Pesan Guru kepada Muridnya; Wahai anakku, kebahagiaan dan kesuksesan yang sedang engkau cari akan dapat diperoleh jika engkau melakukan tiga hal.
Pertama; Al-Harakah (pergerakan) barakah (Ziyadat al-Khair –bertambahnya kebajikan).
Kedua; Laa Tasma’ Man dunaka idza tayaqqanta bishalihiha (Jangan engkau dengarkan komentar orang lain jika engkau yakin apa yang dilakukan benar –sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah).
Ketiga; Idza Daqat Ittasaat (apabila dalam keadaan sulit pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya (Kata Imam Syafi’i dalam Ushulul Fiqh).
Nasihat yang sangat dahsyat, untuk yang pertama dapat berarti bahwa setiap manusia harus terus bergerak (dinamis) tidak boleh diam (statis) menerima apa yang terjadi tanpa melalui usaha dan kerja. Bergurulah kepada alam seperti matahari dan bulan. Kedua-dua planet ini siang dan malam tidak pernah berhenti beredar sehingga sampai pada titik edar yang telah ditentukan sebagai sunnatullah.
Tidak dapat dibayangkan jika kedua-duanya atau salah satunya berhenti beredar apa yang akan terjadi, mungkin planet lain akan bertabrakan dan hancurlah dunia ini.
Jadi sikap diam (statis) tidak bekerja sama hakikatnya dengan matahari dan bulan yang berhenti beredar dapat berakibat berhentinya nadi kehidupan dan akhirnya kehancuran keluargapun dapat terjadi.
Kedua sikap acuh, tidak terpengaruh dengan komentar orang lain. Jalankan apa yang diyakini, yang jelas tidak berseberangan dengan ajaran Allah dan juga RasulNya. Kita adalah orang yang sangat tahu kemana dan apa yang ada dalam hati dan akal kita, orang lain hanya melihat dari luar diri.
Ketiga sikap yakin terhadap apapun yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan skenario Allah Azza Wajalla. Kita hanya menjalankan apa yang telah ditentukan dan yakinlah bahwa setiap mengalami kesukaran pasti diberikan jalan keluar. “Fainna Ma’al ‘Usri Yusran”Sesungguhnya bersama kesulitan itu kemudahan.
Hijrah sebagai manifestasi al-Harakah merupakan jalan keimanan, berhijrah dari sikap tidak perduli menjadi lebih terbuka dan perduli kepada orang lain. Hijrah dari manusia tertutup (antisosial) menjadi manusia humanis (berjalan di atas nilai-nilai kebajikan).




