Oleh: Abdurrahman
> Wakil Ketua V PW Pemuda NW NTB
Kurang lebih tiga hari lagi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020, secara serentak diselenggarakan di kabupaten/kota di seluruh indonesia. Sorak dan riuk pikuk pasangan calon (Paslon) dalam mengkampanyekan visi misinya begitu terasa baik di media sosial hingga jalanan. Tidak terkecuali dengan Pilkada kota Mataram Provinsi NTB, masing-masing calon bersaing ketat merebutkan suara penduduk kota Mataram yang berjumlah sekitar 495.681 jiwa (Data BPS Kota Mataram 2020).
Penulis juga termasuk warga kota Mataram yang memiliki hak suara yang merasakan suasana hangat politik tersebut. Kesannya berbeda dengan Pilkada lima tahun yang lalu dimana calon pertahana masih sangat kuat dan tak tertandingi, hingga calon bonekapun muncul sebagai langkah mempertahankan kekuasaan di Ibu Kota Provinsi NTB tersebut. Berbeda dengan Pilkada kali ini dimana calon pertahana terbelah menjadi dua. Antara paslon Mohan Roliskana-TGH Mujiburahman (HARUM) dan paslon H. L. Makmur Said-Badruttamam Ahda (MUDA) sehingga celah tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh calon pendatang baru yang tidak bisa di anggap enteng.
Berdasarkan hasil survei POLRAM beberapa waktu lalu, Paslon nomor urut 1, Mohan Roliskana-TGH Mujiburahman (HARUM) masih memimpin dengan angka 34,8 persen. Posisi kedua kemudian ditempati oleh paslon nomor urut 3 yakni pasangan H. L. Makmur Said-Badruttamam Ahda (MUDA) dengan tingkat elektabilitas sebesar 11,0 persen. Posisi ketiga adalah paslon nomor urut 2, Hj. Putu Selly Andayani-TGH. Abdul Manan (SALAM) dengan elektabilitas sebesar 10,0 persen. Dan terakhir adalah Paslon nomor urut 4, Baihaqi-Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) dengan elektabilitas sebesar 4,6 persen.
Meskipun hasil rilis dari lembaga survei (POLRAM) tersebut menyatakan pasangan Mohan Roliskana-TGH. Mujiburahman (HARUM) sebagai pasangan tingkat elektabilitas paling tinggi dengan angka 34,8 persen. Namun hasil rilis tersebut bukanlah penentu akhir kemenangan, mengingat ada sekitar 40,6 persen penduduk Kota Mataram hingga saat ini belum menentukan pilihannya. Hal itu berdasarkan pemaparan M. Taqiuddin salah satu tim peneliti Polram beberapa waktu lalu.
Untuk diketahui bahwa Survei Polram yang menggunakan metodelogi multi-stage random sampling, dengan responden 500 orang dan margin of eror sebesar 4,5 persen atau dengan tingkat kepercayaan 9,5 persen. Menyatakan bahwa 40,6 persen warga Kota Mataram sampai dengan saat ini belum menentukan pilihan.
“Sebagian besar dari Undecided voters ini akan memberikan pilihannya pada hari H pemungutan suara tanggal 9 Desember. Hanya saja mereka belum menentukan pilihannya. Hal itu dapat dilihat dari hasil survei yang sama, bahwa sekitar 89,2 persen warga kota Mataram akan berpartisipasi memberikan hak pilihnya”, ungkap Taqiuddin salah satu Tim Peneliti Polram.
Jika kita berkiblat dengan hasil rilis lembaga survei dalam menentukan pemenang Pilkada kota Mataram, tentu posisi yang paling aman adalah paslon HARUM. Namun jika kita melihat angka penduduk yang belum menentukan pilihan sebesar 40,6 persen maka bisa jadi ini menjadi bumerang bagi calon pertahana. Belum lagi isu yang dimainkan oleh lawan politiknya adalah “politik dinasti”. Ditambah lagi selama menjadi Wakil Walikota Mataram H. Mohan Roliskana belum banyak memberikan dampak bagi masyarakat. Namun hal itu masih terbantahkan karena memang posisi Wakil bukanlah penentu kebijakan. Justru dalam konteks ini posisi paslon Makmur Said-Badruttaman Ahda (MUDA) yang menjadi bumerang karena selama H. Ahyar Abduh menjadi Walikota Mataram tidak begitu signifikan perubahan di kota Mataram. Begitu pula ketika saat H. L. Makmur Said menjadi Sekda kota Mataram yang begitu lama menjabat namun belum begitu memberi dampak yang membekas bagi masyarakat kota Mataram.
Posisi seperti ini merupakan tantangan untuk calon pertahana bagaimana upaya mereka mengungkapkan bukti dan fakta apa-apa yang telah mereka persembahkan kepada masyarakat selama menjabat, baik sebagai Walikota maupun Wakil Walikota Mataram. Sebaliknya posisi ini merupakan peluang yang bisa di isi oleh calon pendatang baru untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah solusi perubahan untuk kota Mataram yang lebih baik lima tahun ke depan. Setidaknya ada dua calon pendatang baru yang bisa memanfaatkan situasi seperti ini yakni paslon nomor urut 2, Hj. Putu Selly Andayani-TGH. Abdul Manan (SALAM) dan paslon urut 4, Baihaqi-Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU).
Jika melihat jejak karir dari kedua paslon pendatang baru tersebut, maka paslon SALAM rupanya lebih berpeluang mampu memanfaatkan situasi yang saat ini tengah di hadapi oleh pertahana. Menurut penulis, sebabnya ada dua hal:
Pertama, sosok Hj. Putu Selly Andayani masih membekas di hati masyarakat kota Mataram karena pernah menjadi Plt. Walikota Mataram selama enam bulan 2015 silam. Hanya dalam waktu singkat, ia dinilai berhasil mengubah wajah Kota Mataram. Salah satunya adalah berani menutup prostitusi di Pasar Beras sehingga Motto Religius kota Mataram dari hanya slogan menjadi fakta. Disamping itu ia juga di anggap telah menjadi Pahlawan bagi pegawai honorer di perkantoran lingkup Pemkot kota mataram karena saat menjabat sebagai Plt. Walikota Mataram ia menaikkan gaji pegawai honor. Meskipun kebenarannya masih penulis telusuri namun hal ini sering penulis dengar dari beberapa pegawai honor lingkup Pemkot Mataram.
Kedua, partai pengusung pasangan SALAM merupakan partai yang cukup teruji dan dikenal solid hingga akar. Teringat ada sebuah ungkapan dari seorang Politisi PKS “Kader PKS itu ketika diberi kepercayaan dan logistik yang cukup, maka mereka akan bergerak hingga tuntas dan mereka komitmen untuk itu”, ungkapnya. Ditambah lagi tokoh dibalik kedua partai tersebut yang masih memiliki pengaruh hingga saat ini dan tentu akan ikut serta membantu kemenangan paslon SALAM yakni Rahmat Hidayat (politisi senior PDIP/suami Hj. Selly) dan Dr. Zulkiflimansyah (Gubernur NTB/Politisi PKS). Kedua tokoh inipun tidak bisa di anggap enteng oleh Pertahana.
Namun betatapapun itu, tetap kembali kepada kesiapan Tim Kampanye masing-masing paslon. Bagaimana mereka mampu memanfaatkan kelemahan lawan mengejar peluang untuk menjadi pemenang. Waktu tersisa tidak banyak namun bagi seorang petarung sejati, dia mampu memanfaatkan peluang hingga detik-detik terkahir sekalipun. Tentu kita berharap, betapapun persaingan yang tengah berlangsung antar paslon. Akal sehat harus tetap terjaga, persatuan ditengah perbedaan pilihan politik harus tetap di rawat dengan baik. Pilkada hanya lima tahun sekali namun persaudaraan dan persahabatan selamanya akan memberi manfaat.
Selamat memilih sesuai hati nurani. Semoga kita memperoleh pemimpin yang ikhlas, amanah dan takut kepada Allah SWT..Aamiin
Wallahua’lam Bissawab
Mataram, 5 Desember 2020




