Pantun Renungan 11 Hati yang Lalai

Pantun Renungan 11 Hati yang Lalai

 

Ya Allah Yang membolak balikkan hati
Hati kami mohon KAU teguhkan
Agar keimanan tetap terpatri
Serta terhindar dari kelalaian

Dalam Kitab Minhajul ‘Arifin
Perubahan hati ada empat
Jangan sampai menjadi Ghofilin
Zikir kepada Allah tidak sempat

Waqfulqalbi kondisi hati keempat
Demikian kata Imam al-Ghazali
Dalam beribadah tak terasa lezat
Itulah tanda kondisi waqfulqolbi

Mautulqolbi istilah Syaikh Athoillah
Dalam al-hikamnya yang ke empat lima
Tidak sedih saat tidak beribadah
Itu tanda mautulqolbi yang pertama

Tanda mautulqolbi yang lainnya
Tidak menyesal dalam kemaksiatan
Bila kita ingin terhindar darinya
Ibadah dan zikir mutlak diperlukan

Bila berzikir hati tak konsentrasi
Bukan alasan tuk meninggalkannya
Itulah kondisi yang kadang terjadi
Terutama bagi para pemula

Berzikir pada-Nya teruslah lakukan
Meski hati susah berkonsentrasi
Kondisi berzikir yang demikian
Lebih baik dari tidak sama sekali

Waqf al-Qolbi yaitu suatu kondisi dimana hati berada dalam keadaan lalai dari Allah SWT. Indikator hati yang mati menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya *Minhajul ‘Arifin* (pada bab kedua yaitu bab al-Ahkam), yang pertama hilangnya rasa manis/kelezatan dalam beribadah; kedua, tidak adanya rasa pahit/penyesalan dalam kemaksiatan, dan; ketiga, ketidakjelasan dalam masalah halal.
Dalam al-Qur-an, dijelaskan tentang orang yang lalai, antara lain:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orangorang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS al-Kahfi: 28).

Allah SWT juga mencela orang yang lalai dalam kesehariannya, sebagaimana terdapat dalam al-Qur-an surat ar-Ruum ayat 7:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”.

Lalai merupakan penyakit hati yang berbahaya. Bila seseorang telah terjangkit dan penyakit tersebut bersemayam pada dirinya, maka ia tidak akan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, berzikir mengingat-Nya, dan beribadah kepada-Nya, akan tetapi hanya menyibukkan diri dengan berbagai hal yang sia-sia yang tidak ada manfaat buat dirinya nanti di yaumil qiyamah. Daan tentu saja orang seperti ini jauh dari zikir mengingat Allah SWT.
Jika melakukan amal saleh, maka amalan tersebut tidak dibalut dengan sifat khusyu, tunduk, kembali (taubat), rasa takut dan ikhlas. Intinya dalam beramal saleh, dia tidak merasakan kelezatan dan kenikmatan. Demikianlah pengaruh penyakit hati yang buruk ini terhadap keimanan.

Syaikh Ibnu Athoillah al-Sakandari dalam salah satu hikamnya menggambarkan kondisi orang yang hatinya mati:

“مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ القَلْبِ، عَدَمُ الحُزْنِ عَلى مَا فَاتَكَ مِنَ المُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِن وُجُود الزَّلاَّتِ.

“Di antara ciri hati yang mati tak ada kesedihan ketika ketaatan luput dikerjakan, dan tak ada penyesalan atas dosa yang sudah diperbuat. ”
Padahal sejatinya seorang mukmin seharusnya berbahagia saat dia melakukan amal saleh dan ketaatan kepada Allah dan bersedih saat dia bergelimang dengan kemaksiatan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوْ مُؤْمِنٌ

“Barangsiapa yang amal baiknya menyenangkan dirinya dan amal jeleknya menyedihkan dirinya, maka ia adalah orang mukmin”
Terkait dengan berzikir yang perlu kita fahami, sebagaimana nasihat syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari, hendaknya bila saat kita berzikir hati kita tidak bisa konesentrasi untuk ingat kepada Allah, maka hendaknya zikir tersebut tetap kita lanjutkan. Dan bukan menjadi alasan untuk kita berhenti serta meninggalkan sama sekali. Karena kondisi hati yang lalai, tidak ingat kepada Allah saat kita tidak berzikir kepada-Nya itu lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir kepada-Nya.

لا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضورِكَ مَعَ اللهِ فيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجودِ ذِكْرهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلتِكَ في وُجودِ ذِكْرِهِ. فَعَسى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ غَفْلةٍ إلى ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ، وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ غَيْبَةٍ عَمّا سِوَى المَذْكورِ، {وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ}

“Jangan tinggalkan zikir karena hatimu tidak bisa hadir bersama Allah karena kelalaianmu tanpa zikir itu lebih buruk daripada kelalaianmu dengan zikir. Bisa jadi Allah mengangkatmu dari zikir dengan kelalaian menuju zikir dengan hati terjaga, dari zikir dengan hati terjaga menuju zikir dengan hati yang bisa menghadirkan Allah, dari zikir dengan hati yang bisa menghadirkan Allah meuju zikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Allah berfirman, ‘Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit,’ (Surat Ibrahim ayat 20).”

لأن ترك الذكر فيه بعد عن الله بالقلب واللسان بخلاف الذكر فإنك إن بعدت عنه بقلبك فأنت قريب بلسانك فعليك أن تذكر الله به وإن كان قلبك غافلا حال الذكر

“Karena meninggalkan zikir itu jauh dari Allah baik hatinya maupun lisannya. Lain halnya dengan berzikir, karena meskipun hatimu jauh dari Allah, tapi lisanmu tetap dekat dengan-Nya karena itu kamu tetap harus menyebut nama Allah sekalipun hatimu lalai terhadap-Nya saat zikir” (Syaikh Abdullah bin Hijaz al-Syarqawi, *al-Minah al-Qudsiyah ‘Ala al-Hikam al-Athoiyyah*, Syarah Hikam, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, hal. 102)

Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi,* 140902020.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA