Sinar5news.com – Lombok Timur – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia(HKTI) Jenderal (Pur) Dr. Moeldoko menghadiri acara realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BNI 46 untuk wilayah Nusa Tenggara Barat(NTB). Senilai Rp.1 Trilun. Bertempat Di Bagik Papan,Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Selasa (07/07/2020).
Dalam kata sambutannya Muldoko mengatakan pemerintah selalu mendorong agar KUR dapat dioperasionalkan sebanyak-banyaknya oleh mayarakat, tetapi upaya tersebut tidak mudah karena ada persoalan-persoalan administrasi yang harus dipenuhi oleh para petani dan peternak.
“Untuk itulah pada hari ini,program KUR akan direalisasikan kepada para petani dengan menggunakan skema yang sangat baik. Yang satu memberikan kemudahan kepada petani dan yang kedua memberikan keyakinan kepada pihak perbankan yang akan menyalurkan dan yang ketiga akan memberikan akses kepada Menteri Pertanian untuk dapat menyalurkan dengan segera,” Ungkap Muldoko.

Ia juga menambahkan melalui HKTI itu tidak hanya memberikan kemudahan terhadap akses permodalan, tetapi juga akan menjamin para pembeli (Of Taker) akan mengakomodir atau membeli hasil-hasil pertanian dan peternakan para petani tersebut, dan disamping itu juga akan ada yang menjadi penjamin, yakni dari Jasindo(Jasa Asuransi Indonesia), jika terjadi kegagalan dalam panen.
“Saya kira ini adalah metode yang sangat baik,karena dengan pola ini semua bisa saling membantu,saling bekerjasama, saling percaya dan saling menguntungkan,” Imbuhnya.
Menurut Muldoko ada lima persoalan petani dan dunia pertanian dinegara kita ini, yakni yang perama adalah persoalan lahan, karena lahan pertanian di Indonesia, semakin hari semakin sempit, sesuai dengan data BPS kita kekurangan lahan baku berupa sawah yang selalu menyusut 120.000 hektar pertahun.
Persoalan yang kedua adalah persoalan modal yang selalu menjadi kendala dari para petani jika ingin bercocok tanam, biasanya petani kita akan mencari utang untuk membiayai pertaniannya. Sehingga setelah panen selesai maka hasilnya hanya bisa dipakai untuk membanyar hutang.
Yang ketiga persoalan petani kita menurut Muldoko adalah persoalan tehnologi,kita ingin petani kita akan mengikuti perkembangan tehnologi,sehingga hasil petani jadi meningkat.
“Dikampung saya di Jawa Timur,Petani bisa menghasilkan 12 ton perhektar, saya Tanya kenapa hasilnya cukup banyak, ternyata mereka memadatkan jumlah tanamannya, yang semula benihnya 18 kg mereka tambah jadi 25 kg. tanaman jadi tambah padat sehingga hasilnya tambah banyak, ini yang kita harapkan disini, tehnologi seperti itu,apalagi tanah disini masih subur, bisa saja jadi 14 ton perhektar,” Harapnya.
Persoalan yang keempat soal managemen, dimana petani tidak terbiasa berhitung, untuk itu kita berharap mulai sekarang Bapak petani harus bisa menghitung. Petani harus bisa menghitung berapa biaya taninya dalam satu hektar, dan berapa hasil yang didapatkan dari hasil pertaniannya itu.
“Petani harus bisa managemen tani, untuk menjadi bahan evaluasi dari tahun ketahun, seperti mengevaluasi hasil pada tahun lalu dan tahun ini,sehingga petani tahu diaman letak kelebihan dan kekurangannya,dan dengan managemen itu,petani dapat menerapkan biaya yang efisien dengan hasil yang sebanyak-banyaknya,” Terangnya.
Sedang persoalan yang kelima adalah persoalan pada saat pasca panen, dimana saat musim panen tiba, biasanya harga hasil pertanian akan turun karena produksi sedang melimpah, dan saat itu petani harus punya strategi untuk bisa panen dengan kwalitas yang baik agar hasil dapat dijual. Karena barang yang berkwalitas pasti laku.
“Misalnya pada jagung, itu jagung kalau cara pemipilannya salah, maka harganya akan turun, karena mudah dimasuki bakteri. Tetapi kalau cara pemipilannya baik maka harganya akan tetap bagus meskipun jagung melimpah,” Pungkasnya.(Bul)



