POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib

POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib

Fungsi Pondok Pesantren

Dari waktu kewaktu fungsi pesantren berjalan secara dinamis, berubah dan berkembang mengikuti dinamika social masyarakat global. Betapa tidak, pada awalnya lembaga tradisional ini mengembangkan fungsi sebagai lembaga social dan penyiaran agama. Sementara, Azyumardi Azra menawarkan setidaknya adanya tiga fungsi pesantren, yaitu: (1) Transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam, (2) Pemeliharaan tradisi Islam, dan (3) Reproduksi ulama.

Dalam perjalannya hingga sekarang, sebagai lembaga sosal pesantren telah mnyelenggarakan pendidikan formal baik berupa sekolah umum maupun sekolah agama (madrasah, sekolah umum, dan pergurun tinggi). Di samping itu pesantren juga menyelenggarakan pendidikan non formal berupa madrasah diniyah yang mengajarkan bidang ilmu agama saja. Pesantren juga telah mengembangkan fugsinya sebagai lembaga solidaritas social dengan menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim dan memberi pelayanan yang sama kepada mereka, tanpa mebedakan social ekonomi mereka.

Bahkan melihat kinerja dan kharisma kyainya, pesantren cukup efektif untuk berperan sebagai perekat hubungan dan pengayom masyarakat, baik pada tingkatan lokal, regional dan nasional. Pada tataran lokal, arus kedatangan tamu kepada kyai sangat besar, dimana masing-masing tamu dengan niat yang berbeda-beda. Ada yang ingin bersilaturraimi, ada pula yang ingin berkonsultasi, meminta nasehat, memohon do’a, berobat, dan ada pula yang ingin meminta jimat untuk sugesti penangkal gagguan dalam kehidupan sehari-hari. Para kyai juga sering memimpin majelis taklim, baik atas inisatif sendiri atau atas inisiatif panitia pengundang yang otomatis dapat memberikan pembelajaran berbangsa dan bernegara kapada masyarakat diatas nilai hakiki (kebenaran al-Quran dan al-Hadits) dan asasi dengan berbagai bentuk, baik melalui ceramah umum atau dialog interaktif. Oleh karenanya, tidak diragukan lagi kyai dapat mmainkan peran sebagai kultural broker (pialang budaya) dengan menyampaikan pesan-pesan pembangunan dalam dakwah-dakwahnya, baik secara lisan dan tindakan (bil hal wa uswah hasanah).

Dengan berbagai peran yang potensial dimainkan oleh pesantren diatas, maka dapat dikemukakan bahwa pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan mayarakat sekitarnya, sekaligus menjdi rujukan moral (reference of morality) bagi kehidupan masyarakat umum. Fungsi-fungsi ini akan tetap terpelihara dan efektif manakala para kyai pesantren dapat menjaga indepensinya dari intervensi “pihak luar”.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA