Penjelasan Setiap Bait
Prolog
Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah yang kita kenang setiap tahun. Ia adalah titik temu antara langit dan bumi, antara hamba dan Tuhannya, antara keterbatasan manusia dan kebesaran Ilahi. Dalam peristiwa inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadiahkan sesuatu yang paling berharga bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, bukan berupa harta atau kekuasaan, melainkan shalat—jalan suci untuk membersihkan jiwa, menenangkan hati, dan mengangkat derajat iman.
Syair ini mengajak kita tidak hanya mengenang Isra’ Mi’raj secara seremonial, tetapi merenungi pesan terdalamnya, lalu menjadikannya sebagai kekuatan hidup dan sumber perubahan diri.
Makna Setiap Bait Syair
Bait Pertama
Alhamdulillah kita saat ini
Memperingati Isra’ Mi’raj Nabi
Marilah kita mensyukuri
Dengan syukur sepenuh hati
Bait ini membuka syair dengan ungkapan pujian dan rasa syukur kepada Allah. Kata Alhamdulillah menjadi fondasi keimanan, menandakan bahwa segala peristiwa agung hanya dapat dimaknai dengan hati yang bersyukur. Peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan untuk memperbarui iman. Syair ini mengajak kita mensyukuri nikmat iman dan Islam secara total—bukan dengan lisan semata, tetapi dengan hati yang hidup dan amal yang nyata.
Bait Kedua
Saking pentingnya Isra Mi’raj ini
Negara kita menetapkan resmi
Libur nasional setiap tahunnya
Bagi seluruh rakyat Indonesia
Bait ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj memiliki nilai spiritual sekaligus sosial. Negara menetapkannya sebagai hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai keagamaan yang luhur. Namun, makna terdalamnya bukan pada liburnya, melainkan pada ruang refleksi yang diberikan—waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu menengok kembali hubungan kita dengan Allah. Syair ini mengingatkan agar momentum tersebut tidak berlalu sia-sia.
Bait Ketiga
Tujuan utama Isra Mi’raj ini
Nabi menerima perintah Ilahi
Untuk shalat setiap hari
Shalat fardhu lima kali
Inilah inti dan puncak makna Isra’ Mi’raj. Dalam perjalanan suci itu, Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat langsung dari Allah tanpa perantara. Shalat fardhu lima waktu menjadi tiang agama, pengikat iman, dan bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Syair ini menegaskan bahwa shalat bukan beban, melainkan anugerah ilahi yang menjaga kehidupan spiritual umat Islam sepanjang waktu.
Bait Keempat
Shalat melambangkan ketundukan
Kepatuhan dan penghambaan
Sebagai sarana pengabdian
Kepada Allah Yang Maha Rahman
Bait ini menggambarkan hakikat shalat yang sejati. Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol totalitas ketundukan seorang hamba. Di dalam shalat, ego manusia runtuh, kesombongan luluh, dan hati bersimpuh di hadapan Allah Yang Maha Pengasih. Shalat menjadi jembatan penghambaan, tempat jiwa kembali menemukan arah, makna, dan kedamaian.
Bait Kelima
Dengan shalat yang dilakukan
Tejadilah kenaikan iman
Mencegah dari perbuatan
Keji dan mungkar yang membahayakan
Bait penutup ini menegaskan buah dan dampak shalat dalam kehidupan nyata. Shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan istiqamah akan mengangkat derajat iman, menenangkan batin, serta membentengi diri dari perbuatan keji dan mungkar. Inilah shalat yang hidup—shalat yang membentuk akhlak, menjaga perilaku, dan menjadi cahaya dalam menghadapi gelapnya godaan dunia.
Penutup Reflektif
Syair ini adalah panggilan lembut namun tegas agar kita menjadikan Isra’ Mi’raj sebagai momentum perubahan diri. Bila shalat benar-benar kita jaga, maka iman akan naik, hati akan tenang, dan hidup akan lebih terarah. Semoga syair ini mengetuk hati kita untuk semakin mencintai shalat, bukan karena kewajiban semata, tetapi karena kesadaran bahwa di sanalah ruh kita diangkat menuju Allah.