekal mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh. Hidup ini mencari bekal untuk mati, karena setelah mati itu hidup yang sesungguhnya , manusia akan bebas dari segala beban dan derita, dan hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.
Semoga caranya illahi robbi senantiasa menerangi jalan hidup kita .

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA