Muswil NW Jakarta Momentum Perluas Syiar Kebangsaan Nahdlatul Wathan Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I (Wakil Ketua V Pemuda NW NTB)

Muswil NW Jakarta Momentum Perluas Syiar Kebangsaan Nahdlatul Wathan Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I (Wakil Ketua V Pemuda NW NTB)

Nahdlatul Wathan merupakan salah satu ormas di indonesia yang sejak lahirnya dihajatkan untuk menjadi bagian pilar kekutan negara kesatuan republik indonesia. Lahir pada hari Ahad tanggal 1 Maret tahun 1953 di Pancor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, didirikan oleh Pahlawan Nasional RI TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Nahdlatul Wathan yang berarti kebangkitan tanah air lahir sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap kondisi negara kesatuan republik indonesia yang saat itu sedang terjajah oleh kaum kolonial.

Semangat cinta tanah air yang ditanamkan oleh Kyai Hamzanwadi kepada murid-muridnya ketika itu mampu menjadi penyemangat dan senjata dalam upaya melawan kaum penjajajah. Itu terbukti dari peristiwa penyerbuan markas Militer NICA di Selong 8 Juni 1946, dipimpin oleh TGH Muhammad Faishal Abdul Madjid yang merupakan adik kandung TGKH. Muhmmad Zainuddin Abdul Majid yang kala itu gugur di medan pertempuran.

Setelah sekian lama indonesia merdeka, kini indonesia dihadapkan dengan bentuk penjajah baru yakni komunisme dan islam garis keras yang kemudian yang dikenal dengan kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Kedua kelompok ini dalam perjalanan bangsa indonesia sejak merdeka tahun 1945 hingga saat ini selalu menjadi bagian perusak tatanan kehidupan masyarakat indonesia.

Akhir-akhir ini indonesia dihebohkan dengan Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP). Banyak pihak yang menilai RUU HIP ini lahir sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali idiologi komunisme di indonesia. PKI di indonesia memang sudah lenyap sejak zaman orde baru namun idiologi komunis akan tetap hidup sampai kapanpun dan bisa merasuki setiap warga masyarakat indonesia yang lemah secara keimanan dan kebangsaan. Sehingga semua pihak mempunyai kewajiban untuk menanamkan keimanan dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi bangsanya.

Disisi lain kerasnya arus kelompok ekstrim kanan yang dikemas dalam bentuk gerakan mengatasnamakan agama untuk membentuk negara khilafah merupakan ujian besar untuk bangsa indonesia. Untuk menghadapinya tidak semudah yang dipikirkan karena mereka telah menyasar kepada anak-anak muda milenial yang begitu mudah mereka pengaruhi dengan berbekal dalili-dalil agama yang dipahami secara sempit.

Kelompok ini juga tidak kalah bahayanya dengan kelompok komunis, karena keduanya sama-sama membahayakan bagi keutuhan negara kesatuan republik indonesia yang telah dibangun atas dasar kebersamaan dalam perbedaan yang kemudian disimbolkan dalam bentuk Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi satu). Dalam konteks inilah Nahdlatul Wathan hadir sebagai bagian dari alat perjuangan bangsa indonesia dalam menghadapi kelompok komunis maupun kelompok islam garis keras.

Momentum Musyawarah Wilayah (MUSWIL) keluaga besar Nahdlatul Wathan DKI Jakarta yang digelar tanggal 14-15 Juni 2020 di Pondok Pesantren NW Jakarta, diharapkan bisa menjadi penyemangat beru untuk memperluas syiar-syiar kebangsaan Nahdlatuk Wathan untuk indonesia.

Dalam ajaran Nahdlatul Wathan oleh pendirinya banyak terdapat poin-poin penting yang menggambarkan semangat pergerakan tanah air yang dipadukan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena bagi Nahdlatul Wathan antara keislaman dan kebangsaan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain.

Hal itu tergambar dari Wasiat Renungan Masa karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Dari beberapa bait wasiat beliau sangat jelas memberikan penekanan akan pentingnya untuk memperjuangkan bangsa dan tanah air indonesia. Diantara bait-bait tersebut seperti:

“Negara kita berpancasila
Berketuhanan yang maha esa
Ummat islam yang paling setia
Tegakkan sila yang paling utama”

“Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara”

“Sasak yang tulen nasionalisnya
Selalu di tuduh kesukuismenya
Sungguh penuduhlah sukuisme buta
Penuh buktinya disini dan disana”

Butiran-butiran wasiat tersebut menjadi bukti bahwa semangat Nahdlatul Wathan sejak lahirnya hingga saat ini dan sampai kapanpun akan tetap berpegang teguh pada prinsip ajaran islam ahlussunnah waljamaah yakni menempatkan keislaman dan kebangsaan dalam satu tarikan nafas. Sehingga di kalangan kaum nahdiyin ada istililah ungkapan “Hubbul Wathan Minal Iman : Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman”. Ungkapan yang semakna dengan itu juga disampaikan oleh Ulama Besar Imam Al-Gazali: “Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.

Ungkapan-ungkapan tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari ajaran para ulama kita akan pentingnya untuk membangun kesadaran bela negara dan cinta tanah air. Karena cinta tanah air merupakan bagian dari ajaran islam ahlussunnah waljamaah.

Semoga generasi muda indonesia saat ini sadar akan musuh yang mereka hadapi dan menyiapkan diri dengan SDM yang unggul, beriman dan berahlakul karimah.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA