Penjelasan TGB Tentang Doa Pusaka

Penjelasan TGB Tentang Doa Pusaka

Mataram-Doa pusaka menjadi doa wajib yang kerap dilantunkan murid-murid TGKH Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW). Di madrasah NW, doa pusaka ini pun selalu dibaca. Cucu pendiri NW, TGB HM Zainul Majdi membeberkan keistimewaan doa pusaka di Ponpes Nurul Huda, Gondang, Kabupaten Lombok Utara belum lama ini.

“Patut kita bersyukur bahwa guru kita memilihkan doa terbaik. Kalau saja side semua paham, amrortu kaffan sabbahat fiihan khasol,” kata Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan ini.
“Aku usapkan telapak tangan yang di dalamnya bertasbih batu-batu. Dari tangan itu mengairi ratusan tentara hingga hilang dahaga mereka,” sambungnya.

Dijelaskan, makna aku usapkan tangan itu adalah usapan tangan Nabi Muhammad SAW pada urusan kehidupan, urusan akhirat, dzahir, dan batin. Amrortu kaffan sabbahat, mengambil keberkahan dan kemulian dari tangan Rasululloh.

“Kita usapkan dalam doa kita tangan yang mulia itu untuk kehidupan kita, untuk akhirat kita, untuk lahir kita, untuk batin kita. Itu doa yang mulia dari guru kita, Alhamdulillah,” terang TGB.
Berikut ini petikan Doa Pusaka.

رَ بَّنَا ا نْفَعْنَا ِبمَا عَلَّمْتَنَا رَبِّ عَلِّمْنَا الَّذِي يَنْفَعُنَا,
رَبِّ فَقِّهْنَا وَفَقِّهْ اَهْلَنَا وَقَرَابَات لِّنَا فِى دِيْنِنَا
مَعَ اَهْلِ الْقَطْرِ ُانْثَى وَذَكَرْ .
رَبِّ وَفِقْنَا وَوَفِقْهُمْ لِمَا ,تَرْتَضِ قَوْ لاً وَفِعْلاً كَرَمَا
وَارْزُقِ الْكُلَّ حَلاَلاً دَاءِمًا
وَاَخِلاَّ اَتْقِيَاءَ عُلَمَا نَحْظَ بِاا ْلخَيْرِ وَنُكْفَ كُلَّ شَرْ.
رَبَّنَا اَصْلِحْ لَناَ كُلَّ الشُّؤُنْ ,وَاَقِرَّ باِا لرِّضَا مِنْكَ الْعُيُوْنَ ,
وَاقْضِ عَنَّا رَبنَّاَ كُلَّ الدُّيُوْنَ ,
قَبْلَ اَنْ تاَ تِيَنَا رُسْلُ المْنَوْنَ ,
وَاغْفِرِ اسْتُرْ اَنْتَ اَكْرَمْ مَنْ سَتَرْ,رَبَنَا يَاذَالْجَلاَ لاً وَالْمِنَنْ .
اُنْشُرَنْ لِوَاءَ نهَْضَةِ الْوَطَنْ ,
وَاحْفَظَنْهَا دَاءِماً مِنَ الْفِتَنْ ,
وَاهْدِيَنْ رِجَالَهَا عَلَىَ السُّنَنْ(ثلاث مرات)
وَانْصُرَنْهُمْ فِلْعَشَا يَا وَالْبُكَرْ
.وَصَلا ةُ اللهِ تَغْشَي الْمُصْطَفَى ,مَنْ اِلَى الْحَقٍّ دَعا نَا وَالْوَفَا.
بِكِتَابٍ فِيْهِ لِلنَّاسِ شِفَا,
وَعَلَى الاَ لِ الْكِرَامِ الشَّرَفَا,وَعَلَى الصَّحْبِالْمَصَا بِيْحِ الْغُرَرْ.
اَمْرَرْتُ كَفًّا سَبَّحَتْ فِيْهَاالْحَصَا ,
وَاَرْوَ تِ الْجَيْشَ بِمَاءٍ هَا مِرِ,عَلَي مَعَا شِيْ وَمَعَا دِيْ وَعَلَى,
ذُرِّيَّتِي وَبَاطِنِيْ وَظَاهِرِيْ( ثلا ث مرات)
Terjemahan doa pusaka tersebut ialah :

Ya Allah, berilah kami manfaat apa yang Engkau ajari.

Ya Allah, ajarilah kami apa yang bermanfaat bagi kami.

Ya Allah, berilah kami serta keluarga dan kerabat kami, kefahaman dalam ilmu-ilmu agama, serta penduduk bumi pria dan wanita.

Ya Allah, dengan kemurahan-Mu, berilah taufik kepada kami dan mereka untuk melaksanakan apa-apa yang Engkau ridhai, baik ucapan maupun perbuatan.

Anugerahilah kami semua rezki yang halal selamanya, dan teman-teman setia yang taqwa dan para alim ulama, agar kami memperoleh kebaikan dan terhindar dari bencana.

Ya Allah, dengan keridhaan-Mu, perbaikilah hal ihwal dan tingkah laku kami, dan bahagiakanlah hati kami.

Ya Allah, bayar lunaskanlah semua hutang piutang kami; Sebelum Malakul Maut datang menjemput kami.

Ampunilah dosa kesalahan kami. Engkaulah Yang Maha Pengampun

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Agung dan Pemurah.

Sebarluaskanlah panji-panji Nahdlatul Wathan.

Peliharalah ia selamanya dari fitnah.

Anugerahilah pimpinan-pimpinannya hidayah untuk mengikuti sunnah. Tolonglah mereka sepanjang masa. Rahmat Allah semoga tetap menyelimuti Al-Mushthafa. Rasul yang mengajak kami kepada kebenaran dan kesetiaan, dengan berlandaskan kitab suci Al-Quran.

Yang mengandung obat penawar bagi bani insan, juga semoga rahmat Allah tetap menyelimuti semua keluarga yang mulia dan para sahabat yang bagaikan pelita bersinar terang benderang.

Kuusapkan telapak tangan junjungan alam. Telapak tangan yang bertasbih padanya batu-batuan. Dan memuaskan dahaga balatentara yang kehausan. Dengan air bening yang memancar berhamburan.

Kuusapkan telapak tangan itu. Di atas taman kehidupanku, di atas mahligai akhiratku, di atas zurriyat, keturunanku, di atas lubuk-lubuk batinku, dan di atas pilar-pilar zahirku.

Penjelasan dari TGB tentang Doa Pusaka itu tentu menjadi pengingat bagi kita semua, betapa ulama-ulama dahulu tidak sembarangan mengajarkan doa. Sebagai murid atau santri tinggal meneruskan dan mengistiqomahkan membaca doa tersebut.(msi)

Silahkan disebarluaskan. Terima kasih.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA