Allah menyeru hambanya yang beriman untuk berpuasa dengan huruf nida’ “ياايهالذين ” kalimat yaa disebutkan 361 kali dalam Al-Qur’an menunjuk panggilan, bisa panggilan dekat menengah dan jauh (nidaul qorib, nidaul mutawassit wal bai’d). Sedangkan kata “ايها” (Ayunya), berfungsi menguatkan pesan haknya mengingatkan. Dalam panggilan tersebut mencakup semua tanpa terkecuali, laki-laki, perempuan, besar ataupun kecil supaya mendekat kepada Allah melalui ibadah puasa.
Puasa Ramadhan adalah ibadah dahsyat yang bisa membuat orang menjadi lebih baik. Orang yang tidak mau ibadah, disaat Ramadhan menjadi mau beribadah. Seolah Ramadhan memiliki sebuah daya tarik untuk memaksa seseorang melakukan kebaikan.
Puasa Ramadhan juga merupakan salah satu wujud cinta Allah terhadap hambanya yang beriman. Karena Allah menginginkan kebaikan untuk hambanya, maka dia perintahkan mereka orang yang beriman untuk berpuasa, supaya menjadi hamba yang bertaqwa.
Dengan menjadi hamba yang bertaqwa, orang mukmin akan menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Taqwa juga merupakan salah satu jalan untuk memperoleh segala bentuk kebaikan dari Allah SWT.
Disamping puasa Ramadhan menjadikan orang beriman menjadi bertaqwa, puasa Ramadhan juga memaksa orang untuk melakukan kebaikan. Terkadang diantara kita, jika tidak sedang puasa, jangankan shalat sunnah, shalat fardhu pun kadang terlambat dan kesannya biasa saja. Boleh kita lihat saat puasa Ramadhan, jangankan shalat fardhu, ketinggalan shalat sunnah saja sudah gelisah. Lihat awal pertama Ramadan, para ibu sudah mulai rebutan tempat shalat tarawih, itu bukan ngejar shalat fardhu, tapi mengejar shalat tarawih yang merupakan shalat sunnah.
Diluar Ramadhan, ada yang minta belum tentu diberi, tapi saat puasa, yang nyumbang malah bertanya berapa fakirnya, berapa miskinnya, berapa yatimnya. Inilah diantara kedahsyatan Ramadhan.
Ramadhan bisa membuat seseorang itu mengakumulasikan semua potensi ibadah yang bisa dilakukan. Orang yang enggak pernah ke Masjid, diawal Ramadhan bisa hadir di Masjid, walaupun rajinnya tidak sampai akhir Ramadhan. Bisa datang ke Masjid sudah merupakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan yang tidak pernah tadarus, saat Ramadhan bisa tadarus.
Serius beramal pada bulan suci Ramadan akan bisa mengikis potensi-potensi maksiat, bahkan ditekan dan dihilangkan. Saat Ramadan, seorang yang pemarah sekalipun, itu bisa libur marahnya. Ada seorang pemarah dicaci maki oleh isterinya, tetapi dia enggak membalas cacian tersebut, dia diam saja. Istrinya heran dan bertanya “Kok enggak balas pak ?”. Jawab sang suami, entar habis magrib. Bahkan, korupsi bisa libur, karena takut batal puasanya. Inilah diantara dahsyatnya Ramadhan dalam membentuk ketaqwaan personal.
Muhammad Fathi




