Al-Syaikh Muhammad bin Umar ‘Ali Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Uqud al-Lujjain fi Bayani Huquq az-Zaujain halaman 2:
وكان بعض العلماء الصالحين أصابه مرض شديد أعجز الأطباء، فتفكر في بعض الأعيان تلك العبارة، فواظب على البسملة من غير عدد محصور، فشفاه الله تعالى ببركتها.
Telah diceritakan bahwa salah seorang ulama’ yang soleh menderita sakit menahun dan semua dokter telah menyerah karena tidak akan dapat menyembuhkannya, namun pada suatu hari ia berfikir terhadap ibarat yang menjelaskan bahwa kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjumlah 104. Untuk Nabi Syits 60 shuhuf, 30 shuhuf untuk Nabi Ibrahim, 10 shuhuf –selain kitab taurat– untuk Nabi Musa, kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an al-Karim. Semua –hakikat– arti dari kitab-kitab tersebut terangkum dalam al-Qur’an dan seluruh –hakikat– isi al-Qur’an tercakup dalam surat al-Fatihah dan seluruh makna yang ada dalam al-Fatihah tercermin dalam basmalah dan makna-makna basmalah terdapat dalam huruf “ب”. Maka setelah itu ia membaca dan mengamalkan basmalah tanpa terkira jumlah dan bilangannya serta tiada terbatas waktunya, maka Allah mengangkat penyakitnya dengan kesembuhan yang sempurna.
Al-Syaikh al-Sayyid Abu Bakar al-Ma’ruf bi al-Sayyid Bakr al-Makky ibn al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyaty dalam kitab “Kifâyatul at-Qiya’ wa Minhâjul ash-fiya’ bahwa makna al-Ba’ yakni Baha’ullah (keagungan Allah), al-Sin berarti sinâullah (ketentuan Allah) dan al-Mim bermakna Majdullah (pujian Allah). Dalam ungkapan lain makna al-Ba’ ialah Bukâun-nasyi’in (tangisnya orang-orang yang hatinya hidup), al-Sin ialah Sahw al-Ghafilin (kesadaran orang-orang yang lupa dan alfa) dan al-Mim bermakna maghfiratuhu (ampunan Allah bagi orang-orang yang berdosa).
Jadi jika dilihat makna-makna huruf yang terdapat pada lafaz basmalah terutama pada lafaz “Bismi” yakni mengagungkan Allah Azza wajalla dengan berbagai ketentuan yang telah dianugerahkan kepada kita sebagai salah satu yang diciptakannya. Mengagungkan Allah dengan berbagai pujian mulai dari al-hamdu bi al-Qalb (pujian dalam hati), al-hamdu bi al-Lisan (pujian dalam lisan) dan al-hamdu bi al-a’mal (pujian dengan ragam perbuatan).
Dalam makna lain dari kalimat “bismi” tersebut seperti al-Ba’ ialah Bukâun-nasyi’in (tangisnya orang-orang yang hatinya hidup), al-Sin ialah Sahw al-Ghafilin (kesadaran orang-orang yang lupa dan alfa) dan al-Mim bermakna maghfiratuhu (ampunan Allah bagi orang-orang yang berdosa).
Orang yang hatinya hidup akan terlihat dari sikapnya saat menghadapi kehidupan, menangis ketika mendengar dan membaca ayat-ayat al-Khauf dan terbang hatinya saat menghadapi berbagai persoalan Ilahiyyah. Menangis sebagai salah satu tanda kekhawatiran seseorang terhadap siksa Allah yang sangat pedih dan dahsyat.
Orang yang lupa diharapkan cepat tersadarkan dari kelalaiannya, lalai dapat merusak hubungan seseorang dengan Tuhannya, lalai juga dapat menghapus segala kebajikan yang telah dilakukan. Lalai sangat disenangi oleh syaithan.
Berpikir tentang akhirat akan mewariskan kebijaksanaan dan dapat menghidupkan hati, berpikir terkait dunia dapat menutupi (hijab) tentang akhirat. Karena itulah agar kita tidak berada dalam kelalaian, berpikir tentang akhirat, ilmu pengetahuan dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kita adalah solusi untuk menyadarkan diri kita dari kelalaian.
التفكر في الآخرة يورث الحكمة ويحي القلب والتفكر في الدنيا حجاب على الآخرة.



