-HIKMAH PAGI- PHILO SHOPIA “KERAJAAN ACEH”

-HIKMAH PAGI- PHILO SHOPIA “KERAJAAN ACEH”

Pada awal abad ke-16 Aceh adalah daerah kekuasaan pedir. Akibat jatuhnya kekuasaan Malaka ke tangan Portugis, perkembangan Aceh dari kota pelabuhan semakin cepat karena perdangan-perdagangan islam pada umumnya memilih aceh sebagai tempat berdagang, ketika diperintah oleh Sultan Ali Mughayat Syah, Aceh memisahkan diri dari Pedir pada tahun 1520.

Sejak itu aceh berkembang sebagai kerajaan islam yang mempunyai peranan penting dalam perdagangan karena letaknya yang sangat strategis di jalur perdagangan. Dengan demikian aceh, menjadi saingan bagi portugis di malaka maupun kerajaan lain di sekitarnya. Puncak kejayaan aceh terjadi ketika diperintah oleh Sultan Iskandar Muda yang memerintah dari tahun 1607 sampai tahun 1636 wilayahnya sangat luas sampai ke semenanjung Malaya.

Pada masa pemerintahannya, agama islam berkembang pesat. Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris. Pada akhir abad ke-18, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris. Tahun 1871, Belanda mulai mengancam Aceh, dan pada 26 Maret 1873, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh.

Dengan politik barunya atas nasehat Snouck Hurgronje, pemerintah Hindia Belanda mengubah politiknya dengan cara memisahkan kesatuan kekuatan antara kaum bangsawan dengan kaum ulama Aceh sehingga satu persatu pemimpin pasukan Aceh jatuh ke tangan militer Belanda.

14 November 2020
Hipzon Putra Azma

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA