Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 10) Tingkatan dalam Kewalian

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 10) Tingkatan dalam Kewalian

Hal penting yang selalu kita ingat bahwa kewalian adalah prinsip dasar dari jalan Tasawuf. Sehingga prinsip dan landasan Tasawuf serta makrifat adalah bertumpu pada kewalian.” Wali-wali Allah (al-Awliya) adalah orang-orang suci yang telah diberkati oleh Allah Subhanahu wa ta`ala dan diangkat menjadi “Sahabat-Nya”. Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai penglihatan batin (al-Mukasyafah) yang benar.

Para Wali Allah (al-Awliya`) adalah hanyalah segelintir manusia dari seluruh lautan manusia yang ada. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil menumpuh jalan spiritual lebih tinggi dari sesama manusia yang ada. Mereka telah dipenuhi oleh cahaya Tuhan.

Dari kelompok para wali ini, terdapat tingkatan yang bermacam-macam. Dan yang paling rendah di antara mereka, sering disebut dengan istilah al-Awtad yang berarti tiang peyangga. Disebut demikian, karena merekalah sebagai tiang-tiang peyangga kesejahteraan manusia di bumi. Dengan kehadiran merekalah, maka Allah Subhanahu wa ta`ala menahan murka-Nya. Artinya Allah Subhanahu wa ta`ala tidak menjatuhkan adzab atau siksaan-Nya yang akan membinasakan manusia di muka bumi ini, lantaran adanya do`a-do`a yang panjatkan oleh para wali tersebut.

Dan ketika kita berbicara tentang tingkatan atau pangkat seorang wali, maka sering kali sesama Wali, bahkan saling memuji dan mengagumi kedudukan masing-masing. Dan bukan hal yang aneh, jika beberapa Wali menyebut seorang Wali dengan maqam yang berbeda-beda sesuai pemahaman yang mereka peroleh dari kasyafnya. Kebiasaan para Wali Allah yang saling memuji sesama Wali dan menyebut kedudukannya secara berbeda inilah yang juga menambah kesulitan bagi orang awam untuk mengetahui maqam seorang Wali. Tetapi barangkali memang harus demikian adanya, sebab Wali Allah dalam tradisi Sufi kerap disebut sebagai “pengantin Tuhan,” dan karenanya hanya Sang Pasangan dan keluarga dekat-Nya sajalah yang berhak menyingkap tabir penutup wajahnya. Dalam Hadis Qudsi dikatakan, “Sesungguhnya Wali-wali-Ku berada di bawah naungan kubah-Ku, dan hanya Aku yang mengenal mereka.” Suku kata akhir dari kata wali, yakni li dalam bahasa Arab berarti “milikku”. Wali Allah adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa ta`ala dan karenanya juga menyimpan rahasia “Perbendaharaan Tersembunyi” di dalam dirinya.

Secara umum, berdasarkan suatu keterangan, bahwa para wali itu dapat dibagi menjadi 4 (empat) tingkatan, yaitu tingkat tertinggi, tinggi, pertengahan, dan tingkat terendah. Untuk tingkat tertinggi, yaitu tingkatan para Nabi dan Rasul. Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan kemuliaan dan karunia kepada mereka berupa mukjizat yang merupakan bukti (al-Hujjah) dari-Nya untuk diperlihatkan kepada makhluk yang bernama manusia.
Sementara untuk tingkatan tinggi, yaitu tingkatan orang-orang paling dahulu masuk surga atau berbuat kebaikan (as-Saabiqun) dan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta`ala (al-Muqarrabun), yang merupakan pengikut para Rasul. Masing-masing dari mereka pun masih memiliki derajat yang berbeda-beda, seperti perbedaan derajat para Rasul dan ketinggian kedudukan mereka.
Sedangkan lagi untuk tingkat pertengahan, yaitu golongan orang-orang yang beriman dan bertakwa di antara golongan kanan (Ashhaab al-Yamin) dan golongan tengah (al-Muqtashidun). Dan untuk tingkat terendah, yaitu tingkatan orang-orang yang mempunyai keimanan dan ketakwaan yang lemah. Mereka adalah orang-orang yang berlaku zhalim terhadap diri mereka sendiri. Hal ini, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ . جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ . وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ . الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ.

Kemudian Kitab itu, Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba-Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yamnhg lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga’and, mereka masuk ke dalamnya, didalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera”. Dan mereka berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS.Faathir (35):32-35).

Dengan memerhatikan ayat-ayat yang mulia di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa Allah Subahanahu wa ta’ala telah menyebutkan tiga tingkatan manusia, yaitu orang-orang yang menzhalimi dirinya sendiri, orang-orang yang pertengahan, dan orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Secara hukum, mereka semua dimasukkan ke dalam surga yang didalamnya mereka diberi gelang-gelang dari emas dan mutiara, serta diberi pakaian yang terbuat dari sutera.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang-orang yang lemah kadar keimanan dan ketaqwaannya, mereka juga termasuk wali-wali Allah, meski mereka sempat berlaku zhalim terhadap dirinya sendiri dengan meninggalkan sebagian kewajiban atau melakukan sebagian yang diharamkan. Akan tetapi, untuk derajat mereka berada di bawah derajat golongan as-Sabiqun (orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan). Derajat mereka juga berada di bawah derajat golongan al-Muqtashidun (golongan pertengahan). Kedudukan derajat mereka adalah paling bawah, karena lemahnya keimanan dan ketakwaan mereka.

Selain itu, perlu diperhatikan di sini bahwa orang-orang yang menduduki berbagai tingkatan yang berbeda ini, jumlah mereka tidaklah sama. Kelompok tingkat tertinggi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kelompok tingkat tinggi. Kelompok tingkat tinggi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kelompok tingkat menengah. Kelompok tingkat menengah jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kelompok tingkat rendah. Ini adalah persoalan yang sudah jelas dan tidak membutuhkan banyak penjelasan.

Dalam pandangan sufi, bahwa tingkatan para wali Allah itu terbagi dalam empat tingkatan. Dari empat tingkatan yang dimaksud, masing-masing memiliki istilah tersendiri, yaitu al-Awtad, al-Abdal, an-Nujaba dan an-Nuqaba`.

Adapun untuk Wali al-Awtad ini, seorang ulama bernama Syaikh al-Kassany menjelaskan dalam kitabnya, Istilahat al-Shufiyyah, dengan mengatakan bahwa Wali Autad itu adalah empat orang laki-laki yang berada pada empat penjuru dunia (Timur, Barat, Utara dan Selatan). Dan menurutnya, untuk ke empat orang wali dalam tingkatan ini, mereka memeiliki tugas khusus untuk menjaga dan memelihara empat arah penjuru dunia tersebut, karena dari sanalah Allah Subhanahu wa ta`ala melihat aktivitas hamba-hamba-Nya.

Dalam konteks inipun, Ibn Umar radhiallaahu `anhu meriwayatkan dalam sebuah hadits Nabi shallalaahu`alaihi wa sallam; ”Sesungguhnya Allah menolakkan bencana, karena kehadiran muslim yang shalih-dari seratus keluarga tetangganya”. Kemudian ia membaca firman Allah Subhanahu wa ta`ala, “Sekirannya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lainnya, maka sudah hancurlah bumi.” (QS: al-Baqarah (2): 251).

Disamping itu juga, bahwa untuk empat Wali Al-`Awtad yang telah disebutkan diatas, masing-masing menguasai empat penjuru angin, yang di lihat dari Ka`bah. Dan keberadaan sebagian dari mereka adalah perempuan serta memiliki masing-masing gelar tersendiri, yakni: Abdul Hayyi, Abdul ‘Alim, Abdul Qadir, dan Abdul Murid. Menurut Ibnu ‘Arabi, Al-`Awtad primordial dipegang oleh empat Nabi, yakni Idris, Isa, Ilyas dan Khidir `alahihimussalam. Salah satu dari keempat nabi ini adalah Quthb. Salah satunya adalah tiang dari Rumah Agama, yang berhubungan hajar aswad di Ka`bah dan dua lainnya adalah Imam. Keempatnya bergabung menjadi pilar-pilar (al-`Awtad) dunia. Melalui merekalah Allah Subhanahu wa ta`ala melindungi dan memelihara kewalian, kenabian dan risalah wahyu, serta kemurnian agama (al-Din). Hal yang menarik di sini adalah keempat nabi itu diyakini masih hidup, dalam arti belum meninggal secara fisik. Nabi Idris dan Nabi Isa diangkat oleh Allah Subhanahu wa ta`ala ke surga, sedangkan Ilyas dan Khidir masih berada di bumi, tetapi tersembunyi dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.

 

Nabi Idris berada di posisi tengah tujuh planet dan menempati maqam Kutb al-Dunia. Dan beserta dua Imam adalah Nabi Isa dan Nabi Ilyas. Untuk nabi Khidir adalah `awtad keempat yang berkaitan dengan Ka`bah.

Sedangkan untuk wali al-Abdal yang berasal dari kata mufrad badal adalah para wali yang berfungsi memelihara kesetabilan dan ketertiban alam semesta ini, seperti tertibnya langit dan bumi. Dan hal ini, tercermin dengan keterikatan badal pertama dengan langit ke tujuh oleh Nabi Ibrahim `alaihissalaam, badal kedua dengan langit keenam oleh Nabi Musa `alaihissalaam, badal ketiga dengan langit kelima oleh Nabi Harun `alaihissalaam, badal keempat dengan langit keempat oleh Nabi Idris `alaihissalaam, badal kelima dengan langit ketiga oleh Nabi Yusuf `alaihissalaam, dan badal keenam dengan langit kedua oleh Nabi Isa `alaihissalaam serta badal ke tujuh dengan langit pertama oleh Nabi Adam `alaihissalaam.

Dengan demikian, untuk tingkatan Wali al-Abdal, memiliki wilayah tersendiri. Masing-masing Wali mengikuti jejak salah satu dari tujuh nabi, yaitu Nabi Ibrahim, Musa, Harun, Idris, Yusuf, Isa, dan Adam `alahimussalam. Mereka dinamakan al-Abdal, karena jika salah satu dari mereka sudah tidak ada, maka akan ada penggantinya. Menurut Abu Thalib Al-Makki, mereka mencapai kedudukan ini dengan empat hal, yaitu puasa (al-Shaum), bangun malam (Qiam al-Lail), diam (al-Sukut) dan menjauhkan diri keramaian (al-`Udzlah). Dan mereka umumnya tersembunyi dari orang awam dan Wali lainnya. Ketika keberadaan mereka di suatu tempat dan diketahui oleh orang lain, biasanya mereka akan pergi dari tempat itu.

Sedangkan untuk wali Allah dalam tingkatan an-Nujaba terdiri dari 40 (empat puluh) orang yang bertugas memelihara dan mengakomodir segala kepentingan manusia, kemudian disampaikan kepada Allah subhanahu wa ta`ala.
Dan untuk wali Allah dalam tingkatan an-Nuqaba` adalah wali yang berjumlah 300 (tiga ratus) orang yang mempunyai tugas khusus untuk menjaga dan memeriksa bathin manusia, lalu mengeluarkannya segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Dan dua belas Wali Nuqaba mengetahui khasiat dari 12 (dua belas) zodiak. Wali Nuqaba ini juga memiliki kemampuan melihat setan atau iblis yang bersembunyi dalam jiwa manusia beserta tipu daya mereka—bahkan dijelaskan, ketika mereka melihat jejak kaki seseorang di pasir, mereka langsung tahu apakah orang itu adalah orang yang terpilih (selamat) atau orang yang terkutuk.”
Lebih mendetail lagi dalam pandangan Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu `Arabi dalam kitabnya, “al-Futuhat al-Makkiyyah. Beliau membuat pembagian tingkatan wali Allah dan kedudukannya mereka masing-masing. Dan jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Dalam hal ini, setidaknya ada terdapat 9 (sembilan) tingkatan wali yang secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts

Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts merupakan tingkatan Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan selanjutnya.

2. Wali Aimmah

Wali Aimmah merupakan pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub, jika wafat. Jumlahnya hanya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam Malaikat.

3. Wali Autad

Wali Autad memiliki jumlah empat orang. Mereka berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Ka`bah. Dan kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

4. Wali Abdal

Waki Abdal memiliki arti wali pengganti. Dinamakan demikian, karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab, al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus al-Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.

5. Wali Nuqobaa

Untuk wali Nuqabaa memiliki jumlah sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah Subhanahu wa ta`ala memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujabaa

Untuk wali Nujabaa ini jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun

Kata hawari, berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah Subhanahu wa ta`ala, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad Shalallaahu `alaihi wa sallam sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun

Dinamakan wali Rajabiyyun, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

Berbagai rahasia kebesaran Allah Subhanahu wa ta`ala tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah tiga hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan, lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam

Kata Khatam memiliki arti penutup. Dan jumlah wali Khatam ini, hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam ini bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat Nabi Muhammd shalallaahu `alaihi wa sallam.
Selanjutnya, dalam ajaran Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi bahwa dari sejumlah tingkatan para wali, maka Wali yang tertinggi dinamakan Quthb (Kutub) atau Poros Alam. Ia kadang juga dinamakan Ghauts (Penolong) atau Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali). Tetapi sebagian membedakan antara Sulthan Al-Awliya dengan Quthb. Menurut pandangan ini, semua Sulthan Al-Awliya adalah Qutb, tetapi tidak semua Qutb adalah Sulthan Al-Awliya. Kadang dinamakan Qutb Al-Aqtab, atau Kutubnya Kutub. Kadang-kadang dikatakan Qutb memiliki dua wakil, yakni dinamakan Wali Aimmah. Salah satu Wali Aimah, yakni “Imam Kanan” hanya mengetahui alam malakut (alam kekuasaan, alam gaib), dan yang satunya, “Imam Kiri” hanya mengetahui alam mulk (alam kerajaan, alam dunia jasmani).
Untuk Wali Quthb adalah pusat daya-daya spiritual. Ia mengumpulkan semua maqam. Dan keberadaannya adalah Quthb semesta lahiriah maupun semesta batiniah, yang semuanya berputar di sekelilingnya, seperti Ka`bah yang menjadi sumbu perputaran dalam thawaf. Kadang-kadang Wali Quthb diberi kekuasaan eksternal (politik) atas seluruh umat. Empat khalifah pertama pasca Nabi adalah Wali Quthb, yang memiliki kekuasaan politik. Tetapi kebanyakan Wali Quthb adalah penguasa ruhani, dan tidak memiliki kekuasaan politik. Abu Yazid Al-Bisthami dan Maulana Rumi adalah contoh dari jenis Wali ini. Mayoritas Wali Quthb tidak memiliki kekuasaan eksternal.
Dalam setiap zaman hanya ada satu Wali Quthb, di mana semua Wali berputar di sekelilingnya. Dan pandangan ini hampir disepakati, seperti dijelaskan oleh Hakim Al-Tirmidhi, Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi dan Al-Hujwiri. Meski sudah menjadi kesepakatan hanya ada satu Quthb di setiap zaman, namun dalam kenyataan sejarah kita kerap menjumpai kabar bahwa ada lebih dari satu Syekh Sufi yang hidup dalam kurun waktu yang sama, atau berdekatan, tetapi dianggap sebagai Quthb. Juga dalam setiap tarekat, sering kali muncul klaim bahwa pendiri tarekat, yang sama-sama hidup dalam kurun waktu yang relatif sama, atau beberapa mursyid penerusnya menempati kedudukan atau Maqam Quthb. Bahkan di masa sekarang pun terdapat beberapa kabar ada Wali Quthb lebih dari satu yang berada di beberapa tempat.

Barangkali Quthb yang dimaksud juga adalah seperti yang disinggung oleh Syaikh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi, yakni Quthb untuk maqam spiritual tertentu. Karenanya, dalam maqam tawakal, misalnya, terdapat satu Quthb, tempat manifestasi tertinggi dari maqam spiritual tertentu pada zamannya. Ibnu ‘Arabi sendiri, misalnya, dikenal sebagai Sulthan Al-’Arifin (Quthb atau Rajanya Orang Berpengetahuan), sedangkan Maulana Rumi adalah Sulthan Al-Muhibbin (Quthb atau Rajanya Para Pencinta). Atau, persoalannya adalah pada “zaman”. Quthb hanya satu untuk setiap masa, tetapi persoalannya adalah “masa” atau zaman yang mana?. Jika sudah bicara dunia spiritual, waktu adalah relatif, non linier dan ada banyak alam selain alam dunia ini, yang berarti juga ada banyak masa atau zaman. Bagaimanapun, ini akan tetap menjadi misteri, dan kita orang awam hanya bisa berspekulasi berdasarkan keterangan-keterangan.

Kebanyakan Wali Quthb tersembunyi, atau hanya dikenal oleh wali tertentu saja dan hanya sebagian kecil Quthb atau Sulthan Al-Awliya yang masyhur dan dikenal banyak orang awam. Dan kadang-kadang Wali Quthb baru dikenal banyak orang setelah dia meninggal dunia. dan kadang-kadang juga Wali Quthb terang-terangan menyatakan diri sebagai Quthb kepada murid tertentu, atau “terketahui” sebagai Quthb oleh murid tertentu. Misalnya, Kyai Kholil dari Bangkalan, Madura, pernah mengaku secara terus-terang kepada Kyai Ridwan, bahwa dirinya adalah Wali Quthb, namun ia berpesan agar kedudukan ini tidak disebarluaskan ke khalayak umum sebelum dirinya meninggal.

Hal yang sama juga terjadi dalam kasus Kyai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo. Dalam kasus ini kedudukannya “ketahuan” oleh salah seorang muridnya (Kyai Mujib), setelah sang murid bertemu dengan seorang Wali di Makkah yang menyuruhnya membacakan ayat tertentu (Surah An-Nisa (4): 41) kepada Kyai As’ad. Ayat ini membuat Kyai menangis selama hampir sejam dan bahkan ketika selesai menangis masih juga terisak-isak, sebagaimana layaknya anak kecil. Hal ini, terbukanya kedudukan sesungguhnya yang dimiliki oleh Kyai As’ad sebagai seorang Wali Quthb. Tetapi beliau juga berpesan agar rahasia ini tidak diungkapkan sebelum dirinya meninggal.

Wali Quthb juga terkadang disetarakan dengan kaum Afrad, yakni orang-orang yang menyendiri, yang dikuasai oleh Asma Al-Fard, Yang Maha unik. Kedudukan spiritual kaum Afrad ini tidak diketahui, dan karenanya mereka sering disalahpahami. Mereka menerima pengetahuan dari Allah yang hanya dikhususkan untuk mereka sendiri, tidak untuk orang lain. Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib karramallaahu wajhahu, misalnya, menyatakan bahwa dirinya punya pengetahuan khusus di dadanya, tetapi ia tidak bisa menemukan satu orang pun yang mampu menerima ilmu itu. Bahkan, jika ilmu itu diungkap sembarangan, akan menyebabkan “lehernya dipenggal” karena akan dituduh kafir. Afrad pada awal-awal zaman Islam, selain Ali adalah Ibnu Abbas, Umar Ibnu Khattab dan Imam Ibnu Hanbal. Sedangkan afrad di antara tokoh Tasawuf termasyhur adalah Sulthanul Aulia al-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, al-Syaikh Abu Su’ud Ibnu Al-Shibli dan al-Syaikh Muhammad Ibnu Qa’id Al-Awani.

Kebanyakan Wali afrad telah dimasukkan ke “Tenda Misteri” (Suradiqat al-Ghayb) dan tersembunyi di balik perilaku biasa mereka.

Untuk sebagian wali Afrad, ketika hadir di tengah orang, tidak diperhatikan dan ketika mereka pergi pun tidak ada yang memperhatikannya. Karomah mereka juga tak kelihatan. Afrad adalah tingkat tertinggi dalam kelompok Wali yang dinamakan Malamatiyyah, yakni orang yang “mencela diri sendiri”. Kelompok ini tidak menyembunyikan kejelekan mereka, tetapi juga tidak menampakkan kebaikan mereka, demi menjaga keikhlasan ubudiyyahnya. Rumusan do`a mereka yang terus-menerus dibaca adalah kalimat al-Hawqalah, yakni; La hawla wala quwwata illa billahi, “Tiada daya dan kekuatan, kecuali melalui Allah.” Sebagai sebuah gerakan, malamatiyyah didirikan oleh seseorang sufi yang bernama, al-Syaikh Hamdun Al-Qashar dari Naisyapur, Khurasan.

Dan sebagian afrad lainnya, mereka amat terkenal, seperti al-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, karena diwajibkan oleh Allah untuk mengenakan atribut kepemimpinan dan memainkan peran pengaturan (al-Tadbir). Wali afrad, sebagaimana Wali-wali lain, juga dikenal do`anya yang amat manjur. Ada kisah menarik dalam soal ini, yakni al-Syaikh Abu Abdallah Al-Sharafi yang dianggap afrad oleh al-Syaikh Ibnu ‘Arabi, sering menghilang setiap musim haji, karena dia secara ajaib dipindahkan ke Makkah al-Mukarromah. Jika orang-orang mengetahui keberadaannya, orang-orang itu akan mendekatinya, lalu mengeraskan bacaan do`anya agar diamini oleh al-Syaikh itu.

Wali-wali di bawah Quthb, seperti Autad, Abdal Nujaba, Nuqaba, dan sebagainya mempunyai fungsi tertentu dalam tata keseimbangan kosmos. Sebagian keadaan Wali yang tidak semua tampak (Rijaal al-Ghaib) adalah ganjil dan muncul dalam batas atau wilayah tertentu. Ada Wali yang gampang iba, yakni Wali Awwahun, yang mengikuti teladan Nabi Ibrahim `alaihissalam. Juga ada Wali yang tinggal di gunung-gunung, atau di dalam air, yakni Wali dari golongan Rijal al-ma’, orang yang beribadah di dasar laut dan sungai. Wali jenis ini pernah ditemui oleh Sufi al-Syaikh Abu Su’ud Ibnu Sybli. Wallaahu `alam

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA