Demikian juga, soal manusia. Dimana, para ahli filsafat memahami manusia dengan sebutan animal rasional (binatang yang berpikir), animal educandum dan animal educable, (makhluk yang harus di didik dan dapat di didik), animal symbolicum, (makhluk yang bersimbol), homo laguen (makhluk yang pandai menciptakan Bahasa), homo sapiens (makhluk yang mempunyai budi), homo faber (makhluk yang pandai membuat alat-alat) homo ekonomicus (makhluk yang tunduk pada prinsi-prinsip ekonomi), homo relegius (makhluk yang beragama) dan makhluk yang pandai bersiasat (zoon politicon).
Terkait dengan hakikat manusia, M. Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur`an mengutip pendapat Dr. Alexis Carrel dalam bukunya yang berjudul Man the Unknown yang menyatakan bahwa dalam menjelaskan tentang bagaimana mengetahui tentang hakikat manusia sangat merasakan kesukaran. Satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik tentang siapa manusia adalah merujuk kepada wahyu Ilahi, agar dapat menemukan jawabannya.
Dalam al-Qur`an, Allah SWT menyebut manusia dengan tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia, yaitu: basyar, insan dan an-nas. Ketiga istilah tersebut mengisyaratkan hakikat manusia sebagai ciptaan Allah Swt yang berperan sebagai makhluk sosiologis (nas), makhluk psikologis (insan), dan makhluk biologis-teologis (basyar).
Konsep basyar dan insan merupakan konsep Islam tentang manusia sebagai individu. Sedangkan dalam hubungan sosial, Al-Qur’an memberi istilah an-nas untuk menunjuk kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur material (basyar) dan unsur rohani.
Dari segi hubungannya dengan Allah, maka kedudukan manusia adalah sebagai hamba dan makhluk terbaik (khalifah).
Kata basyar disebut dalam Al-Qur’an 27 kali. Kata basyar menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk biologis (QS Ali ‘Imran [3]:47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.



